Antara Yunani Yunan dan Mongoloid - Analisis - www.indonesiana.id
x

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Kamis, 11 Agustus 2022 17:50 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Antara Yunani Yunan dan Mongoloid

    Manakala peran-peran manusia mengandung jamak bahkan atas dirinya sendiri, kemanusiaan yang penuh curiga dengan sifat ambisiusnya akan tetap menjadi benggala dalam membaca ruang ketangkasan spiritual yang ilahiah sekaligus duniawi. Ini, masih terlalu jauh dari yang meta-text sebagai catatan sebuah nama, tentang akal budi.

    Dibaca : 453 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sebuah nama mungkin menjadi penting bagi pengarsipan sebagai pergerakkan peradaban manusia. Hal ini, tentunya akan memudahkan rancang konseptual desain hingga mempraktekkannya sebagai bukti “kebiasaan/tradisi/roots” di dalam keseharian. Namun, untuk merangkai pengalaman, beserta penjelajahan, seringkali dalam prosesnya tergoncang begitu hebat saat menuntut perdamaian dengan perintah paling aneh, juga penuh emosi “mistis/mistique/mystikos”. Lagi-lagi, di linimasa kehidupan manusia, kompleksitas dan kontradiksi menjadi layak telisik, sebagaimana Dark Psychology.

    Saya seakan diingatkan kembali bagaimana membuat skema desain melalui bahasa tubuh bagi suatu panggung seni pertunjukkan, suatu proses gerakan yang serupa menata kreasi komik sebagai jalur dramaturgi cahaya, dan text menjelma enigma atas pengalaman tubuh dalam merangkum ruang.

    "Those that go searching for love only manifest their own lovelessness." [D. H. Lawrence]. Seorang penulis asal Inggris yang menjadi fenomena atas desakannya dalam “hidupkan kembali instingmu”. Tentunya, kata “insting/instinctus/impluse” memiliki esensi dalam Dark Psychology yang hingga kini masih menjadi perdebatan, baik di ilmu teologi dan ilmu sains, bahwa yang alamiah/nature hanya menyiratkan sifat “penyerbuan/pierce” yang tergambangkan dari pola kehidupan binatang.

    Ada nama atas text telah mengupas beragam makna pada proses perkembangan literasi sebagai sifat mistis; Yunani/Greek, Yunan/Hellenic serta Mongoloid/Down Syndrom, sebuah pengulangan opera di panggung Aria. Di satu sisi, mongoloid telah menjadi catatan penting dalam perkembangan ras manusia modern bagi Johann Friedrich Blumenbach sebagai eksperimen antropologi untuk seni dan budaya. Sekaligus opera Aria mengajak saya untuk mengintip ide dasar dari ahli fisiologi anatomi bernama Rudolf Friedrich Johann Heinrich Wagner.

    Dan Arias untuk liber/libretto dalam Meine Lippen di bait kedua teruntuk seorang soprano:

    Why ever should it be

    They speak of magic charms in me

    That no man can resist?

    For every time they look at me these charms

    persist.

    D. H. Lawrence kembali terhadirkan sebagai rahasia atas insting/instinctus/impluse”, satu-satunya misteri manusia atas hasrat kehendak. Hanya saja, apakah manusia modern sebagai antropomorfis benar-benar menjadi bukti tentang kuasa yang ilahiah, ataukah, sesungguhnya eksistensi tidak lebih sebagai degredasi rekayasa? Semua hanya akan tetap menjadi rahasia ribonucleic acid atas inovasi dari deoxyribonucleic acid yang cukup rapat dengan catatan-catatan mistisnya.

    Manakala peran-peran manusia mengandung jamak bahkan atas dirinya sendiri, kemanusiaan yang penuh curiga dengan sifat ambisiusnya akan tetap menjadi benggala dalam membaca ruang ketangkasan spiritual yang ilahiah sekaligus duniawi. Ini, masih terlalu jauh dari yang meta-text sebagai catatan sebuah nama, tentang akal budi.

    Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.