Pada Suatu Orkestra Sunyi - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Selasa, 16 Agustus 2022 15:35 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Pada Suatu Orkestra Sunyi

    Barangkali ilmu linguistik telah melakukan suatu inovasi berdasarkan studi perbandingan bahasa komunikasi antar manusia sesuai wilayah geografi. Ini mengingatkan saya tentang penelitian dalam revolusi linguistik yang dikenal sebagai teori relativisme linguistik oleh Edward Sapir bersama Benjamin Lee Whorf bahwa dalam studinya, bahasa Indian Amerika dari suku Hopi melihat dunia sebagai "seperangkat benda", sedangkan pada bahasa Indo-Eropa melihat dunia sebagai "kumpulan tindakan". Bagaimana dengan bahasa India dan bahasa Indo-China, dan, apakah bahasa Indonesia turut mengalami evolusi transkultural antara global hingga digital atas perkembangan bahasa?

    Dibaca : 410 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sebelum matahari terbit, terdengar ketukan beberapa kali di depan rumah yang “bergema/echoing”. Suatu “getar/vibration/vibrare” seringkali menyentak walaupun reaksi spontan ini tidak berdampak serius. Mungkin sebab pengalaman tubuh yang telah melalui suatu peristiwa fenomena alam seperti, gempa bumi yang sangat kuat mampu menjadikan tubuh sangat sensitif merasakan vibration dalam peristiwa fenomena alam termasuk merasakan efek yang ditimbulkan dari pergerakkan mesin-mesin berat. Bahkan hal-hal yang memiliki kekuatan kecil dapat ditangkap oleh organ tubuh dan mampu memberi satu echoing masing-masing untuk mengingatkan kembali pada peristiwa lampau.

    Tubuh melalui pengalamannya seringkali menyampaikan suatu tanda/gejala dengan bahasanya, dan kita seringkali mengabaikannya, dengan reaksi pikiran secara otomatis yang bersifat circuit breaker. Ini menjadi pertanyaan besar bagi saya tentang pengalaman tubuh dalam merespon pikiran dan juga sebaliknya sebagai suatu clustering yang menjadi proses transkultur dari pengalaman tubuh dalam bahasa komunikasi, otak, pengetahuan tentang kebudayaan. Yang dalam hal ini, saya mencatatnya sebagai seseorang yang memahami bahasa literasi dalam kacamata bahasa tubuh/bahasa tari.

    Apakah cara kerja berpikir manusia atas keberadaan tubuhnya sendiri telah benar-benar maksimal dalam menerima pengalamannya sebagai signal natural dari bahasa yang intim dan intens?

    Dalam eksplorasinya tentang "Theatre of Cruelty (First Manifesto)", Antonin Artaud menyebutkan bahwa: "We must speak now about the uniquely material side of this language that is, about all the ways and means it has of acting upon the sensibility." Pada echoing “sensibilitas/sensibility inilah, bahasa tubuh dalam komunikasi sangat berbeda dan di mana perbedaan semakin diperkuat dengan identitas tubuh berdasarkan kategorinya secara geografis. Apakah hal ini juga akan mempengaruhi perkembangan bahasa tubuh dalam komunikasi pada abad ke duapuluh satu?

    Lantas, bagaimana kita mengenali makna dalam istilah "bahasa ibu/mother language"?

    Apakah bahasa tubuh dapat dipahami sebagai bahasa ibu dalam individualitas mahluk hidup?

    Barangkali ilmu linguistik telah melakukan suatu inovasi berdasarkan studi perbandingan bahasa komunikasi antar manusia sesuai wilayah geografi. Ini mengingatkan saya tentang penelitian dalam revolusi linguistik yang dikenal sebagai teori relativisme linguistik oleh Edward Sapir bersama Benjamin Lee Whorf bahwa dalam studinya, bahasa Indian Amerika dari suku Hopi melihat dunia sebagai "seperangkat benda", sedangkan pada bahasa Indo-Eropa melihat dunia sebagai "kumpulan tindakan". Bagaimana dengan bahasa India dan bahasa Indo-China, dan, apakah bahasa Indonesia turut mengalami evolusi transkultural antara global hingga digital atas perkembangan bahasa?

    Ini menjadi pengalaman tentang clustering atas proses waktu sebelum matahari terbit dalam ruang orkestra yang sunyi.

    Bagaimanapun, bahasa literasi lebih dari sekadar alat komunikasi berbahasa sebab realitas sekaligus perilaku dari pengalaman tubuh mampu membangun persepsi personal dalam “menerima-merasa-mengingat” hingga merefleksikannya saat personal bersosial sebagai suatu echoing dan vibration. Hal yang cukup sering menjadi tanda tanya besar adalah, bagaimana seseorang begitu lugas dalam menulis karya-karya sastra baik dalam prosa pun puisi cenderung mengatakan; “saya gak ngerti bahasa tubuh, apalagi bahasa tari”. Apakah di sini, seorang Antonin Artaud mengabaikan karya sastra sebagai dasar perkembangan linguistik meniadakan bahasa tubuh sebagai bahasa ibu? Dan, apakah untuk memperkaya pengetahuan atas budaya tubuh sebagai siklus kebudayaan cenderung direspon ke suatu gaung penolakan tegas atas penghormatan pada bahasa ibu?

    Sambil menunggu air matang untuk menikmati pagi yang lain bersama kopi dengan krim susu juga kayu manis. Ada yang mencukil ingatan pada sebuah kalimat dari Johan Wolfgang von Goethe: “He who knows no foreign languages knows nothing of his own”. Hari baru untuk merenungkan kembali seluruh makna tentang kemerdekaan dan merdeka sebelum esok menjadi hari berpesta bagi negeri ini untuk tujuhpuluh tujuh.

    Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.






    Oleh: I. Jepris Mitang

    2 hari lalu

    Ruang Makan

    Dibaca : 176 kali


    Oleh: I. Jepris Mitang

    2 hari lalu

    Hotel Mewah

    Dibaca : 165 kali