Catantan Timnas U-16, Suporter, Host, dan Komentator Televisi - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

pssi

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 11 Agustus 2022 13:17 WIB

  • Sport
  • Topik Utama
  • Catantan Timnas U-16, Suporter, Host, dan Komentator Televisi

    Semoga kreativitas pedagogi ala Bima Sakti dengan menjujung sportivitas akan kembali ampuh membawa Timnas Indonesia U-16 kembali menang dalam pertandingan melawan Vietnam dalam final Piala AFF U16 2022 di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta, Jumat (12/8/2022) mulai pukul 20.00 WIB. Sekaligus mencatatkan raihan tropi U-16 kedua untuk Indonesia. Di partai final, lengkapi Indonesia U-16, berpredikat Tim paling Sportif dalam gelaran Piala AFF U-16 2022. Sportif dan Juara. Aamiin.

    Dibaca : 1.349 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Langkah Timnas Indonesia U-16 angkatan 2022 bersama Bima Sakti mengikuti jejak Timnas Indonesia U-16 angkatan 2018 asuhan Fakhri Husaini, dalam meraih Juara Piala AFF U-16 2022 tinggal selangkah lagi. Namun, langkahnya tentu akan tidak mudah, pasalnya akan kembali berhadapan dengan Vietnam U-16 yang sudah sangat dikenal oleh publik sepak bola nasional sebagai tim yang memiliki pemain dengan kualitas TIPS yang standar timnas, plus kelebihan didikan akal liciknya.

    Tetap sesuai pakem Bima Sakti

    Untuk itu, pasukan Garuda Belia, tidak harus ke luar dari pakem ajaran pedagogi ala Bima Sakti, yaitu tetap berpijak pada menjunjung sportivitas dan rendah hati. Meski sikap sportif dalam setiap laga di Piala AFF ada yang menganggap para pemain belia ini polos , terutama saat menjamu lawan sebenarnya Myanmar U-16 yang setali tiga uang dengan Vietnam U-16 sudah dibekali ilmu licik.

    Sikap sportif yang dianggap polos ini, wajib terus dipertahankan hingga laga babak final versus Vietnam U-16. Buat publik sepak bola Asia Tenggara, Asia, dan dunia, memandang Timnas Indonesia adalah tim yang mencari prestasi dengan cara yang benar dan baik, dimulai dari pasukan belia Timnas U-16 asuhan Bima Sakti ini.

    Biarkan publik Asia Tenggara, Asia, dan Dunia hanya memahami bahwa cara mencari prestasi juara dengan cara licik tetap pada negara-negara Asia Tenggara yang lain, bukan Indonesia.

    Dalam Piala AFF U-16, lawan Garuda Belia sudah terbukti memakai taktik licik. Vietnam U-16 sampai harus membuat gol ke gawang pasukan Bima Sakti dengan cara diving di laga terakhir fase Grup A. Tetapi sikap sportiflah yang memenangi laga. Garuda Belia pun comeback dan menang 2-1.

    Dalam laga semi final, Myanmar U-16 pun mempraktikkan taktik licik dengan mengulur waktu dengan perilaku pemain yang pura-pura cidera dan berkali-kali dilakukan. Cara itu ditempuh, sebab mereka sadar, sulit meladeni pasukan Bima Sakti dengan wajar dan sportif, hingga membuat segala intrik agar tidak kalah di waktu normal.

    Lagi-lagi, pasukan Bima pun dapat membuktikan bahwa sikap sportif, bukan polos dapat mematahkan kelicikan. Myanmar U-16 yang sejatinya sudah mengakui kualitas TIPS Garuda Belia, harus menerima kenyataan, tetap kalah dalam adu pinalti.

    Pahlawan Timnas Indonesia U-16

    Kemenangan Timnas U-16 atas Myanmar U-16 sudah saya prediksi akan melalui jalur adu pinalti. Dalam adu pinalti pun saya salut atas arahan Bima Sakti kepada 5 penendang mulai dari Arkhan Kaka hingga Nabil Asyura, semuanya sukses. Dan, arahan Markus Horison, penjaga gawang Andrika Fathir Rachman tampil gemilang dengan mampu membaca empat tendangan Myanmar sesuai arah bola, bukan dengan cara bertindak spekulasi. Empat tendangan yang dibaca Andrika sesuai arah bola, ternyata ada yang mampu ditahan. Sehingga, Kaka dkk unggul 5-4.

    Kemenangan atas lawan sebenarnya plus intrik-taktik licik, ternyata tetap harus bertekuk lutut atas pasukan belia yang dididik sportif oleh Bima Sakti.

    Atas hasil tersebut, siapa pahlawan kemenangan Timnas Indonesia U-16 atas Myanmar U-16 bukanlah perorangan. Tapi atas nama tim. Bagi saya, semua adalah Pahlawan.

    Bima Sakti dan para asistennya dengan didikan pedagogiknya dalam membentuk, membangun, mengembangkan TIPS pemain dan menerapkan semua itu dalam taktik strategi dalam permainan yang tetap sportif. Para pemain yang dipercaya tampil. Para pemain yang dipercaya menendang pinalti. Andrika yang dipercaya menjadi penjaga gawang. Semua berkolaborasi menjadi kesatuan utuh yang tidak dapat dipilah-pilah. Semua adalah Pahlawan kemenangan Garuda Belia atas Myanmar U-16 plus intrik liciknya.

    Suporter, pembawa acara, dan komentator di televisi

    Langkah Garuda Belia satu langkah lagi akan meraih tropi Piala AFF U-16 kedua untuk Indonesia. Tetapi, ada hal yang saya sebut kontradiktif dengan apa yang terjadi di tubuh Timnas U-16 yang TIPS pemainnya dibangun dengan pedagogi ala Bima Sakti.

    Yang kontradiktif itu, sikap suporter di stadion, yang tidak cerdas Intelegensi (otak) dan personality (kepribadian/mental/emosi/sikap). Beberapa suporter masih rendah kecerdasan intelegensi dan personalitynya, sehingga menjadi citra negatif dalam gelaran Piala AFF kali ini yang bisa merugikan Timnas U-16, PSSI, dan Indonesia sebagai tuan rumah.

    Mohon kepada pihak panitia, terutama pihak keamanan agar lebih tegas menyikapi dan menindak suporter yang masih rendah otak dan emosi untuk diantisipasi dan diamankan. Mengapa ada benda-benda yang lolos masuk ke dalam stadion dan digunakan untuk berbuat anarkis oleh suporter terhadap pemain lawan.

    Biarkan lawan yang bertindak licik melakukan aksinya, sebab ada wasit, ada siaran langsung, ada rekaman pertandingan yang di kemudian hari dapat menjadi bukti untuk hukuman atau minimal mempermalukan mereka sendiri atas kelicikannya.

    Berikutnya, ada catatan untuk host (pembawa acara) dan komentator yang mengawal siaran langsung laga Garuda Belia. Ada pesan masuk ke saya dari publik sepak bola nasional yang menyebut, mengapa host dan komentator tidak memandu jalannya laga dan mengulas, mengomentari hal-hal yang substantif sesuai fakta laga dan membangkitkan semangat militansi dan rasa memiliki Timnas yang utuh.

    Ingat, ini laga Timnas U-16, pondasi dan cikal bakal pemain timnas senior. Berikan tambahan komentar yang mengedukasi publik, menambah semangat persatuan dan sportivitas olah raga sepak bola. Bukannya memberi komentar yang menyudutkan pemain dengan opini-opininya. Bukan menjadi alat promosi kedaerahan, promosi Klub/Diklat/Akademi/SSB. Semua itu harus disadari sebagai hal yang sensitif.

    Bima Sakti memilih 28 pemain yang kini tergabung dalam skuat Timnas U-16 sudah dengan caranya yang obyektif terhadap ribuan bahkan jutaan pesepak bola U-16 di Indonesia. Skuat ini, sampai melangkah ke babak final sudah terbukti mampu menunjukkan diri bahwa mereka memang layak berjersey Garuda. Pun tidak mempermalukan Bima yang telah memilih mereka mewakili teman-teman U-16 yang belum dapat kesempatan.

    Jadi, untuk host dan komentator, tidak usah mengomentari hal-hal yang lebai (berlebihan) dan tidak perlu. Yang justru didengarkan dan ditonton membikin tidak nyaman. Tidak usah diidentifikasi secara detil, saya yakin host dan komentator bisa mengidentifikasi sendiri mana yang lebai dan tidak perlu.

    Pemain yang masih lemah I dan P

    Menghadapi partai final, pertemuan ulangan versus Vietnam U-16, tentu akan berjalan seru dan alot. Sebab, keduanya sama-sama sudah memahami kekuatan TIPS pemain dan Tim masing-masing. Vietnam yang sudah ditekuk di fase grup, pasti punya misi balas dendam dan tidak mau dipermalukan kedua kalinya.

    Bila dalam pertemuan fase grup saja sudah pakai cara licik, bisa jadi cara itu akan tetap diandalkan demi meraih tropi dan membalas dendam. Karenanya, saya yakin, dengan ciri khas pedagogi dan didikan sportifitasnya, Bima akan mampu mengawal Garuda Belia dengan cara sportif elegan dan meraih tropi.

    Hanya, sikap tak cerdas Intelegensi dan personality jangan sampai diulang oleh pemain. Dalam laga versus Myanmar ada dua pelanggaran yang dilakukan oleh dua pemain belia kita yang saya sebut kampungan, karena lemah otak dan sikap. Itu jangan sampai diulang oleh yang bersangkutan atau oleh pemain lain hingga dapat ganjaran kartu kuning.

    Semoga kreativitas pedagogi ala Bima Sakti dengan menjujung sportivitas akan kembali ampuh membawa Timnas Indonesia U-16 kembali menang dalam pertandingan melawan Vietnam dalam final Piala AFF U16 2022 di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta, Jumat (12/8/2022) mulai pukul 20.00 WIB. Sekaligus mencatatkan raihan tropi U-16 kedua untuk Indonesia.

    Di partai final, lengkapi Indonesia U-16, berpredikat tim paling sportif dalam gelaran Piala AFF U-16 2022. Sportif dan juara. Aamiin.

    Ikuti tulisan menarik Supartono JW lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.