Aspal Buton Belum Merdeka, Ironi Negeri Kaya-raya Aspal Alam - Analisis - www.indonesiana.id
x

Aspal. Ilustrasi Pembangunan Jalan

Indrato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2021

Jumat, 5 Agustus 2022 11:33 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Aspal Buton Belum Merdeka, Ironi Negeri Kaya-raya Aspal Alam

    Seandainya saja aspal Buton bisa bicara, maka aspal Buton akan berkata: “Kalau Kemerdekaan Republik Indonesia adalah sebagai Jembatan Emas menuju Indonesia yang lebih makmur dan sejahtera, maka merdekakanlah saya dari penjajahan aspal impor. Jangan engkau tertawa kalau Indonesia sekarang sudah merdeka selama 77 tahun. Tetapi menangislah karena saya masih dijajah dan belum merdeka. Inikah ironi negeri, yang kata orang, kaya raya dengan sumber daya aspal alamnya?”

    Dibaca : 354 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Setiap tanggal 17 Agustus kita selalu memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Pada tahun 2022 ini, kita akan memperingati untuk yang ke77 kalinya. Apa arti Kemerdekaan bagi rakyat Indonesia? Arti Kemerdekaan adalah bebas dari penjajahan. Apakah benar demikian maknanya? Bagaimana dengan nasib aspal Buton yang sekarang ini masih tetap “dijajah” oleh aspal impor?. Apakah ini berarti bahwa aspal Buton masih belum merdeka?

    Kalau kita ingat Sejarah bahwa Kemerdekaan Republik Indonesia telah diperjuangkan dan dicapai oleh seluruh rakyat Indonesia dengan “keringat dan darah. Bagaimana dengan aspal Buton sekarang ini? Apakah kita sebagai rakyat Indonesia sudah memperjuangkan aspal Buton dengan “keringat dan darah” juga? Kalau belum, ini berarti aspal Buton masih tetap dijajah, dan belum merdeka. Mengapa kita sebagai rakyat Indonesia selama 77 tahun ini diam saja dan membisu seribu bahasa menyaksikan aspal Buton dibiarkan berjuang sendirian?. Apakah rakyat Indonesia mengira dan berpikir bahwa aspal Buton adalah benda mati yang tidak mempunyai perasaan dan hati?. Aspal Buton sejatinya memiliki roh dan jiwa. Namun hanya orang-orang yang peka saja yang dapat merasakan getarannya.

    Kalau kita berasumsi bahwa Indonesia mengimpor aspal 1,2 juta ton per tahun, maka ini berarti Indonesia mengimpor aspal sejumlah 100.000 ton per bulan. Harga aspal impor untuk bulan Agustus 2022 adalah sebesar US$ 795 per ton. Jadi untuk mengimpor aspal sejumlah 100.000 ton per bulan, Indonesia harus mengeluarkan devisa sebesar US$ 79.500.000 per bulan. Dan kalau jumlah ini dirupiahkan, maka akan menjadi kurang lebih sebesar Rp 1 Triliun per bulan. Apa yang dapat kita simpulkan dari data-data ini? Indonesia mengimpor aspal senilai Rp 1 triliun per bulan.

    Angka-angka ini telah berbicara bahwa Indonesia sangat bergantung sekali kepada aspal impor. Dan ini sudah berlangsung lebih dari 42 tahun. Ketika harga aspal impor berkisar antara US$ 300 – 400 per ton, Indonesia tertawa terbahak-bahak. Mereka menertawakan aspal Buton yang harganya katanya mahal. Dan sekarang ketika harga aspal impor meroket berkisar antara US$ 700 – 800 per ton, Indonesia masih bisa tetap tertawa. Indonesia tertawa, karena merasa hebat mampu membeli aspal impor dengan harga yang sangat mahal. Yang menangis adalah aspal Buton. Mengapa Indonesia lebih suka membeli aspal impor dari pada membeli aspal Buton produk lokal yang harganya jauh lebih murah? Apakah Indonesia sudah merdeka? Tetapi mengapa aspal Buton masih tetap “dijajah” aspal impor?

    Masihkah kita sebagai rakyat Indonesia peduli dengan aspal Buton setelah melihat fakta ini? Masihkah kita merasa memiliki aspal Buton? Apakah aspal Buton masih bagian dari Indonesia? Tetapi mengapa selama ini kita telah menganggap bahwa aspal Buton seolah-olah berada di planet lain. Dan seolah-olah aspal Buton hanya merupakan mitos belaka. Banyak orang yang merasa peduli aspal Buton. Tetapi mereka tidak berbuat apa-apa untuk aspal Buton. Mungkin karena mereka tidak tahu harus berbuat apa. Mengapa? Karena mereka selalu menganggap bahwa aspal Buton itu benda mati. Aspal Buton tidak akan pernah mau protes, ataupun mengeluh meskipun ditelantarkan selama hampir 1 abad lamanya. Tetapi mereka sangat keliru. Aspal Buton memiliki roh dan jiwa. Aspal Buton bisa merasakan bahwa rakyat Indonesia kenyataannya tidak peduli apakah Indonesia mau impor aspal atau tidak. Itu bukan urusan rakyat Indonesia. Itu adalah urusan Pemeritah Indonesia. Oh...sakit hatinya aspal Buton seandainya rakyat Indonesia sendiri tidak mau peduli dengan nasib aspal Buton. Padahal aspal Buton adalah karunia Allah SWT yang Maha Besar untuk seluruh rakyat Indonesia. Mengapa kita sebagai rakyat Indonesia tidak mau mensyukurinya dengan memanfaatkanya untuk mengsubstitusi aspal impor?

    Seandainya saja aspal Buton bisa bicara, maka aspal Buton akan berkata: “Kalau Kemerdekaan Republik Indonesia adalah sebagai Jembatan Emas menuju Indonesia yang lebih makmur dan sejahtera, maka merdekakanlah saya dari penjajahan aspal impor. Jangan engkau tertawa kalau Indonesia sekarang sudah merdeka selama 77 tahun. Tetapi menangislah karena saya masih dijajah dan belum merdeka. Inikah ironi negeri, yang kata orang, kaya raya dengan sumber daya aspal alamnya?”  

    Ikuti tulisan menarik Indrato Sumantoro lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.