Kurma - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Buah Kurma dalam Stoples (Sumber: wikihow)

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 16 Agustus 2022 15:34 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Kurma

    Dia duduk di sofa dan membuka kaleng di depannya. Isinya buah kurma kering, buah favoritnya. Dia memaksakan bibirnya untuk tersenyum dan berkata dengan suara nyaring, "Selamat ulang tahun, Mahiwal!" Lalu mulai makan, menjernihkan pikirannya dari skenario bencana. Mungkin ada bala bantuan di luar sana. Mahiwal akan menunggu. Dia punya waktu. Masalahnya adalah, makhluk di sekitarnya juga punya waktu. Sepanjang waktu yang ada di dunia.

    Dibaca : 660 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    “… jadi kesimpulan untuk hari ini sama seperti hari-hari sebelumnya: hanya bisa berharap.”

     

    Mahiwal menutup buku hariannya. Sampulnya tertera '2027: Tiga Tahun Setelah Dunia Berakhir'.

    Dia tidak terlalu menyukai judul itu, tetapi itu adalah kenyataan yang tak terbantahkan. Selain itu, jika ada yang menemukannya di masa depan, mereka mungkin akan mengenalinya sebagai bahan bacaan yang berharga.

    Dia membuka laci meja dapurnya dan memasukkan buku itu ke dalamnya, lalu bangkit untuk menuangkan secangkir kopi untuk dirinya sendiri, jika itu bisa disebut satu porsi bubuk instan dengan air dingin.

    Memanaskan apapun tidak mungkin dilakukan setelah generator darurat Mahiwal rusak tiga bulan lalu. Dia tidak memiliki suku cadang untuk memperbaikinya dan mengutuk dirinya sendiri karena lupa menyimpannya sejak saat itu. Semua persiapannya telah begitu matang, namun dia telah mengabaikan barang kecil ini, tapi begitu penting.

    Tegukan 'kopi' pertamanya membuatnya meringis. Rasanya tidak enak, tetapi Mahiwal akan terus meminumnya sampai akhir hayatnya. Ritual-ritual kecil ini diperlukan untuk menjaga kewarasannya, atau begitulah yang dia yakini.

    Dengan cangkir di tangan, Mahiwal bangkit dan masuk ke kamar tidur keduanya, yang sekarang berfungsi sebagai gudang. Berlapis-lapis rak kayu yang kokoh telah dipasang, masing-masing diisi penuh dengan kaleng-kaleng aluminium. Label aslinya telah dirobek satu per satu, diganti dengan label putih sederhana dengan tanggal tulisan tangan di atasnya. Tangan Mahiwal bergerak menuju rak bertanda Juli 2013 dan sesaat kemudian melingkari kaleng yang bertuliskan 25 Juli.

    Dia memperhatikan balon-balon kecil yang digambar di sekitar tanggal, menandai ulang tahunnya yang keempat puluh tujuh. Untuk sementara dia hanya menatap sisa waktu di mana percikan harapan masih tersisa. Ulang tahun berarti sesuatu saat itu, dengan cara yang menegaskan bahwa kamu dikelilingi oleh orang-orang yang mencintaimu. Hari-hari ini setiap ulang tahun hanya berarti satu tahun lagi hidup sendiri. Bertahan sendirian.

    Seseorang hanya bisa berharap. Untuk alasan ini, Mahiwal memaksa dirinya untuk pergi ke balkon setiap pagi memeriksa situasi. Membuka pintu hanya akan memperkenalkan bau busuk yang dia tidak akan pernah terbiasa.

    Mengintip dari tepi mengungkapkan pemandangan yang sudah akrab selama hampir tiga tahun. Membentang ratusan meter di jalan-jalan di bawah adalah pasukan makhluk yang membuatnya terkurung di apartemen kecilnya selama ini. Di sana mereka berdiri, tidak bergerak, dengan sabar menunggu hari dia akan membuka pintu apartemennya yang dibarikade untuk akhirnya mencoba melarikan diri. Kemudian mereka akan cepat melahapnya atau, lebih buruk lagi, menjadikannya salah satu dari mereka. Mahiwal selalu membayangkan bahwa setidaknya dalam kasus seperti itu dia tidak akan sendirian lagi.

    Suara berkumur membuatnya menoleh ke kanan. Beberapa meter jauhnya berdiri tetangganya, Nyonya Mulyani, atau apa yang tersisa dari wanita tua itu. Pikiran bahwa akan dimakan oleh wanita tua penggemar kucing itu sudah cukup menjadi alasan untuk terus bertahan. Di belakang tubuhnya yang compang-camping berdiri sekelompok zombie lain, memenuhi balkon hingga penuh sesak. Di balik itu, kemungkinan besar seluruh apartemennya dipenuhi dengan mereka, lalu selasar flat, tangga, lobi, bahkan mungkin poros lift.

    Mahiwal benar-benar terkepung Satu-satunya bantuan yang mungkin ada datang dari luar, tetapi setiap hari pasukan di sana bertambah besar dan lebih menakutkan. Ini meningkatkan perasaan bahwa mungkin tidak ada orang lain yang bisa diburu oleh makhluk itu.

    Mungkin dia satu-satunya makhluk hidup yang tersisa.

    Mahiwal menggelengkan kepalanya dan kembali ke dalam. Dia tidak akan membiarkan dirinya memiliki pemikiran seperti ini, mendekati kenyataan sebagaimana adanya. Bagaimanapun, kewarasannya dipertaruhkan di sini.

    Dia duduk di sofa dan membuka kaleng di depannya. Isinya buah kurma kering, buah favoritnya. Dia memaksakan bibirnya untuk tersenyum dan berkata dengan suara nyaring, "Selamat ulang tahun, Mahiwal!" Lalu mulai makan, menjernihkan pikirannya dari skenario bencana.

    Mungkin ada bala bantuan di luar sana. Mahiwal akan menunggu. Dia punya waktu.

    Masalahnya adalah, makhluk di sekitarnya juga punya waktu. Sepanjang waktu yang ada di dunia.

     

    Bandung, 16 Agustus 2018

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.






    Oleh: I. Jepris Mitang

    2 hari lalu

    Ruang Makan

    Dibaca : 178 kali


    Oleh: I. Jepris Mitang

    2 hari lalu

    Hotel Mewah

    Dibaca : 167 kali