Ini Tubuhku Tapi Bukan Milikku - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Penampilan perempuan kerap kali mendatangkan setan seksis

Miri pariyas

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 13 November 2021

Sabtu, 6 Agustus 2022 08:55 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Ini Tubuhku Tapi Bukan Milikku

    Budaya ibarat dua mata pada sebuah koin, kadang mendatangkan baik, kadang sebaliknya. Masih saja ada tradisi menikahkan anak perempuan di usia muda, hanya karena takut cap sosial sebagai perawan tua.

    Dibaca : 670 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Suara musik merebak ke penjuru desa, tiap dusun membangun guade, semua berujar bulannya bulan kawin. Para ahli primbon Jawa mengatakan ini bulan yang bagus untuk menyatukan dua insan dalam satu tali suci yang bernama perkawinan.

    Perempuan sunyi

    Undangan perkawinan silih berganti datang tanpa diundang. Tak tahulah mereka, buat uang makin menipis, belum lagi kebutuhan makin hari makin mahal. Kewajiban datang tetaplah ada, katanya hutang kalau tidak datang, apalagi tak bawa apa-apa. Katanya juga pamali, apalagi orang yang belum nikah, katanya datang saja agar segera dapat jodoh. Bahkan, kata orang dulu disuruh curi bunga melati milik pengantin, tujuannya juga sama “segera”.

    Hampir setiap hari juga harus bantu tetangga, memeriahkan pesta perkawinan itu. Kalau desa memang tak butuh event organizer seperti di kota. Petugasnya adalah tetangganya, pokok buat pesta “kami siap membantu”, itulah motto mereka . Tentu, orang desa terkenal gotong royong yang kental sekali. Tak kenal capek mereka tetap membantu, membagi tugas antara kerja buat cari makan ataupun hal domestik.

    Tentu budaya itu sangat baik, tradisi yang dipegang teguh tuk diajarkan patutlah dilakukan terus menerus. Akan tetapi, bagaimana dengan perempuan? Maksudnya? “Iya,” semua hiruk piruk tentang perempuan, utamanya soal perkawinan. Perempuan muda haruslah cepat memilih seseorang, agar tak dibilang perawan tua. Di desaku perempuan yang sudah masuk usia 20 tahun, kalau tak buru-buru kawin, kupingnya harus tebal ocehan tetangga.

    “Itu, loh, Sinta umurnya lebih tua daripada kamu, kapan kamu menikah?” kata tetangga di samping rumah. Dugaanku tak pernah meleset. Memang nasehat itu bagai alarm, apalagi musim kawin, alarm itu makin kencang saja berdering. Binggung, tatkala menjawabnya dan aku hanya menjawab dengan senyum saja. Langsungku pamit ke rumah tuk menghindari pertanyaan lanjutan dari dia.

    Ketika di rumah, aku melihat ibu, dengan tugas ibu rumah tangga pada umumnya yang kerjanya menata seisi rumah dengan model yang kadang tiap dua bulannya silih berganti, menyapu halaman, menata taman karena dia adalah pencinta bunga-bungaan. Rumah pun menjadi cantik dengan khas ibu-ibu. Walupun aku juga suka dengan bunga-bungaan, ketika aku punya model yang lebih unik selalu dimentahkan. Katanya, tidak bagus dan norak. Entalah, terserah ibu terpenting dia bahagia dan aku juga bahagia.

    “Nak,”panggilnya. Tumben belum selesai pekerjaannya sudah memanggil, tak seperti biasanya. Aku menghampirinya, “Ada apa?” tiba-tiba dia terdiam dan tak membalas jawabanku.

    “Ibu, dulu punya mimpi menikahkan kedua anak ibu dalam satu acara.”

    Sudah kutebak arahnya hendak kemana. Memang benar aku dan kakak hanya beda satu tahun saja. Tapi, kakak sudah punya calon sedangkan aku tidak. Apa boleh buat? Aku belum sampai sana memikirkan masa depanku. Bagiku itu masih nomer sekian dari kehidupanku. Aku mencium bau kekhawatiran dari ibu. Tapi, aku belum siap untuk melangkah lebih jauh sampai pada tahap itu. Bagiku butuh  banyak hal untuk meyiapkan semua tentang itu.

    “Ibu, aku dan kakak berbeda tak bisa disamakan.”

    “Tapi, kamu terlalu konsen dengan kehidupanmu sendiri, kerja saja yang kamu pikirkan. Temanmu yang seusiamu sudah tak ada lagi yang perawan selain kamu? Tujuan hidupmu apa? Selain kawin?”

    Kaget mendengar ucapan ibu, tidak biasanya bicara hal yang serius seperti ini, bahkan dengan notasi yang begitu tegas. Mungkin, sudah benar-benar lelah mendengar tetanga yang gemar mengosip semua tentang diriku yang tak kunjung menemukan seseorang atau bisa jadi ibu takut aku menjadi perawan tua. Aku menempali, “Ibu, jangan khawatir masa depanku, jodoh itu datang di waktu yang tepat.”

    “Bagaimana jodoh bisa datang kamu saja tidak ingin mencarinya?”

    Kami berdua tidak lagi saling menimpali. Memang begitulah karakter ibu, jika sudah tak sanggup menimpali, dia memilih diam dibanding berbicara. Tapi, kalau boleh jujur ibu lebih menakutkan ketika diam dibandingkan berbicara. Seakan-akan seantero rumah menjadi gelap gulita walaupun matahari masih menyinari bumi. Namun, aku tetap duduk serta melihat ibu merapikan tamannya.

    Setelah ibu, menyelesaikan tugas, aku kira dia tak ingin berbicara denganku, ternyata malah duduk di sampingku sambil mengelus punggung. Lalu ibu berbicara lirih,  “Nak, bisakah kamu tunduk dengan kondisi saat ini? Kamu tak lagi kanak seperti dahulu kala,” suara itu lebih menyakitkan dibandingkan suara yang beberapa jam kudengar.

    Ibu ternyata tetap saja, memaksaku untuk menikah. Aku tau ibu pasti telah memilih calon untuku. Tentu, soal calon yang ibu pilihpun, aku sama sekali tak paham. Tapi, mengapa soal kawin aku tak boleh menentukan sendiri.

    Entah, apa yang aku pikirkan, tapi kalau boleh jujur jawabanku bukan karena keinginanku, namun hanya kebahagian ibu yang terpikirkan. “Kalau begitu, ibu boleh menyodohkanku dengan pilihan ibu,” aku berkata pasrah.

    “Benar?” dengan air mata kebahagian yang terpancar.

    “Iya, ibu,” kami berpelukan sebagai simbol tak terjadi apa-apa. Dia mengelus kepala, dan berkata “Terimakasih” katanya dengan senyuman.

    Dia meninggalkanku di teras, dan langsung diri masuk ke kamar. Ingin menjerit sejadi-jadinya. Apakah ini yang dinamakan perjodohan yang terselubung? Mengapa aku dipaksa untuk menerima tradisi ini, yang barang tentu menyakitkan. Bukankah, perkawinan yang terlalu dini, sering kali gagal. Tapi, mengapa ibu tetap kukuh dengan pilihannya untuk menyodohkanku? Bagaimana jika aku dan dia tak cocok? Disamping itu, kalau aku menolak aku dikata “anak durhaka”, sedangkan soal ini aku belum siap untuk menjalankan ataupun punya hubungan dengan orang lain.

    Beberapa hari berlalu, seorang lelaki tiba dan membawa beberapa bingkisan. Ibu hanya berujar, siapkan dirimu tanpa menjelaskan apa yang terjadi. Walaupun aku sadar ibu mengarah pada perjodohan itu. Atas nama kebahagian ibu dan budaya, aku turuti kehendaknya. Kami bertukar cincin, tak ada kesenangan diri, akupun melihat wajah si pria itu. Dia pun tak sama sekali menatap wajahku sebaliknya aku. Kita dipaksa untuk saling jatuh cinta, yang kadang kala aku juga tak begitu paham apa arti cinta itu? Seperti tak ada pola yang pasti tentang cinta yang akan kita lalui, semua menjadi keterpaksaan untuk menjalankan itu.

    “Namamu siapa?” ujarnya aneh sebenarnya di acara tunangan di tak mengenaliku, aku pun begitu sebenarnya, tak tahu tentangnya.

    “Sayana, kamu bisa panggil, Ana.”

    “Oh,” itulah jawabannya. Dia tak menambahkan sebutir katapun selain kata oh. Dan hanya diam setelah itu. Tidak apa-apalah aku juga tak ingin tahu semua tentangnya. Dari kejauhan aku lihat betul ibu amat senang dengan acara ini. Wajahnya berbunga-bunga, lesung pipinya terlihat belum lagi polesan make up yang disewa hanya untuk acara ini, hingga membuatnya begitu cantik. “Oh, ibu andai engkau tahu, aku sangat tersiksa dengan keputusanmu ini.” Dipaksa mengenal orang asing yang tak tahu seluk beluknya terlebih dahulu.

    Ketika usai acara, ibu memuluk dan menciumku seperti aku baru terlahir untuk kedua kalinya di dunia. “Apakah, ibu senang?”

    “Tentu saja. Aku akan segera menikahkan anakku, lalu akan segera punya cucu.”

    Aku balik menanya, “Ibu kalau aku menikah apakah aku bisa tetap bekerja?”

    “Tugas wong wedok iku ngurusi bojo ambek anak.

    “Aku kerja sudah dulu,” tegasku

    “Apa yang kamu cari dari kerja? Kamu mau ngalantarin anakmu? Ataupun suami? Kamu memang keras kepala. Aku tahu kamu punya gelar, tapi jangan remehkan kata-kata ibumu,” suaranya makin meninggi.

    “Maksudku begini aku biar punya tabungan sendiri dan membantu ekonomi, apa yang salah?”

    “Kamu itu hanya uang saja tujuan hidupmu, keluargamu selalu kamu sampingkan? Sudahlah terserah kamu, hidupmu, dikasih tahu orang tua kok ngelunjak.”

    Apa yag salah dari perempuan bekerja? Mengapa semua dikontrol atas nama norma yang telah diamiinkan bersama? Ini bukan era Situ Nurbaya yang semua bisa dikontrol. Menyakitkan dan aku harus tahan itu. Tapi, apa daya pesan ayah hanya satu jaga ibu. Dan aku pemilik tubuh ini, namun tak punya kuasa atas tubuh ini karena aku menyanginya. Maka, aku tak boleh menyakitinya dan semua keputusannya adalah cara aku mencintainya. Tapi, sampai kapan tubuh ini terkukung?

     

    Ikuti tulisan menarik Miri pariyas lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.