Senandika Utopis Nonfilosofis - Humaniora - www.indonesiana.id
x

KOLEKSI FOTO PRIBADI

Taufan S. Chandranegara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Juni 2022

Selasa, 16 Agustus 2022 12:22 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Senandika Utopis Nonfilosofis

    Artikel. Senandika Utopis Nonfilosofis. Cermin kasih sayang. Menyambut hari jadi Kemerdekaan RI, ke-77 tahun, 17 Agustus 1945-2022. Bersama dalam doa khusyuk. Salam baik saudaraku.

    Dibaca : 558 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Perdebatan tentang air versus langit hampir dibilang nyaris tak ada, kalau pun ada barangkali di lubuk hati terdalam, mungkin malah serupa pertanyaan terherenheran ‘mengapa langit sedemikian maha luas, setetes embun mampu memberi kesegaran oksigen’. 

    Planet di bimasakti mencapai esensi sublimasi edukasi kultural, sains-teknologi. Tak serupa debat kusir di planet utopia nun jauh tak bertepi, berkicauan sebatas mencapai kantong lehernya sendiri.
    ***

    Fakta air merupakan fakta langit, demikian pula sebaliknya, langit atau air dua produk Ilahiah sangat bermanfaat bagi makhluk hidup di bimasakti, sebagaimana sifat hakikatnya, air memberi kesegaran oksigen ke udara mencapai langit, demikian pula sebaliknya, keseimbangan saling memberi manfaat. 

    Tak sekadar kepura-puraan mencapai makrifat untuk mufakat sebatas kata gayung bersambut di balik bantal, mimpi indah di sangkar sendiri, lantas segera mendengkur.

    Kalau mau berkehendak mencapai kesadaran oksigen paripurna kawasan bening, kebenaran filosofis-merupakan garis tebal bagi fakta materi, itu, sebabnya pula tak ada langit tak ada bimasakti demikian pula sebaliknya-pasti, tak kan ada pula kehidupan. 

    Para 'isme', seru banget, jungkir balik di ruang hampa tak sewarna tak serupa apapun. Tak ada pula arti dari materi ke.isme.an-bertopeng hipokrisi di ruang hampa. Tak bisa main catur, lagi, di dua sisi pijakan bertanduk, invalid-tak mampu bersiap membuat arena adu sapi.
    ***

    Para pujangga menulis prosa, menata esai bagi langit mencipta awan memberi hujan, membuka mata air penyubur kehidupan para planet. Menciptakan kebaruan daya kebudayaan bagi kemaslahatan keramaian kemitraan beragam kehidupan. 

    Merencanakan benua baru di planetplanet-Cipta Ning Jagad Ranying Mahatalla Langit. Tak serupa-tak sama atau sebangun, dengan perubahan akronim asal-asalan, sekadar menjadi cuaca-uap polusi cuap-cuap, keriuhan pasar tontonan. Tak mencapai janji kepada cahaya penciptaan telah tertulis.

    Syair menulis kata, merupakan salah satu hak hidup, memberi amal pada berita tertulis bagi publik di antara kebenaran citacita. Mungkin saja-apabila bungabunga jarang bermekaran di musim kemarau, kecuali bunga perdu, itu, salah satu pertanda paceklik bagi air pemberi amanah kehidupan. 

    Kemarau kesedihan bagi langit apabila cahaya bening tak mampu menggapai citarasa luasnya pemandangan pandangan-pandangan, di antara musim melalui garis isoklin pada peta tujuan.
    ***

    Berikanlah nasib baikmu sedikit saja pada malaikat pembawa kabar untuk dikirim kepada saudaramu. Biarkan kata-mu, menjadi syiar ketika saudara sesama membutuhkan cinta segayung air bagi padi di sawah saudaramu. 

    Namun, jangan katakan apapun pada media semesta. Sebab amalmu bukan untuk dosamu-di berita itu. Amalmu, hanya, untuk memicu mata air bagi saudaramu membutuhkan air dimanapun saudaramu berada.

    Salamkan cinta kasihmu tanpa imbalan promo-aksi, titipkan pada langit, untuk merubah kebijaksanaan, ambigu-hanya, sekadar mencapai pandangan politisasi penggayaan, tak menjadi kepentingan berita acara keselamatan semesta.

    Tidak. Jangan-mengambil hakmu dari penderitaan saudaramu tanpa air, tambahkanlah cinta agar air menjadi berkat bagi saudaramu untuk hidupnya, atas segala hal menjadi hidup baginya juga keluarganya. 

    Air ataupun langit milik kehidupan-tak ada penggayaan politisasi hoho.hahihu, di sana. Karena esensi pemilihan umum bagi mata air-di seantero planet bumi-adalah, milik publik semesta, bukan milik personal. 

    Salam Indonesia Unit-Menyambut hari jadi kemerdekaan RI, ke-77 tahun, 17 Agustus 1945-2022. Bersama dalam doa khusyuk.
    ***

    Jabodetabek Indonesia, Agustus 15, 2022.

    Ikuti tulisan menarik Taufan S. Chandranegara lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.





    Oleh: Dien Matina

    2 hari lalu

    Antre

    Dibaca : 167 kali