Kenal Lebih Dekat dengan Ikon Jumerto: Palagan Jumerto - Humaniora - www.indonesiana.id
x

KKNK 247Jumerto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Rabu, 10 Agustus 2022 06:31 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Kenal Lebih Dekat dengan Ikon Jumerto: Palagan Jumerto


    Dibaca : 603 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kisah Palagan Jumerto belum banyak dipahami khalayak ramai. Jangankan kisahnya, keberadaan Palagan Jumerto pun dirasa belum banyak diketahui. Palagan Jumerto menjadi salah satu lambang pernah terjadi pertempuran yang sangat penting yang bersamaan dengan Agresi Militer II. Kelompok KKN Kolaboratif 247 Kelurahan Jumerto, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember mencoba menemui Bapak Akson (29/4/2022) selaku ahli waris pejuang Palagan Jumerto untuk mendengarkan secara langsung terkait latar belakang dibangunnya Palagan tersebut.

    Kisah ini dimulai pada tanggal 11 Februari 1949 terdapat Pasukan Brimob yang melakukan perjalanan jarak jauh (long march) melalui Blitar, Malang, Lumajang dan akhirnya sampai di Jember. Pasukan Brimob ini dipimpin oleh Kapten Soekari dengan jumlah kurang lebih sebanyak 300 personel. Sesampainya di tanah Jumerto sekitar pukul 01.30 WIB, salah satu personel tersebut menjumpai Bapak Yaqub (salah seorang warga Desa Jumerto) untuk menanyakan keberadaan rumah Kepala Desa Jumerto. Kemudian Pak Yaqub mengantarkan salah satu personel tersebut ke rumah Bapak Asmar. Bapak Asmar merupakan mantan Kepala Desa Jumerto kala itu sekaligus sesepuh yang sangat dihormati di wilayah Jumerto. Bapak Asmar ini dikenal sangat kebal terhadap serangan senjata tajam. Pak Asmar menyuruh kedua anaknya yang bernama Abdarullah dan Abdurah untuk mengantarkan Pasukan Brimob ke rumah-rumah warga untuk beristirahat. Warga Jumerto menerima dengan baik Pasukan Brimob yang hendak beristirahat di rumah mereka. Kepala Desa Jumerto saat itu bernama Pak Soeparto. Beliau menjabat sebagai koordinator penyerangan sekaligus koordinator penghubung Jember bagian utara.

    Kala itu kondisi Jumerto sangat aman karena terdapat penjagaan dari Pasukan Tentara yang dipimpin oleh Kapten Sutoyo. Bapak Sukinan merupakan ‘Pak Kampung’ yang di kediamannya pada hari itu terdapat kegiatan pembagian gula oleh Belanda. Bapak Sukinan ternyata adalah sekutu tersembunyi Belanda yang memberi kabar bahwa terdapat Pasukan Brimob yang sedang beristirahat di rumah warga kepada Tuan Edi (pihak Belanda yang kediamannya berlokasi di Kreongan, Patrang) secara diam-diam. Sontak mendengar kabar tersebut, Tuan Edi bergegas mengerahkan pasukannya untuk menuju wlayah Jumerto sekitar pukul 06.00 WIB. Pasukan tersebut dikawal langsung oleh Bapak Sukinan. Pasukan Belanda terdiri dari Pasukan Knil (pasukan milik Belanda yang berkebangsaan Belanda) dan Pasukan Cakra (pasukan milik Belanda yang berkebangsaan Indonesia). Ketika sampai di Jumerto, Pasukan Belanda langsung menghujani peluru.

    Tidak lama setelah itu, datanglah surat perintah dari Pimpinan Pasukan Brimob yang memerintahkan Pasukan Brimob untuk tidak melayani serangan. Akibat dari pertempuran tersebut, banyak warga yang gugur sebagai korban. Terdapat salah satu warga yang berhasil lari dari titik pertempuran. Akan tetapi, beliau tertangkap oleh Pasukan Belanda dan ditanyai perihal di mana lokasi Pasukan Brimob berada. Akhirnya salah seorang warga yang tertangkap ini mengantarkan Pasukan Belanda ke rumahnya yang dijadikan sebagai tempat Pasukan Brimob beristirahat.

    Pukul 10.00 WIB pertempuran mereda. Rakyat digiring menuju ke sebuah lokasi dan dikumpulkan di bawah pohon beringin (saat ini menjadi Kantor Kelurahan) untuk ditanyai satu per satu di manakah Pasukan Brimob berada. Rakyat yang tidak menjawab sesuai dengan harapan Pasukan Belanda mendapatkan siksaan. Rumah yang ditempati oleh Pasukan Brimob dibakar habis oleh Pasukan Belanda. Pasukan Brimob masih sempat berlari mundur ke arah utara dan berkumpul di Padukoan Bajo (saat ini merupakan lingkungan sekitar rumah Bapak Bukhori/Pak Kampung). Kemudian Pasukan Brimob melanjutkan perjalanannya menuju wilayah Klungkung dan akhirnya tiba di Maesan, Bondowoso.

    Dari pertempuran tersebut, merenggut banyak nyawa. Sebanyak 13 orang Pasukan Brimob dan 20 orang rakyat yang gugur. Tiga hari setelah pertempuran, mayat-mayat tersebut baru dimakamkan. Pemakaman tersebut saat ini terletak tepat di belakang Kantor Kelurahan Jumerto.

    Pada tahun 1984, Kapolda Jawa Timur kala itu meresmikan sebuah monumen dan sebuah masjid sebagai bentuk simbolis bahwasanya terdapat satu hal penting yang pernah terjadi di wilayah Jumerto, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember. Setiap sudut dan bentuk dari Palagan Jumerto mulai dari dasar sampai ujung puncak memiliki makna masing-masing.

    Ikuti tulisan menarik KKNK 247Jumerto lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.





    Oleh: Dien Matina

    2 hari lalu

    Antre

    Dibaca : 168 kali