Ambruknya Mental Perempuan Korban Kekerasan Seksual - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Kekerasan terhadap perempuan

Yafet Ronaldies

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Agustus 2022

Kamis, 11 Agustus 2022 08:24 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Ambruknya Mental Perempuan Korban Kekerasan Seksual

    Kekerasan seksual terhadap perempuan sangat marak terjadi di hampir seluruh dunia. Indonesia hampir tiap tahunya indeks kekerasan seksual meningkat dratis. Pemulihan secara total, masih dianggap kurang dan sangat tidak komperhensif.

    Dibaca : 393 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Ngomongin soal kekerasan seksual yang diderita oleh kaum perempuan, hampir semua kasus-kasus tersebut pelakunya adalah laki-laki. Jadi ketika ada perempuan yang membaca tulisan ini, apalagi yang nulis cowok. plis, aku cuman mau bilang gak semua cowok ngelakuin hal itu ke perempuan, mereka yang berbuat tindakan keji itu adalah oknum berhawa nafsu liar.

    Kekerasan seksual menjadi sorotan dalam Indonesia maupun dunia internasional. Terbukti dengan dibentuknya Covention on Elimination of All Forms of Discrimination Againt Women, yang dikenal dengan sebutan CEDAW. Kemudian, di Indonesia telah di ratifikasi melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 perihal Pengesahan Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan, oleh pemerintah Indonesia tahun 1984. Akan tetapi implementasi pemulihan hak-hak korban, termasuk pemulihan mental terhadap korban kekerasan seksual khususnya perempuan, masih sangat jauh dari kata keadilan. Tentu saja ini sangat berdampak pada perkembangan dan kehidupan mental atau kejiwaan korban itu sendiri.

    Kemudian, hal inilah yang tidak sejalan dengan makna kata perempuan, berasal dari kata “empu” artinya tuan, orang mahir atau berkuasa, adapula yang mengartikan sebagai dihormati atau dihargai. Kata perempuan juga memiliki pengertian secara eksplisit sebagai kemederkaan dalam memperjuangan hak-hak perempuan. Korban paling banyak dari tindak kejahatan kekerasan seksual adalah perempuan, yang secara signifikan sangat merugikan dan membuat mental seorang perempuan menjadi terganggu ataupun rusak.

    Dampak yang timbul dari kekerasan seksual pasti mengalami depresi, fobia, mimpi buruk, rasa percaya diri hilang, turunnya prestasi akademik maupun non-akademik dan kadang curiga terhadap orang lain dalam waktu yang cukup lama. Tidak hanya itu, masih banyak gangguan mental yang diderita perempuan akibat kekerasan seksual, seperti post traumatic syndrome disorder, terlibat penggunaan narkoba, merasa jenjang karir atau masa depan sudah hilang. Adapula yang merasa terbatasi dalam bergaul dengan orang lain.

    Bagi perempuan yang mengalami kekerasan seksual pasti mengalami trauma psikologis yang sangat hebat, bahkan yang lebih mengerikannya lagi ialah dorongan untuk melakukan bunuh diri, ini yang membuat kerusakan mental pada perempuan dari korban kekerasan seksual. Kejahatan ini sering dipandang sebelah mata dan tidak dianggap serius. Padahal banyak dari korban kekerasan seksual ini, lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan berbagai cara. Karena korban kejahatan kekerasan seksual khususnya perempuan, merasa tidak ada gunanya lagi dalam melanjutkan hidup. Selain itu, tindakan kekerasan seksual sangat bertolak belakang dengan norma-norma yang hidup di masyarakat dan pastinya melawan hukum.

    Melihat dan membaca problem di ruang publik persoalan kekeresan seksual, sangat miris yang di mana hampir tiap tahun mengalami peningkatan korban dan kasus. Jadi, persetan buat oknum yang melakukan tindakan kejahatan kekerasan seksual terhadap perempuan. Lalu kemudian, membicarakan atau lantang berbicara persoalan kesetaraan gender atau mengangkat isu feminisme seolah-olah tidak bersalah apa-apa. Kemudian mengangap kekerasan seksual itu adalah hal biasa dan punya pikiran, “Ah, itu kan hal biasa”. Atau adalagi nih ucapan, “Kan sama-sama suka”. Bullshit!

    Makanya jangan heran jikalau perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual itu, sangat traumatik sekali ketika ada laki-laki yang mau mendekati dia. Sekali lagi, masalah kejahatan seksual ini bukan masalah pribadi atau individualistik akantetapi, kejahatan kekerasan seksual terhadap perempuan adalah problem publik. Ini harus menjadi kepedulian setiap elemen masyarakat bahkan kaum laki-laki juga harus speak up dan action dalam mencegah terjadi nya kekerasan seksual. Bahkan bisa ikut serta dalam pemulihan kepada perempuan korban kekerasan seksual. Kendatipun demikian, laki-laki yang ikut serta dalam proses pemulihan korban kekerasan seksual ini, biasanya harus orang-orang yang betul-betul bisa dipercaya seperti (keluarga, sahabat atau kerabat terdekat yang mempunyai hubungan emosional hangat dan nyaman dengan korban).

    Kemudian perempuan yang mengalami tindak kejahatan seksual tersebut berlarut-larut dalam keadaan nestapa atau penderitaan. Ada diantara mereka yang mampu bangkit dari keterpurukan. Dukungan sosial teman terdekat dan keluarga turut serta dalam mempengaruhi para perempuan korban kekerasan seksual, untuk mampu menghadapi kecemasan, depresi, dan pascatrauma. Begitu juga penyesuaian psikososial dan upaya meminimalisir menyalahkan korban (viktimisasi), agar mampu mempercepat pemulihan para korban kekerasan seksual. Melalui proses penanganan yang intensif, komprehensif serta rehabilitatif yang dilakukan secara menyeluruh dan bertahap, perempuan korban kekerasan seksual mampu pulih kembali.

    Faktor pendukung pulihnya korban kekerasan seksual ialah mendapat dukungan dari lingkungan sekitar, bimbingan rohani (keagamaan), perhatian khusus yang diberikan oleh negara atau pemerintah. Di samping itu, potensi spiritualitas yang dimiliki para korban secara signifikan, dapat dijadikan modal dalam upaya pemulihan akibat kejahatan seksual. Oleh karena itu, dalam pemulihan kesehatan mental terhadap korban kekerasan seksual dilakukan melalui proses pendampingan korban yang terdiri dari pendampingan medis, psikologis dan yuridis. Pada pelaksanaanya, pendampingan yang diberikan harus disesuaikan dengan apa yang dibutuhkan oleh korban. Dengan pendekatan transformatif, para terapis mampu mengembangkan kesadaran korban kekerasan seksual menjadi pulih kembali. Sehingga perempuan mendapatkan harga diri (selfesteem)nya kembali.

    Ikuti tulisan menarik Yafet Ronaldies lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.