November 1828 Sebuah Risalah - Humaniora - www.indonesiana.id
x

film video November 1828

Taufan S. Chandranegara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Juni 2022

Rabu, 10 Agustus 2022 16:48 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • November 1828 Sebuah Risalah

    Film November 1828, mampu memberi edukasi-dayajuang generasi. Teguh Karya, memberi esai di setiap sendi-sendi seni, filmnya. Tidak asal-asalan mengemas sejarah, sekadar film menuai untung di kancah dagangan kemodernan. Salam Indonesia kreatif saudaraku.

    Dibaca : 665 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    November 1828. Film drama epos Indonesia 1979. Memberi cermin sejarah, tak sekadar reka ulang dokumenter dalam paket sisipan. Bukan pula tentang, siapa, menjadi pahlawan. Siapa, paling berjasa di negeri tercinta ini. 

    Maestro film, Teguh Karya, 1937-2001. Filsuf teater, film Indonesia, hingga kini-terdepan, setelah pendahulunya. Dia, tidak memperdebatkan sejarah lewat film, November 1828-Piala Citra, Festival Film Indonesia 1979. 

    Film November 1828, mampu memberi edukasi-dayajuang generasi. Teguh Karya, memberi esai di setiap sendi-sendi seni, filmnya. Didukung para pemeran berkarakter kuat, antara lain, Slamet Rahardjo, Rachmat Hidayat, El Manik, Yenny Rachman. Skenario ditulis oleh Teguh Karya, tidak asal-asalan mengemas sejarah, sekadar film menuai untung di kancah dagangan kemodernan. 

    Teguh Karya, bagaikan pantun memberi pencerahan di filmnya-aku Indonesia, ini caraku mencintai Indonesia. Di antara rona niskala, pembalakan hutan, illegal fishing, illegal logging, di langit alegori peristiwa kaki langit. Saat-inti, upaya keadilan hukum di negeri ini, terus menerus memburu, pelanggaran hukum tersebut, demi kesejahteraan lingkungan, keadilan sosial, bagi seluruh rakyat negeri tercinta ini. 

    Bersyukur pada, Ilahi Yang Maha Rahman. Senantiasa memberi kekuatan bagi keadilan, demi hukum, di negeri ini. Semoga pula tak mudah putus asa. Amin.
    ***
    Teguh Karya, hatinya, keseniannya, karyanya. November 1828, bercerita realitas, Sentot Prawirodirdjo, 1807-1855, panglima perang pada masa Perang Diponegoro-The Java War. Setelah ayahnya Sentot, wafat, Ronggo Prawirodirdjo, dibunuh oleh pemerintah Hindia Belanda, saat itu, dipimpin oleh, Daendels-Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-36, memerintah 1808-1811. 

    Kekuatan inteligensi. Dasar estetika pengembangan daya pikat, konsep cerita dari latar belakang film ini, ada, pada konflik Perang Diponegoro-De Java Oorlog, 1825-1830, kejadian perang di Pulau Jawa-Hindia Belanda. Perang tersebut menewaskan korban, 200.000 jiwa penduduk Jawa, 8000 tentara Belanda, 7000 serdadu pribumi.

    Perang sangat melelahkan, pihak pemerintah kolonial Hindia Belanda. Meskipun di film ini penggambaran, Perang Diponegoro, tidak secara utuh diperlihatkan. Hanya sampai pada narasi, konsep perang-capit urang, dari Panglima Perang Diponegoro, Sentot Prawirodirdjo. Konsep perang tersebut populer pada masanya, tertulis di sejarah kini.

    Sebuah konsep serangan terhadap kolonial, serupa bentuk gambar udang, menjepit, mengurung lawan dalam pola sketsa seekor udang. Kecerdasan konsep perang Sentot, selalu membuat panik massal, di tubuh serdadu kolonial Hindia Belanda.

    Kompleksifitas kemanusiaan, situasi perang di tanah Jawa saat itu. Kekuasaan kolonial, dalam Perang Diponegoro, merupakan salah satu sejarah perang mengenaskan inheren perasaan kemanusiaan setara kekuasaannya, sekecil apapun. 

    Meski di film ini tergambar sangat elok, sebagai gambar bergerak sebuah film. Hal mengenaskan itu, membawa terang, bahwa konflik, sekecil apapun berakibat, merugikan bagi kehidupan kultural kemanusiaan. Sebuah pesan sangat mumpuni, sederhana, dari film November 1828.
    ***
    Nurani Sentot Prawirodirdjo, hanya ada cinta untuk tanah leluhur purba. Bersama kaumnya, memacu perlawanan, menggempur kolonialisme-Hindia Belanda, agar secepatnya minggat dari tanah Jawa. 

    Sentot, pejuang anti-kolonial. Teguh, pejuang kesenian bagi negerinya-dua sosok bintang gemerlap di sejarah alam raya, menyatu di karya film kolosal, November 1828. Mungkin, Teguh Karya, belum tertandingi hingga terkini, di kancah perfilman Indonesia, pada nilai detail kekaryaan-inteligensi estetika.

    Sentot Prawirodirdjo-Teguh Karya, dua dari sejumlah tokoh, pahlawan, memiliki kekuatan komitmen hebat sebagai manusia Indonesia, di lini epos heroik, hingga akhir hayatnya. Konsisten di garda depan etos perjuangan. 

    Sentot, mumpuni dalam pergerakan perjuangan mengusir kolonial dari tanah negeri tercinta ini. Teguh, pejuang seni susastra film-teater Indonesia modern, menuju masa depan tanpa batas, di era Indonesia merdeka.
    ***
    Lantas, adakah perbedaan perjuangan lalu ke-kini. Menjelang memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus 1945-2022. Bersama mengheningkan cipta untuk bumi pahlawan pejuang kemerdekaan.

    "Tuhan,  doa kami dalam hening rasa syukur bagimu pahlawan merdeka. Anugerah kemerdekaan, berkat Rahmat-Mu, surga cahaya untuk para pahlawan negeri ini. Terima kasih Ilahi. Terima kasih pahlawanku."

    Lalu ke-kini, sinambung, akar sejarah Indonesia tertulis, dalam buku besar kesejarahan berbudi, kemaslahatan bangsa, abadi, selama hayat di kandung badan. Demikian pula halnya dengan musim berganti, pimpinan pemerintahan-bukan kehebatan, hal biasa-alami. Doa terbaik bagi pemimpin negeri ini, lalu ke-kini, ataupun akan datang.  

    Di kurun waktu, semua generasi-menulis sejarah lalu ke-kini, dalam kebaikan tanah lahir beta, di semua kebenaran untuk Indonesia. 

    Tapi tidak, untuk pencuri hak-hak rakyat. Mafia pembalak hutan-ekosistem, penimbun kebutuhan rakyat, pencuri lingkungan melipat gandakan angka patgulipat, bersifat koruptif. Termasuk jaringan mafia narkoba perusak generasi-wajib dibasmi.  

    Bersama, rakyat negara kesatuan ini, melalui komunikasi modern, bersama lembaga keadilan hukum formal negara. Semoga senantiasa mampu, selalu bersama, mengolah hidup, membasmi pelanggaran hak-hak rakyat. Amin.
    ***
    Keluarga Indonesia. Senantiasa memberi pelajaran sederhana pada anak cucu sejak dini, untuk saling belajar, berani jujur-berkata benar. Menolak virus manipulator-membasmi hama narkoba, salah satu bentuk dukungan moral kepada perangkat keadilan hukum negara, telah bekerja keras-konsisten-demi keadilan.

    Indonesia, negara pemberani mengadili perampok hutan. Negeri para sahabat. Negeri para pahlawan. Negeri orang-orang jujur. Negeri, berani berkata benar. Negeri antihama korupsi. Negeri adil makmur. 

    Negeri kesetaraan demokrasi di bawah pengawasan pancasila. Negeri kesehatan, pendidikan. Negeri para pekerja-generasi unggul membangun Indonesia, mandiri. Negeri cinta kasih-multikultur. Salam Hari Kemerdekaan Indonesia Maju-Bersatu.
    ***
    Jabodetabek Indonesia, Agustus 10, 2022.

    Ikuti tulisan menarik Taufan S. Chandranegara lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.