Habitat Organisasi yang Merusak Penghuninya - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

ilustr: youthmanual

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 29 Agustus 2022 12:48 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Habitat Organisasi yang Merusak Penghuninya

    Seperti pernah dikatakan oleh Prof. Mahfud bahwa orang baik bila masuk birokrasi pemerintahan bisa berubah jadi setan. Pertanyaannya: sistem dan nilai seperti apa yang berkembang di organisasi sehingga mampu mengubah orang baik jadi sebaliknya?

    Dibaca : 1.209 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Manusia pada dasarnya baik, dilahirkan dalam keadaan baik, disekolahkan dengan baik, serta memperoleh pengajaran dan pendidikan yang baik. Tapi mengapa kemudian manusia ini menjadi kurang ajar, jahat, juga korup, dan bahkan sanggup membunuh? Mengapa semakin tinggi jabatan dan pangkat membuat seseorang cenderung semakin jahat? Tapi masih sangat banyak yang baik.

    Pertanyaannya sederhana saja: Apa yang mampu mengubah tabiat seseorang dari masa kecil yang demikian baik untuk kemudian jadi manusia sebaliknya di kala dewasa? Apakah perubahan itu mulai terjadi ketika ia memasuki organisasi dan sistem tertentu—perusahaan, institusi negara, organisasi massa, partai politik, perguruan tinggi, dan sebagainya.

    Mungkinkah manusia yang telah dipersiapkan dengan baik di sekolah, universitas, institut, akademi, atau tempat belajar apapun kemudian tidak mampu menghadapi tekanan dan godaan dari lingkungan baru? Atau ia tidak mampu bertahan dan menolak, melainkan terpaksa menyerah dan larut ke dalam nilai-nilai riil organisasinya—bukan nilai-nilai ideal yang kerap didengungkan?

    Seperti pernah dikatakan oleh Prof. Mahfud bahwa orang baik bila masuk birokrasi pemerintahan bisa berubah jadi setan. Pertanyaannya: sistem dan nilai seperti apa yang berkembang di organisasi sehingga mampu mengubah orang baik jadi sebaliknya?

    Barangkali memang tidak semua orang mampu bertahan terhadap tuntutan-tuntutan yang berkembang dalam organisasi. Ketika nilai-nilai yang tidak baik diwariskan sebagai tradisi kepada orang-orang baru yang memasuki organisasi, orang-orang baru ini biasanya sulit untuk menolak bila tidak ingin disisihkan dari pergaulan internal organisasi. Orang-orang baru dipaksa menyesuaikan diri dengan kebiasaan, kelumrahan, maupun nilai-nilai yang dominan.

    Walaupun awalnya mereka mungkin tidak ingin mengikuti kebiasaan tersebut, namun tekanan dan keharusan mengikuti tradisi perlahan akan memaksa seseorang yang semula baik untuk mengikutinya. Pembiasaan secara teratur membuat orang yang tadinya melakukan sesuatu secara terpaksa kemudian menjadi terbiasa. Bahkan, kemudian ia menikmati apa yang semula ia tolak.

    Habitat baru dalam organisasi gagal menyediakan tempat bagi seseorang untuk tumbuh dan berkembang ke arah yang baik. Karena itu, ketika seseorang naik jenjang jabatannya dan atau kepangkatannya, kenaikan karir ini tidak disertai dengan semakin meningkatnya kualitas karakter yang bersangkutan. Ia justru terperangkap oleh nilai-nilai dan tradisi yang diwariskan dalam organisasi oleh para seniornya. Umpamanya, menjadi bos yang harus dituruti kemauannya, menyuruh ajudan untuk menangani segala urusan yang tidak terkait dengan pekerjaan dinasnya, bertindak sesuka hati kepada bawahannya, dan sebagainya.

    Perubahan karakter ini berlangsung secara bertahap seiring dengan semakin intensifnya interaksi seseorang dengan orang lain di dalam organisasinya. Ia dipaksa untuk menyesuaikan diri atau ia tersisih dari pergaulan. Ia dipaksa untuk mengikuti apapun perintah atasan atau ia tidak akan naik pangkat dan jabatan.

    Lebih dari itu, karena dianggap tidak kompak atau tidak seiring jalan dengan orang-orang dalam organisasinya, boleh jadi ia akan menemui kesulitan yang lebih tinggi dalam menapaki jenjang karirnya. Pilihan yang sulit ini membuat banyak orang memilih untuk menyerah pada sistem dan nilai yang sudah berlaku ketimbang terdepak dari organisasi. Tidak heran bila seseorang yang mestinya menegakkan hukum, misalnya, justru malah bertindak sebaliknya. >>

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.