Babah Alun Naik Haji - Hiburan - www.indonesiana.id
x

cover buku Babah Alun Naik Haji

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 16 Agustus 2022 07:08 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Babah Alun Naik Haji

    Pengalaman Jusuf Hamka sebagai seorang tionghoa menjalankan ibadah haji.

    Dibaca : 1.359 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Babah Alun Naik Haji

    Penulis: H. M. Jusuf Hamka

    Tahun Terbit: 2020

    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

    Tebal: xii + 136

    ISBN: 978-602-06-4634-3

     

    Dari koleksi buku saya tentang pengalaman berhaji yang tidak seberapa, buku “Babah Alun Naik Haji” karya Yusuf Hamka ini adalah yang paling lengkap menuliskan tempat-tempat yang dikunjungi oleh para Jemaah haji. Koleksi buku saya tentang pengalaman berhaji tak banyak. Ada tiga jilid “Naik Haji di Masa Silam” yang memuat pengalaman berhaji di masa lalu, ada “Orang Jawa Naik Haji” karya Mas Danarto almarhum. Ada juga beberapa buku karya teman-teman saya yang berhaji. Buku-buku yang mengisahkan pengalaman naik haji lebih banyak berkisah tentang pengalaman pribadi dalam ibadah untuk memenuhi undangan dari Allah. Sangat jarang yang memuat deskripsi tempat-tempat yang dikunjungi dan sejarahnya.

    Siapakah Jusuf Hamka? Menurut penelusuran di Wikipedia dan dari berbagai sumber, saya mendapatkan informasi bahwa Jusuf Hamka lahir dengan nama Joseph Alun pada tanggal 5 Desember 1957 di Samarinda. Ia mengucapkan 2 kalimat sahadat dengan bimbingan Buya Hamka dan menjadi mualaf pada tahun 1981 di Masjid Al-Azhar Jakarta. Meski sudah menjadi Islam dan berganti nama, namun panggilan Babah Alun kepadanya tidak hilang.

    Jusuf Hamka adalah seorang pengusaha yang sukses. Usaha utamanya adalah dalam pembangunan jalan tol. Meski sukses sebagai pengusaha, Jusuf Hamka bukanlah orang yang pelit. Ia rajin beramal. Salah upayanya untuk berbagi adalah dengan program Warung Nasi Kuning Pojok Halal untuk melayani kaun duafa. Babah Alun juga berupaya untuk mengajak berbagai pihak untuk beramal. Ia bekerjasama dengan organisasi-organisasi amal dari bermacam agama.

    Babah Alun naik haji pada tahun 1984, tiga tahun setelah menjadi mualaf. Sebelum berangkat, ia mengadakan syukuran di Hotel Borobudur yang dihadiri oleh Menko Kesra Alamsyah Ratuperwiranegara, Ibu Nely Adam Malik – ibu angkat Jusuf Hamka, para tokoh Muslim Tionghoa dan para undangan penting lainnya. Perjalanan hajinya didampingi oleh Dr. Mochtar Sum.

    Dalam buku ini, Babah Alun menggambarkan betapa bahagianya ia bisa memenuhi panggilan Allah untuk beribadah haji. Diungkapkannya perasaan bahagianya saat mengunjungi makam Nabi, saat mencium Hajar Aswad dan saat selesai menunaikan ibadah hajinya.

    Seperti halnya Mas Danarto, Babah Alun tidak melakukan umroh sebelum berhaji. Itulah sebabnya ia memerlukan pendamping yang bisa memberikan bimbingan saat menjalankan ibadah penting ini.

    Ia menyinggung serba sedikit tentang ke-tionghoa-annya. Ia tidak menonjolkan topik ini dalam bukunya. Ia hanya memuat beberapa keheranan dan kemudian kekaguman dari orang-orang di Jakarta, di Madinah dan di Makkah saat tahu bahwa ia adalah Muslim Tionghoa.

    Hal menarik yang disampaikan oleh Babah Alun dalam buku ini – dan membuat berbeda dari buku-buku pengalaman berhaji koleksi saya, adalah deskripsinya tentang tempat-tempat yang dikunjunginya. Dalam deskripsi itu, Babah Alun melengkapinya dengan sejarah tempat-tempat tersebut.

    Setelah menjelaskan serba singkat pengalamannya di Pndok Gede dan dalam perjalanan pesawat, Babah Alun menguraikan tempat-tempat di Madinah. Ia menjelaskan pengalamannya beribadah di Masjid Nabawi dan mengunjungi Makam Nabi. Tak hanya menguraikan pengalaman spiritualnya, Babah Alun juga menjelaskan tentang sejarah Masjid Nabawi yang dilunya didirikan oleh Nabi Muhammad. Tentang Madinah ia memberikan informasi tentang Jabal Uhud, Masjid Quba, Masjid Jumat, Masjid Khamsah, Masjid Qiblatain, Masjid Ghamamah dan Masjid Dira’.

    Perjalanannya di Makkah dibuka dengan penjelasan mengapa Makkah disebut sebagai Tanah Haram. Penjelasannya bahwa Makkah disebut sebagai Tanah Haram karena banyak hal yang diharamkan untuk dilakukan di kota ini, membuat saya menjadi tahu. Selama ini saya bertanya-tanya mengapa kota yang menjadi tempat suci disebut sebagai Tanah Haram. Babah Alun menggambarkan secara rinci proses berhaji di Tanah Haram; yaitu mulai dari Tawaf, Sai, wukuf di Arafah, mubit di Mina sampai melempar jumrah. Tentang sumur Zamzam, Babah Alun memberikan sejarah singkatnya. Sumur ini adalah hadiah dari Allah bagi Siti Hajar yang mencari air untuk menyelamatkan Ismail anaknya yang kehausan di padang gurun.

    Tempat-tempat yang dikunjungi di Makkah dideskripsikan dengan gaya yang sama. Yaitu memberikan latar sejarah serba singkat. Tepat-tempat itu adalah Jabal Rahmah, Masjid Namirah, Jabal Nur, Jabat Tsur, Masjid Abu Bakar Ashshiddig, Masjid Arrayah, Masjid Jin, Masjid Khalid Bin Walid, Kuburan Ma’la, Perpustakaan Daar Maulid Nabi, Daar Siti Khadijah, Daar Maulid Sayyidina Ali,

    Bagi mereka yang akan berhaji atau umrah, buku ini akan sangat cocok untuk dibaca sebelum berangkat. Sebab dengan pengetahuan tentang tempat-tempat ini dan sejarahnya, niscaya ibadah akan menjadi lebih khusyuk. 697

    Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.