Tidak Ada Kejayaan Abadi - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

ilustr: AJNN

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Selasa, 23 Agustus 2022 16:21 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Tidak Ada Kejayaan Abadi

    Sejak zaman kuno bangayk negara jaya dan kemudian surut. Demikian juga di tingkat pribadi. Banayk orang mengalami kejayaan lalu jatuh. Bagaimana menyikapinya? Sila baca.

    Dibaca : 920 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku

    Cokro manggilingan.  Ini adalah sebuah frasa dalam bahasa Jawa yang merupakan peribahasa. Frasa ini adalah salah satu warisan budaya adiluhung dari leluhur kita.  Cokro berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya lingkaran.  Manggilingan artinya berputar.  Jadi arti keseluruhanya lingkaran berputar atau roda berputar.  Maksud frasa ini adalah gambaran perputaran nasib manusia.  Kadang di atas , kadang di bawah.  Untuk memahaminya mari kita lihat sejarah dunia.

    Kejayaan dan kejatuhan

    Dulu Mesir pernah mengalami kejayaan selama kurang lebih tiga ribu tahun.  Peninggalannya sangat menakjubkan.  Sampai abad ke 19 piramida adalah bangunan tertinggi di dunia.  Selama lima ribu tahun mereka memegang rekor dunia bangunan tertinggi.  Setelah itu Yunani dan Romawi mengalami kejayaan.  Alexander the great (Iskandar Zulkarnain) dari Mecedonia, Yunani, pernah menjadi penakluk dunia. Demikian juga para kaisar Romawi.  Setelah itu di abad pertengahan giliran Inggris dan Prancis menguasai dunia. Jajahannnya ada di hampir seluruh dunia. 

    Setelah perang dunia kedua giliran Amerika Serikat menguasai dunia, dengan Uni Soviet (belakangan pecah menjadi 11 negara) menyusul.  Di akhir abad ke 20 negara Asia mulai bangkit.  Pertama Jepang, kemudian disusul Korea, Cina, dan India.  Bahkan akhir akhir ini ekonomi Bangladesh dan Vietnam maju pesat.    Bahkan ada pakar yang sudah meramalkan kebangkitan Afrika.

    Pola yang sama juga ditemukan di tingkat keluarga dan pribadi.  Ada keluarga yang dulu jaya lantas surut.  Selama empatratus tahun dinasti Mataram menguasai Jawa.  Sejak kemerdekaan peran mereka sudah surut.  Sekarang dinasti politik sudah kembali lagi.  Di tingkat pribadi juga demikian.  Ada orang yang dulu sempat jaya tapi kemudian surut.

    Cara menanggapi kejayaan dan kemunduran berbeda pada tiap orang dan setiap bangsa.  Ada yang menanggapinya dengan baik sehingga kejayaan maupun kemunduran justru berakibat baik.  Ada juga yang menanggapinya dengan kurang tepat sehingga kejayaan malah bisa mencelakakan.

    Dulu setiap lebaran saya dan saudara kandung selalu berlebaran dengan sowan ke para pak de dan bu de.   Dalam kesempatan itu kami bertemu dengan banyak orang dan saudara.  Kami mendapat kesan ada beberapa orang yang sengaja menghindari kami bersaudara.  Mereka adalah keturunan orang orang yang dulu pernah jaya tapi sudah surut.  Dulu mereka ditokohkan tapi kemudian  tidak mau menghadapi kenyataan. Jadi sejatinya perasaan yang ada di dalam dada meréka adalah bikinan mereka sendiri. 

    Kejayaan digilirkan Allah swt

     

    Kejayaan memang digilirkan oleh Alah swt.  Sejatinya keberhasilan ditentukan oleh Allah swt meskipun ada juga upaya manusia.        

    ”……… Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim”  (Surat Ali Imran 140)

    Cara menyikapi kejayaan dan kejatuhan

     

    Leluhur kita sudah mewariskan sebuah nasehat yang sangat baik untuk menyikapi gelombang kehidupan atau naik turunnya grafik kehidupan.  Saya sudah pernah membuat catatan tentang ini.  Ojo gumunan, ojo kagetan, ojo dumèh. 

    Benang merah

     

    Meskipun demikian banyak orang yang tidak mau atau tidak mampu belajar dari kehidupan.  We learn that we never learn  kata orang Barat.  Itulah sebabnya kita perlu terus menerus saling mengingatkan bahwa kejayaan tidak abadi.  Ia selalu digilirkan oleh Allah swt.  Penguasa mutlak sesungguhnya adalah Allah swt. Manusia hanya ngampil panguoso atau  meminjam kekuasaan atau kejayaan.  Semuanya milik Allah.  Semua orang yang meminjam harus mengembalikan dan mempertanggungjawabkan. Ojo dumeh untuk mereka yang sedang jaya.  Ojo gumunan dan ojo kagetan untuk semuanya.

    Selain itu nenek moyang juga menyarankan agar kita selalu éling lan waspodo.  Kita harus selalu éling atau ingat dan taat kepada Allah swt dan waspodo bahwa setiap keadaan memiliki dua sisi.  Bisa memberi manfaat dan bisa merugikan tergantung cara menyikapi. Kejayaan bisa mendekatkan tapi bisa juga “memabokkan” sehingga malah menjauhkan dengan Allah dan merugikan. Kemunduran bisa merugikan tapi bisa juga membuat manusia dekat dengan Allah sehingga justru menguntungkan.  Manusia diberi kebebasan memilih tapi tidak bebas dari akibatnya. Monggo pilih yang mana.

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.