Pak Polisi Harus Lebih Literat - Analisis - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Jumat, 5 Agustus 2022 07:33 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Pak Polisi Harus Lebih Literat

    Di balik kematian brigadir J dan baku tembah antarpolisi, Pak Polisi harus lebih literat

    Dibaca : 347 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Buntut kematian Brigadir Yoshua begitu menghebihkan. Belum tahu apa ujungnya dan siapa dalangnya? Berbagai spekulasi pun muncul di publik. Ada dugaan pembunuhan berencana, secara bersama-sama hingga motif iri di balik tembak-menembak antarpolisi di rumah dinas polisi.

     

    Pak Polisi, harus lebih literat.

    Bahwa mati itu pasti terjadi pada setiap manusia. Tapi memaksa untuk "mematikan" manusia itu perbuatan jahat. Seperti institusi Polri yang diporak-poranda oleh segelintir oknum. Akibat baku tembak antarpolisi di rumah polisi. Entah, kebencian dan amarah apa yang merasuki mereka? Hingga kehilangan akal sehat, bahkan hati nurani.

     

    Ambisi, obsesi, dan apalah namanya. Kok bisa-bisanya oknum polisi itu menjatuhkan institusinya sendiri. Belum lagi soal "persekongkolan jahat" yang di-create sendiri. Untuk mengelabui orang banyak. Hingga kesulitan sendiri menemukan akhir cerita. Pak Polisi dan manusia lainnya kadang lupa, tanpa dibuat pun. Tuhan sudah mengizinkan badai melintas di tiap anak manusia. Lalu, kenapa harus mematikan?

     

    Faktanya hari ini, kematian seorang brigadir harus dibayar dengan mutasi 25 oknum polisi, 3 diantaranya jenderal (baca: https://news.detik.com/berita/d-6217144/daftar-mutasi-besar-besaran-polri-buntut-kasus-brigadir-yoshua). Harga yang terlalu "mahal" harus dibayar Polri dari persekongkolan jahat oknumnya. Apa sih yang di-mau? Maka sungguh, siapa pun yang bersekongkol untuk jahat, suatu hari nanti pasti akan terkena tumbalnya sendiri.

     

    Kasus kematian Brigadir J ini membuktikan. Pentingnya budaya literasi di kalangan Pak Polisi. Agar polisi di Indonesia menjadi manusia yang literat. Polisi yang tidak cukup mampu memunculkan dendam. Tanpa bisa memaafkan. Pak Polisi yang tidak terbuai oleh jabatan, pangkat atau apa pun yang sifatnya sementara di dunia ini.

     

    Pak Polisi hanya butuh lebih literat. Agar mampu memahami realitas dalam hidup. Agar mampu mennggalkan benci, dendam, atau ambisi atas alasan apa pun. Pak Polisi yang literat sangat dibutuhkan bangsa ini. Agar seimbang akal sehat dan hati nurani. Karena sejatinya, hidup itu hanya butuh keseimbangan, bukan lainnya. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka

     

    Ikuti tulisan menarik Syarifudin lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.