Trutisepo - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Senin, 29 Agustus 2022 06:17 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Trutisepo


    Dibaca : 450 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dari arah seberang, tampak Ura berjalan menyusuri toko-toko kelontong berbahan kayu, tanah liat dan batu. Sirra begitu mengidamkan perkakas kayu untuk mengisi kebutuhan dapur di rumah baru mereka. Ura dan Sirra baru saja pindah ke daerah yang masih dalam pembangunan ini seminggu lalu. Sirra memalingkan pandangannya mencari kedai es buah-buahan. Cuaca yang panas sangat pengaruh pada tubuhnya, Sirra menjadi mudah lelah di mana hal ini sangatlah berbeda dengan Ura yang mampu beradaptasi dengan cepat di dalam berbagai cuaca.

    Tertangkap dalam pandangan mata Sirra, sebuah kedai dengan ornamen berbeda dan dipenuhi oleh warna-warni tepat di ujung lorong pertokoan. Walau terlihat cukup padat, Sirra tetapkan langkahnya menuju kedai itu. “Aku aka menunggu di kedai Trutisepo.” Pesan singkat terkirim ke selular Ura.

    Ura tidak melihat selularnya karena pikiran sekaligus pandangannya terfokus pada toko-toko dan barang-barang yang tampak terpajang terjejer, siap untuk dipilihnya. Sirra pun tidak terlalu mendesaknya untuk mendapat balasan dengan menelpon Ura. Tujuan Sirra kini hanya ingin membuat tubuhnya bersantai sambil meneguk es buah dan ngemil combro. Pesanan datang tanpa menunggu lama, dan Sirra duduk di bangku teras kedai dengan pemandangan simpang jalan beserta toko-toko kelontong dari arah seberang. Suasana ini mengingatkannya pada kota yang pernah dikunjunginya di bulan madu mereka tujuh tahun lalu.

    Kenangan-kenangan silam seketika melintas bagaikan bayang-bayang awan yang bergerak perlahan dan menutup sebagian cahaya surya siang ini. Sambil menggigit combro dan cabe rawit, Sirra terseyum. Di riuh pengunjung dengan motor-motor berjalan perlahan mencari ruang parkir. Para pejalan kaki terkadang harus berhenti untuk mempersilahkan terlebih dahulu pada motor-motor melewati jalan tanpa membuat kemacetan. Namun, tidak dengan pemandangan di kota ini. Suasana terasa sunyi dan jalan raya begitu lengang. Sebuah gambaran tentang pemukiman yang diselimuti sudut pertokoan bagi pendudukan setempat serta para pengendara yang sekedar lewat untuk tujuan kota berikutnya.

    “Suatu hari, aku akan mengajakmu berjalan-jalan ke taman Bugenvil dekat rumahmu.” Bisik Sirra kepada janin yang berada di dalam tubuhnya. Tangannya meraih sendok di mangkuk es yang cukup besar, lantas memasukkan buah leci ke dalam mulutnya yang mungil menjadi pilihan pertamanya sebelum meneguk segarnya air dengan rasa aneka buah dan sirup perisa. Tiba-tiba, bunyi bergelegar menghentikan kenikmatan yang mengisi imaji pikiran Sirra sambil menunggu Ura menjemputnya.

    Hujan deras mengguyur area pertokoan dan kabut tebal perlahan merendah menutup jarak pandang dan petus tunggal mengguncang lantai membuat Sirra berbalik menjadi sangat tidak nyaman. Jarak pandang untuk menjangkau di mana Ura berada tidak terlihat jelas. Selular Ura pun tidak dapat di jangkau walau Sirra berulang kali mencoba menelponnya. “Tinggalkan pesan Anda.....” Semoga tidak terjadi apa-apa, bisiknya. Sambil tetap duduk dengan menenangkan pikirannya, Sirra kembali meneruskan menikmati es buah dan combro yang telah dipesannya.

    Perlahan hujan berganti rintik dan cahaya surya kembali merayap di sekitar pertokoan. Sirra melihat Ura sedang mencoba menyebrangi jalan menuju dirinya. Terlihat senyum mesra di wajah Ura dari arah seberang kepada Sirra. Kakinya mulai melangkah dan bersiap berlari kecil menuju dirinya kini duduk menunggu sambil membawa beberapa perkakas dapur dari bahan kayu dan sebuah ayunan kecil berwarna pelangi untuk bayi mereka yang diperkirakan lahir bulan depan.

    Boom! Seketika jalan raya dipenuhi kerumunan orang dengan sebuah mobil merah yang menabrak tubuh Ura terparkir tanpa arah. Sirra terhentak, tidak dapat berdiri dari bangkunya untuk melihat kondisi Ura. Tubuhnya mendadak lemas, rubuh dan pingsan. Kerumunan lain terjadi di teras kedai Trutisepo. Lima belas menit kemudian, dua buah ambulans datang membawa suami istri itu, secara terpisah, selain Sirra bersama janin yang berada di dalam tubuhnya dengan denyut yang melemah.

    Dan, tidak seorang pun di kota ini yang mengenal mereka berdua. Perlahan, terlihat padatnya merah oren dalam lingkar surya dari balik bangunan-bangunan setengah jadi menatap sunyi kota ini yang seakan berujar; “waktuku hampir usai tepat di tempat ini”.

    Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.