Itu Tubuh - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Fransiska Eka

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 11 November 2021

Kamis, 11 Agustus 2022 17:31 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Itu Tubuh

    Puisi-puisi ini diterbitkan untuk mengikuti #LombaPuisiTerokaIndonesiana

    Dibaca : 275 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Rapunzel 

     

    /1/

     

    lalap sedih pada piring, ibu 
    adalah hasrat yang menjelma pinta, sebelum jadi tukar, senyawa tumbuh dalam gulita, jadi tubuh yang kelak patuh pada perempuan, yang bukan ibu.

     

    /2/

     

    kau bayangkan, selalu
    Rapunzel yang berbahagia, setelah air matanya menyisip terang bagi netra  sang lelaki yang luka, dan kubayangkan
    kadang-kadang, Rapunzel yang penakut, memintal-mintal angan-angan tentang kebebasan, sambil merapal kidung-kidung tentang cinta
    yang lari, yang jauh dari Dame Gothel ; katamu, perempuan yang bukan ibunya itu berpupil hitam gagak, bertaring serigala, bersuara panah yang menancap langsung ke sumber rasa untuk menebar racun gentar, berjemari cakar ayam ;

     

    "Iblis?"

     

    "Barangkali sejenis ular tua di Eden."

     

     

    /3/

     

    dua belas
    angka ketika tubuhnya mulai
    berdarah

     

    pada menara
    ada darah
    tubuh lelaki muda 
    (panas dan melesak)
    ada darah
    tangis bayi
    (kencang merobek sunyi)
    ada darah

     

    penebusan seharga
    rambut keemasan yang dipotong pisau tajam, atau apakah ia gunakan gunting
    atau, taringnya yang mengoyak?

     

    lepas tengah malam
    Dame Gothel menjelma asap hitam, menyusup tinggal pada seluruh ruang bilik jantung, dan Rapunzel yang gamang
    mencari-cari sumber suara yang bercerita lantang, tentang peri hutan yang meninggali pohon-pohon raksasa dan membentuk raga dari embun pada penampang daun, tentang gurun tandus tempat iblis dan pertapa bertarung meributkan nafsu ; yang buruk dan yang kudus, tentang ombak di tepian samudera, menderu-deru dalam gemuruh yang menepuk-nepuk lembut cangkang kerang, dan anyir purba yang membius semua yang menghirup, hidup bukan hanya soal dinding, jendela dan ujaranmu sendiri ;
    suara-suara itu mengejeknya,
    suara-suara yang kadang adalah suara perempuan
    (adakah itu suaraku sendiri? Ia bertanya)
    kadang suara lelaki 
    (adakah suara lelaki yang tahu bagaimana caranya meminta?)

     

    /4/

     

    cinta lebih kuat dari maut
    dan takut, dan kecut
    sebab ia melecut ragu jadi tumbuh, dan bayi-bayi Rapunzel, yang kembar sepasang itu, berlari-lari untuk menjadi kisah yang lain 
    yang tak lagi perlu berdiam sebagai aksara.

     

    (2022)

     

    Putih Salju

     

    /1/

     

    cermin ajaib, siapakah yang paling jelita?

     

    /2/

     

    sedikit roti dan anggur
    t'lah kucicipi, tetapi siapakah
    si tuan rumah?

     

    /3/

     

    kuinginkah jantung-hati
    yang belum mengenal dengki
    dan tak pandai berhati-hati

     

    kau tahu bagaimana membelah
    dadanya yang perawan?

     

    /4/

     

    tujuh ; orang-orang pendek itu
    adalah penunjuk siklus
    menuju titik akhir, penutup
    'lelaki dan perempuan itu hidup bahagia selamanya'

     

    /5/

     

    apakah kau akan menolak, perempuan renta
    yang memintamu membeli satu-dua perkakas
    yang kau butuhkan ; lihat tali temali korset yang akan mengencangkan pinggangmu, tak inginkah kau jadi lebih singset? Lihat sisir yang akan mengubah rambutmu yang malam jadi lebih sutra, tak inginkah kau dipuja? Kau inginkan apel ini bukan? 

    aku akan membaginya jadi dua, kita berbagi, tak mungkin aku akan meracuni sesuatu yang juga akan masuk ke dalam perutku, kan?

     

    Duhai, kau yang paling jelita di antara semua perempuan!

     

    /6/

     

    rahim bumi akan menyembunyikan
    yang cantik padanya, dan kita
    tak ingin si jelita digerogoti ulat
    sebab ia tak mati, keindahan selalu abadi!
    ia lelap menggumuli syair yang diucapkan
    sebelum dirinya mewujud ; biarkan kulitnya seputih salju abadi yang tak leleh, bibirnya semerah darah yang menetes dari jariku yang luka, dan rambutnya hitam kayu ebony

     

    [dan biarlah segala yang tangguh
    ditambahkan padanya, jika perlu, sebab
    sering perempuan tak perlu, sebab mesti seorang pangeran jatuh

     

    cinta

     

    untuknya biarlah cukup untuk
    membikin mabuk, cukup untuk membuat sang pangeran bertempur mengalahkan apapun itu yang bisa membuat ia jadi pemenang]

     

    "Siapakah si jelita dalam peti kaca?"

     

    "Seorang putri yang diracun."

     

    "Aku menginginkannya."

     

    "Majnun!"

     

    "Aku ingin memandangnya."

     

    /7/

     

    seseorang terantuk
    peti kaca terguncang
    kunyahan apel beracun meloncat keluar
    dari tenggorokan, ke mulut
    dan sang putri memuntahkan

     

    "aku dimana?"

     

    setelahnya, keduanya hidup
    bahagia selamanya.

     

    (2022)

     

     

    Ashputtel

     

    disaksikannya, dua perempuan lain itu
    memotong telapak kaki agar bisa memakai sepatu, dan sang ibu tiri bertepuk tangan bangga sebab salah satu dari dua anak perempuannya akan jadi ratu, dan apa yang Ashputel katakan kepada dirinya sendiri, barangkali dalam sesal dan ragu, pada nasib dan juga diri ;

     

    bukankah kita berasal dari abu dan kelak menjadi abu?

     

    (2022)

    *Itu Tubuh adalah diksi yang diambil dari salah satu puisi Chairil berjudul 'Isa'

    #LombaPuisiTerokaIndonesiana

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Fransiska Eka lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.