Rumekso Ing Wengi (part 3) - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh HeonCheol LEE dari Pixabay

Em Fardhan

Penulis Indosiana
Bergabung Sejak: 9 November 2021

Sabtu, 13 Agustus 2022 08:54 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Rumekso Ing Wengi (part 3)

    Kepala ular itu makin mendekati kepalaku. Siap untuk menelan tubuhku yang lemah tiada daya ini hidup-hidup.

    Dibaca : 335 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Ular besar itu kian mendekatiku. Secara perlahan tapi pasti. Aku hanya bisa berpindah dahan dan berniat akan turun pelan-pelan. Namun, begitu tubuh ini hendak berpindah, ular itu seketika menyerangku lalu kemudian melilitku tanpa ampun. Kakiku terlepas, hanya tanganku masih sempat meraih dahan hingga tubuhku tak meluncur ke bawah sana. Aku bergelantungan di dahan dengan lilitan ular di tubuhku.

    Kurasakan lilitan itu semakin menghebat dan sakit luar biasa. Aku semakin susah untuk bernapas. Sempat terlintas dalam benak apakah aku akan benar-benar mati di sini? Mati menjadi mangsa ular hutan yang ganas tanpa siapapun yang tahu dan bisa menemukan jasadku?

    Aku rasakan sudah tidak kuat lagi. Mataku kian berkunang-kunang karena asupan oksigen berkurang. Pegangan tanganku di dahan pun mulai melemah dan akhirnya kini terlepas.

    Aku rasakan tubuhku meluncur ke bawah dengan sangat cepat beserta ular yang melilitku itu. 

    Blug!

    Kurasakan hampir semua tubuhku remuk-redam dibuatnya. Aku terjatuh dengan posisi menyamping dan menimpa ular besar yang bergelung di tubuhku. Aku dan ular itu sempat berguling-guling beberapa saat lamanya, tetapi tetap saja ular itu tak mau melepaskan llitannya. Untung saja aku terjatuh dengan menimpa ular itu, kalau tidak pastinya kini tubuhku sudah remuk redam sebab terjatuh cukup tinggi.

    Kini lilitan ular itu kurasakan sedikit mengendur. Sekuat tenaga aku berontak untuk segera melepaskan diri. Aku rasa ini sebuah kesempatan yang baik untuk meloloskan diri.

    Namun, kemudian kurasakan lilitan itu kembali menguat dengan hebat. Aku sudah hampir putus asa. Aku sudah hampir menyerah. Tenagaku hampir terkuras dalam titik terendah yang entah tak bisa kujelaskan lagi dengan kata-kata.

     

    Pandanganku kini sudah gelap. Aku sudah tak bisa bernapas lagi dan hanya pasrah menunggu ajal tiba.

     

    Dalam keadaan itu sekilas aku melihat suatu bayangan, seperti mimpi. Aku berada di suatu tempat yang semuanya berwarna merah. Hanya tempat lapang yang tak berperabot dan tak berpenghuni. Hanya hamparan kosong yang sangat luas sejauh mata memandang.

     

    Kemudian muncul sosok cahaya putih dari langit kemudian mengguyur tubuhku berbarengan suara bisikan yang begitu halus tetapi cukup aku mengerti.

     

    "Takdirmu sudah dimulai, Damar. Kau lah Rumekso ing Wengi yang terakhir. Lakukan tugasmu dengan baik."

     

    Dan tiba-tiba kesadaranku kembali. Kini kusadari ada hawa hangat dalam tulang ekorku bagian bawah. Apakah ini pertanda sebentar lagi nyawaku akan tercabut?

     

    Masih dalam cengkeraman ular itu aku merasakan hawa hangat itu perlahan memanas dan memanas. Mengalir dari tulang ekor naik ke atas kemudian menjalari seluruh tubuhku.

     

    Semua tubuhku kini menjadi panas. Panas sekali.

     

    Tiba-tiba ada suara bisikan lagi, "Kau harus bisa mengendalikannya, Damar!"

     

    Mengendalikan? Mengendalikan apa? Batinku.

     

    Aku masih bisa merasakan bagaimana ular itu kini kepalanya menatapku tajam. Suara desisannya yang semakin nyaring menandakan ia benar-benar buas dan lapar. Hawa gelap dalam hutan memang pekat, tetapi rupanya karena kondisi mataku sudah terbiasa dengan kegelapan sejak tadi hingga membuatku masih bisa melihat, meski samar.

     

    Kepala ular itu makin mendekati kepalaku. Siap untuk menelan tubuhku yang lemah tiada daya ini hidup-hidup.

     

    Hawa panas yang kurasakan tadi kini mulai menjalar dan berkumpul ke arah telapak tanganku. Panas sekali.

     

    Ketika kepala ular itu aku rasakan sudah benar-benar hampir melumat kepalaku spontan aku menggerakkan telapak tanganku ke arah ular itu.

     

    Cras!

     

    Aku terkejut luar biasa. Darah menyembur hebat membasahi tubuhku. Lilitan ditubuhku kurasakan sudah memudar, aku cepat-cepat menguasai keadaan dan memastikan apa yang sudah aku lakukan tadi.

     

    Tergolek di dekatku, ular itu menggelepar -gelepar dengan kepala hancur. 

     

    Aku bergidik. Ngeri.

     

    Apakah aku tadi yang melakukannya?

     

    Dalam kebingungan bercampur rasa takut itu aku beringsut menjauh. Aku memindai sekitar dan segera bergegas. Kini masalahku justru tanganku yang masih panas ini.

     

    Rasanya aku seperti menggenggam bara api. Apa ini? Terasa makin panas dan makin panas.

     

    "Akh!" Aku menjerit lemah.

     

    Air. Yah air. Aku hanya butuh air.

     

    Aku segera berlari dengan terseok-seok mencari di mana sumber air. Entah sungai entah telaga atau entah apapun.

     

    Pepohonan dalam hutan terasa sangat lebat dan sunyi mencekam begitu nyata. Namun, tak kupedulikan. Hanya air yang kucari.

     

    Terus aku berlari ke sana-ke mari. Sampai juga aku di dekat bebatuan hutan yang besar-besar. Samar-samar telingaku mendengar suara bergemuruh. "Sungai? Sungai kah itu?" pekikku lemah.

     

    Tidak salah lagi itu pasti sungai!

     

    Aku segera berjalan tertatih-tatih menuju asal gemuruh. Setelah berapa lama aku berjalan, sampailah aku di sebuah sungai yang cukup besar. 

     

    Aku menghembuskan napas lega.

     

    Namun, untuk mencapai ke sungai itu aku mesti menuruni sedikit batu-batu yang aku rasakan cukup licin dan terjal.

     

    Perlahan. Satu langkah demi satu langkah aku menuruni bebatuan yang menghadang. Berhasil. Sampailah aku kini di pinggiran sungai.

     

    Segera aku mencelupkan tangan kananku yang panas tadi sekalian membasuh tubuhku yang berlumuran darah ular tadi.

     

    Aku juga reguk sepuasnya menuntaskan dahaga yang meraja.

     

    Air ini sangat membantu memulihkan tenagaku.

     

    Kini aku merasakan tanganku sudah mulai dingin. Sembari membasuh badan, aku amati sekitar.

     

    Aku bergidik. Sungai besar yang berpadu dengan hutan yang lebat ini membawaku kepada suasana seram serupa film-film horor yang aku tonton selama ini. Ketika hanya menonton aku bisa merasakan sedikit suasana kengerian itu apalagi kini aku mengalaminya sendiri, tentu berkali-kali lipat kengerian itu menyergap.

     

    Lamat-lamat burung-burung dan hewan malam terdengar, seperti sengaja melengkapi suasana mencekam yang kualami.

     

    Kurebahkan badanku di atas batu besar yang agak pipih. Angin malam membelai seluruh wajahku dengan lembut.

     

    Terekam lagi dalam benak kejadian-kejadian seharian ini. Mulai dari motor mati, ketemu hantu kepala, bertemu kakek psikopat, ular raksasa dan kemudian rasa panas dalam tubuhku yang sangat aneh. Namun, aku diam-diam bersyukur sebab rasa panas itu aku bisa membunuh ular itu.

     

    Apakah ini yang dinamakan tenaga dalam?

     

    Entah ….

     

    Masih mencoba mencerna semua kejadian. Lalu, satu lagi. Suara siapa yang membisikan itu? Masih terekam jelas kata: rumekso ing wengi terkahir? Takdirku? Tugas? Apa itu semua?

     

    Kini aku benar-benar kebingungan dibuatnya.

     

    Sudahlah. Mungkin bisa aku pikirkan nanti. Sekarang tubuhku sudah sedikit bugar, tenagaku mulai pulih meski belum sempurna. Aku hanya butuh istirahat sejenak sembari menunggu fajar tersibak. Semoga Kekek Suman tidak menemukanku di sini. Karena bagiku ia tak kalah menyeramkan dibanding ular ganas tadi.

     

    Angin malam yang syahdu berpadu dengan suara air mengalir seperti alunan musik, hingga membuatku menjadi terlena dan siap untuk terlelap.

     

    Namun, belum sempurna benar lelapku, perlahan kudengar suara perempuan berkidung. Seperti tembang Jawa. 

     

    Aku pasang kupingku tajam-tajam. Suara kidung itu terdengar timbul-tenggelam.

     

    "Tak lelo, lelo lelo ledung. Cup menenga, anakku, Cah Ayu. Tak lelo … lelo lelo ledung, cup menenga anakku, Cah Ayu …."

     

    Suara itu terus saja mengalun hingga membuat aku menjadi penasaran. Siapa pula pagi buta begini bernyanyi? Apakah itu setan?

     

    Aku bangkit. Kemudian mencari asal suara. Tak jauh dari tempatku, samar kulihat sesosok tubuh berambut panjang dengan warna pakaian yang kutaksir berwarna merah.

     

    Aku menajamkan mata, mencoba menembusi rupa sosok itu, tetapi karena suasana masih terlalu gelap dan agak lumayan jauh, aku masih belum bisa memastikan dengan benar seperti apa sosok itu.

     

    Jalan satu-satunya aku harus mendekat.

     

    Perlahan aku beringsut mendekat, mencoba memangkas jarak dengannya. Entah kenapa seketika bulu kudukku berdiri dan jantungku berdebar kencang.

     

    Kumantapkan hati. Aku terus mendekat.

     

    Auuu ….

     

    Suara lolongan anjing hutan terdengar dari kejauhan, membuat jantungku hendak lompat dari peraduannya, nyaliku kini dibuat kecut. Namun, karena rasa penasaranku yang membuncah, aku tetap melangkah memberanikan diri untuk tetap mendekatinya.

     

    Inilah aku. Sedari dulu aku punya rasa penasaran yang tinggi yang terkadang dibilang oleh teman-temanku sebagai hal yang berlebihan.

     

    Sebenernya hutan apa ini? Kenapa banyak sekali hal-hal aneh terjadi?

     

    *Bersambung ….

     

    Ikuti tulisan menarik Em Fardhan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.