Dongeng Panda Kecil dan Pin Merah Putih - Analisis - www.indonesiana.id
x

Karnaval HUT RI. Foto: Ranta Fitry di Pixabay.com

Taufan S. Chandranegara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Juni 2022

Rabu, 17 Agustus 2022 08:42 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Dongeng Panda Kecil dan Pin Merah Putih

    Dongeng Panda Kecil dan Pin Merah Putih. “Adik? Sudah siap maju ikut lomba Sumpah Pemuda. Sudah hafal teks pidatonya?” Dick mengangguk, tersenyum cerah terang benderang, semangat generasi unggul.

    Dibaca : 514 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Perjalanan cerita ini dimulai saat malam sunyi senyap. Para bintang lelap tidur berselimut gemerlap. Panda Kecil, turun dari peraduan. Pelahanlahan, beringsut mundur amat pelan sekali super hatihati menuju turun dari ranjang serasa penjara. Dia heran tak jua sampai kaki ke lantai. 

    “Aku tidak boleh kehilangan akal. Manusia Techno ini tidak boleh bangun. Bahaya.”

    Panda Kecil beringsut lagi setenang mungkin, mundur sedikit demi sedikit, lagi, terus, mencoba lagi. Tubuh mungilnya seperti melayang di atas kasur. Setengah badan hingga ke kaki menggantung ke-arah bawah, separuh badan ke-atas hingga kepala masih di kasur. Dengan sertamerta, tangan mungil Panda Kecil, meraih selimut Manusia Techno.

    “Wah! Gawat,” Amat berbisik suara dari mulut mungil Panda Kecil itu. Tubuh Panda Kecil, berhasil merosot, selimut dicengkeraman kuatkuat, tubuh Panda Kecil, masih juga menggantung di tepi ranjang tidur. "Wah! Gimana sih maksud kakiku. Enggak kompak deh. Gawat! ini sangat gawat!"

    Karena kedua kaki terjuntai ke-bawah belum menyentuh lantai kamar. Kepala Panda Kecil celingakcelinguk mencari akal di kepalanya. "Kenapa sih akalku jadi macet begini, deh." Kalau nekad melepaskan cengkereman tangan dari selimut, dalam kalkulasi perkiraan pikiran, bingung antara nekad tapi dag dig dug, dia, akan terjerebab, lalu akan menimbulkan suara berisik. Mungkin saja berdebam, berdebuk. "Wahh. Aku tidak boleh putus harapan. harus bisa! Nekad aja, deh."

    “Bam! Buk! Buk”, atau “Buk! Bam! Bam! Waduh! Bisa semakin kacaubalau.” Jika Manusia Techno terbagun, pelarian kali ini gagal lagi. Sementara Dick, mungkin, kini tengah entah dimana. "Dick! Muncullah sobat!" Berteriak di benaknya.

    Panda Kecil, masih mencengkeram selimut kuatkuat agar tubuh tak segera merosot, Dia tak ingin gagal lagi usaha pelarian kesekian kali ini, setelah gagal berkalikali, selalu, gagal lagi, selalu begitu. "Kenapa ya. Si jahat ini selalu menang," di benaknya.

    “Kesal! Hih! Hih!” Panda Kecil, sangat jengkel sendiri. “Kali Ini tidak boleh gagal lagi.” 

    Panda kecil memeras otaknya berkalikali, tak mungkin dia bertumpu di pinggir ranjang Manusia Techno, terusmenerus dalam rangka upaya merayap turun, seraya tetap mencengkeram selimut Manusia Techno, terbuat dari baja tipis, licin. Panda Kecil, ingin menangis, ingin sekali berteriakteriak minta tolong, tapi entah kepada siapa.

    “Dick where are you! Help me please…”, tanpa terasa Panda Kecil, menggenang air matanya, dia menahan dengan segala daya agar tangisan tak bersuara terisak-isak. Sesak rasa di dada. "Kenapa aku, jadi cengeng begini. Oh! Tidak. Aku tidak boleh cengeng. Harus kuat."

    Manusia Techno, menggeliatkan tubuh, merubah posisi tidur, secara bersamaan Panda Kecil, setara otomatis ketarik lagi ke-atas, terasa malah mendekat. "Wah!" Bagian tubuh serta kepala kembali ke posisi semula. Separuh badan dengan kepala di atas kasur, separuh badan serta kaki menggantung lagi seperti semula tadi. 

    Entah disengaja atau tidak, Manusia Techno, menarik selimut lebih tinggi menutupi badan hingga ke-bahunya, otomatis Panda Kecil, nyaris bersisian di samping tubuh Manusia Techno, namun kini posisi Panda Kecil sejajar sepinggang Manusia Techno "Eh! Halah! Malah makin mendekat posisiku. Gawat! Serius. Gawat!"  

    Panda Kecil terus mencengkeram selimut, mengatur napas pelahan nyaris tanpa suara, mencoba mengendalikan jantungnya, agar peredaran darah sekujur tubuh normal, tak kejangkejang, ketakutan. Seraya menyembunyikan separuh kepala di bawah selimut, dia takut sekali, Manusia Techno, terbangun. "Waduh!" 
    ***

    Mencurigai diri sendiri, karena berniat untuk melarikan diri. Panda Kecil, mencoba lebih menenangkan diri sekaligus juga pikiran, perasaan, agar metabolisme peredaran darah ke otak tak terantuk jalan buntu. Lagi, terus mengatur hati, detak jantung, upaya maksimal agar lebih santai, setenang air danau sebelum hujan. Fokus, agar mendapat kekuatan diri kembali.

    “Hei! Pemalas! Bangun!” Suara bentakan keras Manusia Techno, membangunkan Panda Kecil, saat seolaholah lelap tertidur dengan kepala separuh di bawah selimut, seakanakan tak sengaja menyembunyikan kepala di bawah selimut. 

    Panda Kecil. Purapura terkejut. Dag! Dig! Dug! Tapi, sesungguhnya jantung serasa melompat keluar tubuh, mendengar suara menghardik itu. Ternyata! Oh! Ternyata. Lagi-lagi dia tertidur sungguhan, untuk kesekian kali, setelah kesekian kali pula, dia, gagal melarikan diri dari Manusia Techno itu. "Gawat!" Suara di hatinya.

    “Ayo! Bangun! Atau aku setrum kakimu!” Suara Manusia Techno menghardik lebih berteriak. Terasa lebih kejam dari kebiasaannya. Panda Kecil, segera melompat, sembari menahan galau perasaannya, sangat kacaubalau.

    “Jangan! Tuan, sangat mulia”, suara Panda Kecil, bergetar gemetar.

    “Bagus! Kerjakan tugasmu segera, tak perlu mandi!” Lagi, Manusia Techno bersuara nyaring, seperti jutaan kaleng rombeng diketokketok jutaan makhluk hidup, terdengar, terasa, semakin kejam. Panda Kesil segera melompat, bergegas menuju kewajiban tugastugas sebagaimana telah dibebankan. 

    “Wang! Weng! Wong! Dung! Dung! Treng!” Suara musik, pertanda perintah dari sang majikan, si Manusia Techno, telah menggema, isyarat wajib segera bergiat bekerja.
    ***

    Panda Kecil, mengerjakan tugas utama membersihkan rumah mesin pusat kendali kehidupan Manusia Techno. Meski akal Panda Kecil, terus mencari kelemahan dari kekuatan Manusia Techno. Namun tak menemukan cara terjitu. Meski selalu terpikir oleh Panda Kecil, untuk mematikan rumah mesin dengan air sebanyak mungkin ke-seluruh ruangan itu. 

    “Tak mungkin! Di tempat ini tak ada air”, selalu itu jawab di hati Panda Kecil. Meski dia telah meneliti secara saksama taktik merusak mesin penunjang hidup Manusia Techno itu.

    “Tet! Dung! Dung!” Suara dering Bel, diiringi musik perintah kerja, berarti Panda Kecil, wajib segera berpindah ke tugas lain. Dia segera menuju ruang program, lagilagi sekeliling ruangan dilindungi baja tebal tahan segala cuaca, getaran terdahsyat, banjir bandang, perubahan iklim hingga tandatanda apapun, bersifat merusak, takkan mampu, pasti terdeteksi sedini mungkin. Nyaris tak ada celah masuk untuk sebutir debu sekalipun, super sekali steril.  

    Terdengar suara bel diiringi musik menyebalkan bagi si Panda Kecil, segera menuju tugas berikut, menuju ke ruang sistem database, di ruang ini pun Panda Kecil, tak pernah melihat kemungkinan lain, hanya air mampu melemahkan seluruh sistem database itu. Tapi lagilagi air tak ada. "Kemana mencari sumber air ya," suara di hatinya campur aduk.

    Kemana dia harus mencari air. Tak ada sedikitpun celah untuk keluar dari tempat Manusia Techno itu. Sekalipun dia mencoba lolos berkalikali. Tapi selalu gagal lagi. Panda Kecil, selalu pula dihantui pikiran, bagaimana bisa lolos dari penjara neraka mesin, seumpama, Panda Kecil berhasil menjauh dari Manusia Techno, kelak, di kala manusia jelek itu tengah tertidur lelap.

    Meski Panda Kecil, beberapa kali pernah berhasil turun ke lantai, segera melarikan diri, namun lagi lagi terjadi jebakan tikus, hanya lari kian kemari, tetap berputar putar dari lorong ke lorong kembali muncul kalau tak di ruang kerja utama Manusia Techno, pasti ke kamar tidur, ruang tamu, ruang radar bahkan tembus ke-gudang mesin-mesin bekas Manusia Techno menyebalkan itu. Tak ada satupun celah menembus ke luar ruang dari rumah mesin Manusia Techno,  si kejam itu.

    Bel serta merta lagi, musik perintah kerja, berbunyi lagi terus begitu, Panda Kecil pindah lagi ke ruang berikut mengerjakan tugas lebih berat, super amat berat, membersihkan sampah data memenuhi ruangan, hanya dengan sapu lidi bermesin canggih ukuran kecil disesuaikan besar benda itu dengan ukuran tangan, serta tubuh Panda Kecil, dibuat khusus oleh Si Manusia Techno.
    ***

    “Apakah Manusia Techno juga si Panda Kecil, tak perlu oksigen? Apa kiranya gerangan, membuat Manusia Techno maupun Panda Kecil, bisa berjalan. Manusia Techno, bersama mesin mesin mampu bergerak, bekerja kian kemari." 

    Siapakah sebenarnya Panda Kecil? Ada pada Dick. Jawaban dari kisah dongeng itu, tentang neofisika tak berwujud terhubung dengan jagat raya. Mengapa benda terlihat hadir? Suarasuara dari pertanyaan itu membangunkan Dick, sejak tadi asyik terbawa oleh mimpi tentang Panda Kecil milik Dick. 

    Dick, segera melompat bangun. Secepat-cepatnya, menyiapkan keperluan sekolah, membaca daftar mata pelajaran hingga merapikan buku. Dick, akan membawa bukubuku serta semua perlengkapan belajar di tas sekolah. Dick tak ingin merepotkan ibunda, untuk hal sederhana itu. 

    Panda, boneka kecil telah dikembalikan ketempat semula sejak Dick, selesai bermain sejenak semalam, setelah menyelesaikan tugastugas sekolah. 
    ***

    Dick, selesai merapikan diri. Kini sedang sarapan pagi ditemani ibunda. Ayah Dick berangkat lebih awal pagi ke-kantor, sembari mengantar dua kakak Dick, ke-sekolah searah dengan perjalanan ayah, ke-kantor.

    “Adik? Sudah siap maju ikut lomba Sumpah Pemuda. Sudah hafal teks pidatonya?” Dick mengangguk, tersenyum cerah terang benerang, semangat generasi unggul. 

    “Siap Bunda”, suara klakson. Mobil jemputan datang. Dick bergegas.

    “Tunggu! Adik lupa ya. Adik ke-sini, mendekatlah, Bunda sematkan pinnya”, ibunda, menyematkan pin ‘Bendera Merah Putih’, di sisi kanan kerah baju seragam sekolah Dick, disertai kecupan kasih sayang sepenuh cinta, di kening Dick, dari Bunda, setulus Sang Pemberi Kehidupan. 

    “Jangan lupa berdoa ya”, suara ibunda bagai mata air memberi kesuburan pada Bumi.

    “Sungkem Bunda. Amin”, Dick, segera bergegas menuju jemputan sekolah.
    ***

    Jabodetabek Indonesia, Agustus 16, 2022.

    Ikuti tulisan menarik Taufan S. Chandranegara lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.








    Oleh: museisman

    1 hari lalu

    Superior

    Dibaca : 154 kali