Merawi Lelaki Bertubuh Puisi - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ilham Nuryadi Akbar

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 5 Agustus 2022

Jumat, 5 Agustus 2022 20:04 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Merawi Lelaki Bertubuh Puisi

    Oleh: Ilham Nuryadi Akbar (Diikutkan Lomba Puisi Teroka Indonesiana)

    Dibaca : 414 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Chairil, di umur yang belum purba kau melayakkan hidup dalam hikayat,

    dan selagi kau tidak mencurangi kematian, akan kupinjam puisi-puisi mampus dikoyak sepi itu,

    untuk menggumuli perempuan-perempuan berwajah lampion berambut malam yang muskil membalas debar dariku,

    atau kepada lelaki pandir, abai pada takdir, tak mahir bersulam cinta laiknya kau kepada ida yang kau idam-idamkan.

    Kau tahu, satu hari setelah kau tiada, orang-orang menjadikan kau raja,

    yang sesekali, secara teratur, sembarang, sekarang, sampai di zaman edan saat ini,

    dengan beringas mereka menautkan foto klise di dinding-dinding media massa,

    padahal, mereka tak pernah mendaras atau menangis deras di depan pusara engkau.

     

    Bahkan setelah tanggal-tanggal terpenggal, dan tahun-tahun terkelupas untuk pantas dikatakan satu abad,

    ribuan nyawa menganju, merawi segala hal yang pernah kau pasung,

    dari pertama sampai pratama, lahir hingga akhir, mereka sibuk menafsir,

    demi pundi-pundi puji, siapa yang paling penyair.

    Sedang aku, yang kini merantau ke Bekasi seperti judul puisi yang pernah kau tulis, nisbi bertanya-tanya:

    bukankah di medan laga rentang hidup kau terbilang muda?

    namun aksara-aksara, mengapa melambung sangat tua?

    meski ruh di alam seberang, tapi yang kau tulis tetap terang benderang.

     

    Mungkin, diksi-diksi perjuangan yang kau balur di ujung pena, di tengah palagan, dan di antara kekalutan penjajah,

    memantik segala nujum menuju ruas-ruas antariksa,

    dan kau, tertuduh sebagai lelaki bertubuh puisi, yang abadi, melewati tahun-tahun tanpa mati.

     

    Chairil, jika Tuhan mencabut obituarium, tanpa perlu kau berkata maaf dan ampun

    lalu kau diberi sejumput lorong-lorong reinkarnasi

    kau ingin hidup berapa tahun lagi?

     

    Bekasi, 05 Agustus 2022

     

     

    Ilham Nuryadi Akbar lahir di Banda Aceh dan saat ini sedang merantau di Kota Bekasi.
    Buku pertamanya diterbitkan oleh Alinea Medika Pustaka berjudul Kemarau Di Matamu Hujan Di Mataku.
    Terpilih sebagai Juara 2 pada Lomba Puisi Nasional di Festival Penulis.
    Puisi dan cerpen telah banyak terangkum pada beberapa media Lokal dan Nasional seperti:
    Kumparan.co, Koran Radar Banyuwangi, Sumenep.news, ideide.id, Literasikalbar, barisan.co, negeri kertas, dll.
    Instagram: ilhamfellow    Youtube: ZAYID TV

    Ikuti tulisan menarik Ilham Nuryadi Akbar lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.



    Oleh: Merta Merdeka

    18 jam lalu

    Haha huhu~

    Dibaca : 83 kali