Belajar Demokrasi dari Einstein - Analisis - www.indonesiana.id
x

Albert Einstein. Dari Pixabay.com

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Jumat, 12 Agustus 2022 13:05 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Belajar Demokrasi dari Einstein

    Albert Einstein adalah pakar fisika yang pernah memenangi hadiah Nobel. Menariknya dia memiliki gagasan tentang demokrasi. Bagaimana pemikirannya tentang demokrasi? Sila baca terus sampai tuntas.

    Dibaca : 786 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono

    Belajar demokrasi kok dari Einstein? Bukannya dia pakar fisika?  Demikian mungkin pertanyaan Anda.

    Memang benar Einstein pakar fisika tapi dia memiliki pendapat tentang politik yang menarik. Pandangan politiknya mencerminkan pemikirannya yang berbobot sekali. Lagian belajarnya bukan seperti kuliah. Kita sekedar menyimak pandangan politiknya. Bagaimana pandangan politiknya? Mari kita simak.

    “My political ideal is democracy. Let every man be respected as an individual and no man idolized.”
    Cita-cita politik saya adalah demokrasi. Biarlah setiap manusia dihormati sebagai individu dan tidak ada manusia yang diidolakan (dikultuskan).

    Setiap manusia seharusnya dihormati kata Einstein. Timbul berbagai pertanyaan.  Siapa yang harus menghormati? Siapa yang harus dihormati.  Bagaimana cara menghormati. Dihormati ini memiliki makna yang dalam.  Dihormati bukan hanya berarti disapa saja. 

    Pihak yang harus menghormati ya semua orang. Dari lapisan terendah sampai tertinggi harus saling menghormati.  Tidak hanya orang kecil yang harus menghormati orang besar.  Tapi orang besar pun harus menghormati orang kecil. Pejabat tertinggi harus menghormati orang terkecil.  Institusi pemerintahan harus menghormati rakyat kecil. Orang miskin harus dihormati juga. Itu semua karena dalam demokrasi ada prinsip kesetaraan.  Tidak ada orang yang lebih mulia daripada sesamanya. Semuanya sederajat. Jadi harus saling menghormati.

    Bagaimana caranya menghormati? Tentu saja tidak cukup hanya dengan basa basi. Pihak yang lebih tinggi juga harus menjaga dan melindungi marwah orang kecil.  Orang terkecil harus diberi santunan, pendidikan, perlindungan dan bantuan. Singkatnya dikembangkan. Jangan dizalimi, dieksploitasi, dimanfaatkan sebagai buruh murah dsb.

    Semua itu hanya bisa dilaksanakan apabila ada niat menghormati tadi. Kalau sikap mental kita tidak menghormati ya tidak bakal punya niat memajukan orang kecil. Tapi justru mengeksploitasi mereka.

    Ada lagi pandangan Einstein?  
    "Laws alone cannot secure freedom of expression; in order that every man present his views without penalty, there must be a spirit of tolerance in the entire population."

    Hukum saja tidak dapat menjamin kebebasan berekspresi; agar setiap orang menyampaikan pandangannya tanpa hukuman, harus ada semangat toleransi pada seluruh warga.

    Sistem hukum dipengaruhi oleh sistem sosial. Maka agar efektif sistem sosial harus mengandung semangat toleransi.  Kalau dalam sistem sosial sudah ada semangat toleransi ini maka semua warganya akan mampu menerima perbedaan pendapat. Semua orang akan bebas menyampaikan pendapatnya tanpa takut ancaman apapun. Tentu saja pendapat yang disampaikan harus beradab. Bukan pendapat yang tidak sopan seperti pelecehan dsb.

    Masalahnya bagaimana membuat sistem sosial kita memiliki semangat toleransi?  Sedangkan adanya semangat intoleransi.  Sejatinya semua pihak intoleran tapi menuduh pihak lain yang intoleran.   Inilah PR besar kita semua.  

    Ada lagi pandangan politik Einstein. 
    “Democracy, taken in its narrower, purely political, sense, suffers from the fact that those in economic and political power possess the means for molding public opinion to serve their own class interests. The democratic form of government in itself does not automatically solve problems; it offers, however, a useful framework for their solution. Everything depends ultimately on the political and moral qualities of the citizenry.”

    Demokrasi, dalam pengertiannya yang lebih sempit, murni politis, menderita dari kenyataan bahwa mereka yang memiliki kekuatan ekonomi dan politik memiliki sarana untuk membentuk opini publik untuk melayani kepentingan kelas mereka sendiri. Bentuk pemerintahan yang demokratis itu sendiri tidak secara otomatis memecahkan masalah; ia menawarkan, bagaimanapun, kerangka kerja yang berguna untuk solusi mereka. Semuanya pada akhirnya tergantung pada kualitas politik dan moral warga negara.

    Menurut Einstein demokrasi punya kelemahan juga. Kelemahannya pemilik kekuatan ekonomi dan politik mampu memengaruhi opini publik. Mereka mampu membentuk opini publik yang menguntungkan mereka.  Akibatnya publik akan menganggap mereka sebagai benar.   Tapi menurut Eistein demokrasi memberi peluang untuk menemukan solusi masalah.

    Masih ada pendapat Einstein yang menarik.
    “What can the schools do to defend democracy? Should they preach a specific political doctrine? I believe they should not. If they are able to teach young people to have a critical mind and a socially oriented attitude, they will have done all that is necessary.”

    Apa yang bisa dilakukan sekolah untuk mempertahankan demokrasi? Haruskah mereka mengkhotbahkan doktrin politik tertentu? Saya percaya mereka tidak seharusnya. Jika mereka mampu mengajar kaum muda untuk memiliki pikiran kritis dan sikap berorientasi sosial, mereka akan melakukan semua yang diperlukan.

    Einstein berpendapat sekolah tidak perlu melakukan indoktrinasi. Cukup mengembangkan pemikiran muridnya agar mereka mampu melakukan tindakan yang dibutuhkan masyarakatnya.  Dengan kata lain agar muridnya mampu menemukan solusi atas masalah masyarakatnya. 

    Semoga kita mampu menerapkan pandangan Einstein tadi untuk menemukan solusi atas masalah masalah kita sendiri.

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.








    Oleh: museisman

    1 hari lalu

    Superior

    Dibaca : 154 kali