Bening Merunggai Sembilu Bosok - Analisis - www.indonesiana.id
x

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Jumat, 5 Agustus 2022 07:36 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Bening Merunggai Sembilu Bosok

    Ini hanyalah upaya paling sederhana menjangkau ketidakberjelasan sebagai suatu serat relatif untuk ketidakpastian dari subjektif dan objektif. Begitu pula jejak sejarah sebagai bagan gramatika tentang zona netral sebagai pembacaan yang kontemplatif.

    Dibaca : 406 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pada malam menjelang buta, ilusi rotan melata harapan. Ada jaringan urat-urat seringkali mengotot, bahkan melenggang, bagai putik sari di dalam otak yang bersin-bersin. Tetapi rintik telah menyapa lorong panjang yang gelap sebelum menciptakan menit-menit pesona yang diteduhkan. Mengenang patung-patung saat membidik kekal bukanlah pilihan satu-satunya, bahwa tentang adanya sebuah kota di wilayah timur berkeliaran lesu patah dalam kisah-kisah urban legends.

    Sementara suram rahasia 1677 lenguh baku tubruk hingga tukar desain memuat kekacaun.

    Selaku seserahan diagram dalam esensi numerik, yang sistematik terkadang menjadi rangkaian daur ulang. Namun bagaimana dengan yang tersisih atau memilih lumbung yang sepi? Saya memikirkan hal ini dalam lima tahun yang berlalu dengan puncaknya di masa pandemi, complex post-traumatic stress disorder? Bagaimana mungkin kita telah begitu lama sanggup menikmati yang bosok sebagai sensasi akan tentram/pacification?

    Timbunan dan tercecer merangkak meminta rebah kepada pemilik tanah-tanah yang makmur, para pelarian/pengungsi hanya merindukan damainya suatu tempat yang tidak pernah dimiliki. Tidakkah hati terketuk untuk menatap anak-anak yang terlahir di dunia tanpa meminta, lalu mendapati dunia yang dilihatnya sebagai ruang sudden damage/catastrophe? Bahkan, sebelum semangat benar-benar memahami kelumit kepiluan/emotions jalan hidup.

    Pernahkah haru melaru dengan hati-hati sebagai diri?

     

    Behind us Sinai’s awful form,

    With fiery smoke beclouded,

    Lies wrapt in solitude and storm

    And mists of darkness shrouded;

    While far aloof a trumpet sound,

    As from creation’s outmost bound,

    Grows faint and fainter ever.

    [Edward Henry]

     

    Patung-patung mungkin menjadi cara paling artistik dalam menawarkan kisah-kisah struktural yang demikian pelik tentang anatomi sebelum mencatat peringatan dengan lensa konvergen. Terlepas dari kebusukan dan kadaluwarsa, bahwa yang futurisme tetaplah khatam di dalam kerangka realisme. Ini hanyalah upaya paling sederhana menjangkau ketidakberjelasan sebagai suatu serat relatif untuk ketidakpastian dari subjektif dan objektif. Begitu pula jejak sejarah sebagai bagan gramatika tentang zona netral sebagai pembacaan yang kontemplatif.

    "It is of course easier to let a schematic concept take the place of a view of full life; we can easily judge schematically with schematic concepts. We live, however, through such a process in empty abstractions. Human concepts become such abstractions when we believe we can treat them in our intellect the way things [in the world] interact with each other. But concepts are much more like images or pictures that we take of a thing from different sides." [Rudolf Steiner]

     

    Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.