Upaya Pemerintah Setengah Hati Swasembada Aspal - Analisis - www.indonesiana.id
x

Aspal. Ilustrasi Pembangunan Jalan

Indŕato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2020

Kamis, 18 Agustus 2022 08:57 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Upaya Pemerintah Setengah Hati Swasembada Aspal

    Kita baru saja memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 77 pada tanggal 17 Agustus 2022. Semboyan yang diusung adalah “ Pulih Lebih Cepat – Bangkit Lebih Kuat”. Semboyan ini sangat memotivasi rakyat Indonesia untuk segera bangkit dari kepurukan ekonomi yang parah di masa pandemi. Tetapi untuk bangkit lebih kuat, rakyat masih bertanya-tanya di dalam hati. Rakyat masih merasa bimbang dan ragu, serta demotivasi. Bangkit lebih kuat untuk rakyat atau Oligarki ? Bagaimana rakyat bisa bangkit lebih kuat, kalau kita masih sangat bergantung sekali kepada produk-produk impor ? Seharusnya semboyan yang diusung dalam memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke 77 adalah “Pulih Lebih Cepat dengan Menggunakan Produk-produk Dalam Negeri”. Ini baru arti “Kemerdekaan” yang sesungguhnya.

    Dibaca : 444 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kita baru saja memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 77 pada tanggal 17 Agustus 2022. Semboyan yang diusung adalah “ Pulih Lebih Cepat – Bangkit Lebih Kuat”. Semboyan ini sangat memotivasi rakyat Indonesia untuk segera bangkit dari kepurukan ekonomi yang parah di masa pandemi.

    Tetapi untuk bangkit lebih kuat, rakyat masih bertanya-tanya di dalam hati. Rakyat masih merasa bimbang dan ragu, serta demotivasi. Bangkit lebih kuat untuk rakyat atau Oligarki ? Bagaimana rakyat bisa bangkit lebih kuat, kalau kita masih sangat bergantung sekali kepada produk-produk impor ? Seharusnya semboyan yang diusung dalam memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke 77 adalah “Pulih Lebih Cepat dengan Menggunakan Produk-produk Dalam Negeri”. Ini baru arti “Kemerdekaan” yang sesungguhnya.

    Indonesia mendapat pengakuan sebagai negara yang berhasil melakukan swasembada beras dari lembaga internasional. Hal itu ditandai dengan diterimanya penghargaan dari Institut Penelitian Padi Internasional (IRRI) yang diberikan Direktur Jenderal IRRI, Jean Balie kepada Presiden Joko Widodo. Indonesia mendapatkan penghargaan karena mampu mencapai swasembada dan memenuhi kebutuhan pangan pokok domestik.

    Hingga tahun lalu, Badan Pusat Statistik (BPS)) mencatat Indonesia masih mengimpor beras untuk keperluan industri dengan total 407,7 juta ton atau senilai US$ 183,8 juta, atau kurang lebih senilai Rp. 2,66 trilun. Sedangkan Indonesia impor aspal menurut Menteri Investasi Bahlil Lahadalia per tahun mencapai kurang lebih Rp. 50 triliun. Apa yang dapat kita simpulkan dari data-data dan informasi ini ?

    Kita baru saja memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 77 pada tanggal 17 Agustus 2022. Semboyan yang diusung adalah “ Pulih Lebih Cepat – Bangkit Lebih Kuat”. Semboyan ini sangat memotivasi rakyat Indonesia untuk segera bangkit dari kepurukan ekonomi yang parah di masa pandemi. Tetapi untuk bangkit lebih kuat, rakyat masih bertanya-tanya di dalam hati. Rakyat masih merasa bimbang dan ragu, serta demotivasi. Bangkit lebih kuat untuk rakyat atau Oligarki ? Bagaimana rakyat bisa bangkit lebih kuat, kalau kita masih sangat bergantung sekali kepada produk-produk impor ? Seharusnya semboyan yang diusung dalam memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke 77 adalah “Pulih Lebih Cepat dengan Menggunakan Produk-produk Dalam Negeri”. Ini baru arti “Kemerdekaan” yang sesungguhnya.

    Rakyat Indonesia sudah seringkali menonton di Media elektronik bahwa Pak Jokowi marah-marah kepada para Menterinya, karena Indonesia masih terus mengimpor barang-barang dari luar negeri. Tetapi apa makna dari kemarahan beliau itu, kalau buktinya Indonesria masih terus mengimpor produk-produk luar negeri? Apakah kemarahan Pak Jokowi itu dianggap sebagai angin lalu ? Atau, emangya gue pikirin? Pak Jokowi boleh marah-marah, tetapi harus ditindaklanjuti kemarahan tersebut dengan upaya-upaya yang lebih cerdas, tegas, dan prioritas. Dan prioritas utama dan pertama yang Pak Jokowi wajib memperhatikan adalah Program hilirisasi Aspal Buton untuk menggantikan aspal impor.

    Pak Jokowi sendiri telah menginstruksikan kepada semua jajaran Kementerian-kementerian terkait untuk menggantikan aspal impor dengan aspal Buton. Peristiwa ini terjadi pada awal pemerintahan Pak Jokowi di bulan Januari 2015. Apakah Pak Jokowi masih ingat ? Kalau sampai saat ini ditahun 2022, setelah 8 tahun pemerintahan Pak Jokowi, aspal impor masih belum dapat digantikan oleh aspal Buton, maka Pak Jokowi jangan marah-marah. Pak Jokowi dan para Menteri terkait harus berani dan jujur mengintrospeksi diri. Mencari apa sebenarnya akar permasalahannya, sehingga instruksi Pak Jokowi tersebut masih belum mampu dilaksanakan dengan baik oleh para Menterinya.

    Upaya-upaya pemerintah yang sudah dilaksanakan selama 8 tahun pemerintahan Pak Jokowi sudah cukup baik dan berarti. Tetapi kelihatannya instruksi Pak Jokowi di tahun 2015 tidak mengikuti kaidah manajemen yang profesional; yaitu kaidah “SMART” (Specific, Measurable, Realistic, Timeline). Dengan demikian mungkin para Menteri terkait merasa kebingungan, tidak fokus, dan kehilangan arah. Mereka sebenarnya masih ingin bertanya lagi: ”Pak Jokowi maunya apa?”. Tetapi mereka tidak berani. Pak Jokowi sudah pernah mengatakan: “ Tidak ada visi – misi Menteri. Yang ada adalah visi – misi Presiden”. Jadi Pak Jokowi harus menjelaskan lebih rinci lagi mengenai visi - misi Pak Jokowi sehubungan dengan instruksi untuk menggantikan aspal impor dengan aspal Buton.

    Pemerintahan Pak Jokowi tinggal tersisa 2 tahun lagi. Tidak ada kata terlambat untuk suatu perjuangan. Apakah semboyan “Pulih Lebih Cepat dengan Menggunakan Produk-produk Dalam Negeri” ini mampu menginspirasi dan memotivasi visi dan misi Pak Jokowi ?. Kalau jawabannya adalah “ya”, maka instruksikanlah kepada semua Menteri bahwa visi-misi Presiden adalah “Pulih Lebih Cepat dengan Menggunakan Produk-produk Dalam Negeri”. Dan mohon Pak Jokowi pastikan bahwa Indonesia akan mampu berswasembada aspal dalam kurun waktu 10 tahun mulai dari sekarang. Dan hal ini tidak boleh ditawar-tawar lagi.

    Memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 77 kali ini terasa sangat berbeda. Mengapa ? Karena rakyat Indonesia merasa sangat bahagia dan gembira. . Indonesia akan segera bangkit dari kepurukan ekonomi akibat pandemi. Ini merupakan sebuah harapan yang sangat besar sekali bagi seluruh rakyat Indonesia. Asalkan Pak Jokwi tidak akan ingkar janji untuk menyampaikan visi-misi Pak Jokowi kepada semua Menteri sebagai berikut: “Pulih Lebih Cepat dengan Menggunakan Produk-produk Dalam Negeri”. Mungkin karena selama 8 tahun pemerintahan Pak Jokowi, visi – misi Pak Jokowi kurang dapat dipahami dengan baik oleh para Menteri, sehingga selama ini pemerintah telah berupaya setengah hati untuk berswasembada aspal.

    Saat Pak Jokowi menjadi inspektur upacara peringatan detik-detik Proklamasi  dalam rangka HUT ke 77 RI di Istana Merdeka, Presiden Joko Widodo mengenakan “Dolomani” pakaian adat dari Buton, Sulawesi Tenggara. Apakah ini merupakan tanda-tanda alam bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi aspal impor akan segera digantikan oleh aspal Buton? Hanya Allah SWT dan Pak Jokowi yang tahu. 

    Ikuti tulisan menarik Indŕato Sumantoro lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.








    Oleh: museisman

    1 hari lalu

    Superior

    Dibaca : 155 kali