Tanpa Diferensiasi, Peluang Partai Baru Tipis - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 18 Agustus 2022 11:16 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Tanpa Diferensiasi, Peluang Partai Baru Tipis

    Rakyat tidak mudah berpaling dari partai lama, sekalipun mereka tidak puas atas kinerja partai-partai lama. Bila tak ada pilihan lain yang lebih menarik, untuk apa berpaling kepada partai baru? Inilah tantangan berat bagi partai baru: menawarkan kebaruan dalam banyak hal kepada rakyat.

    Dibaca : 1.826 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Sebanyak 40 partai politik sudah mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum [KPU], tapi belum tentu seluruhnya lolos ke Pemilu 2024--sejauh ini 24 partai saja yang lolos saringan pertama. Mereka terdiri partai lama yang sudah mendudukkan wakilnya di parlemen pusat, partai lama yang belum punya wakil di parlemen pusat, serta partai politik yang baru kali ini berniat mengikuti Pemilu 2024. Bagaimana peluang partai-partai baru ini? Mampukah mereka menandingi partai-partai lama yang sudah bertahun-tahun malang-melintang di jagat politik tanah air?

    Sebenarnya, banyak partai hingga puluhan bukanlah hal yang bagus bagi perkembangan demokrasi, karena kekuatan politik akan terpecah-pecah dalam ukuran kecil. Ada kecenderungan kurang baik, partai dengan suara kecil akan berusaha nempel pada partai politik besar. Partai kecil tidak cukup memiliki kekuatan yang diperlukan untuk memengaruhi pengambilan keputusan. Partai lama yang telanjur besar akan tetap dominan. Keseimbangan politik tidak akan berubah secara berarti.

    Rakyat banyak pun akan menunggu seperti apa sosok partai politik baru ini. Apa sih bedanya dengan partai lama? Seperti dalam bisnis, apa diferensiasinya dari yang lama? Bila tidak ada sesuatu yang baru, berbeda, menonjol, dan menarik perhatian, partai-partai baru hanya akan mengamburkan banyak sumberdaya. Kebaruan dan kesegaran gagasan, model organisasi, kepemimpinan, rekrutmen, hingga tawaran programlah yang bisa menjadi pembeda. Tapi apa?

    Terlebih lagi, sebagian partai baru ini merupakan pecahan dari partai lama. Partai Ummat, misalnya, adalah pecahan dari Partai Amanat Nasional [PAN] yang dimotori politisi senior Amien Rais. Begitu pula, Partai Gelora dibentuk oleh mantan petinggi PKS, antara lain Anis Matta dan Fahri Hamzah. Ada pula partai bentukan cucu mantan Presiden Soeharto. Apa diferesiasi yang mereka tawarkan?

    Ideologi seperti apa yang mereka usung, gagasan segar apa, program cemerlang apa yang mampu membuat rakyat berpaling kepada mereka? Sebagai pendatang baru, mereka tidak sepenuhnya baru dalam nilai-nilai yang mereka bawa. Lantas tawaran apa yang membedakan mereka dibandingkan partai-partai lama?

    Seperti halnya dalam bisnis, diferensiasi dari pemain yang sudah lama bertarung di gelanggang lazimnya menjadi daya tarik bagi konsumen untuk menengok mereka. Sebagai misal, produsen mie instan baru terjun ke arena kompetisi, konsumen akan melihat apakah produsen menawarkan varian rasa baru, kemasan yang berbeda, harga yang kompetitif, hingga model promosi yang menawan. Tanpa itu, konsumen akan menunggu ulasan bagus tentang mie instan baru ini.

    Begitu pula di jagat politik. Partai yang baru memasuki gelanggang yang sudah dihuni oleh pemain-pemain lama butuh energi terbarukan untuk mampu menyedot perhatian masyarakat. Energi itu bisa dimanifestasikan ke dalam diferensiasi yang membuatnya berbeda dari partai-partai lama. Tanpa tawaran program yang terang benderang bedanya dari partai yang sudah ada, tidak mudah partai baru menghimpun dukungan. Rakyat tidak mudah berpaling dari partai lama, sekalipun mereka tidak puas atas kinerja partai-partai lama. Bila tak ada pilihan lain yang lebih menarik, untuk apa berpaling kepada partai baru? Inilah tantangan berat bagi partai baru: menawarkan kebaruan dalam banyak hal kepada rakyat. Sanggupkah? >>

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.