Sebelum Malam Tiba - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Senin, 29 Agustus 2022 14:54 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Sebelum Malam Tiba

    “Selamat sore. Bisa bapak kunjungi toko Keroks? Saya sempat melewatinya dan sepertinya sedang terjadi perselisihan di sana”. Tanpa berlama-lama, sang petugas langsung mengontak kawannya dan bergegas menuju lokasi. “Terima kasih, Bu”. Nuri turut meninggalkan pos penjaga di dalam mall untuk kembali menuju kafe langganannya.

    Dibaca : 476 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sore itu, salah satu pelayan di dalam mall, di satu-satunya etalase barang-barang seni terlihat sedang kebingungan. Seorang pembeli berpenampilan sangat rapi terlihat memarahinya dengan wajah yang keras. Walaupun suaranya tidak melewati batas kaca di mana Nuri kini berdiri, namun kejadian itu membuat dirinya berhenti sesaat sebelum bergegas mencari pertolongan ke penjaga mall. Merekam peristiwa seperti ini sangatlah riskan, apalagi Nuri seseorang dengan nama baik dalam sosialita.

    Selamat sore. Bisa bapak kunjungi toko Keroks? Saya sempat melewatinya dan sepertinya sedang terjadi perselisihan di sana”. Tanpa berlama-lama, sang petugas langsung mengontak kawannya dan bergegas menuju lokasi. “Terima kasih, Bu”. Nuri turut meninggalkan pos penjaga di dalam mall untuk kembali menuju kafe langganannya. Setibanya di depan pintu kafe, pelayan pria dengan pakaian hitam putih dengan pola desain kostum ala seorang chef membukakan pintu untuknya, dan tersenyum ramah kepada Nuri sambil mengarahkan ke meja favoritnya di pojok kafe.

    “Selamat sore, Bu. Mau bangku yang biasanya? Kebetulan saat ini sedang kosong”.

    Nuri membalasnya sambil tersenyum. “Ya, dan, kopi seperti biasanya ya, terima kasih”.

    Seperti biasa, Nuri mengarahkan bangkunya ke kaca besar agar matanya bebas memandang ke arah luar gedung mall ini dengan jendela yang secara manual dapat dibuka dan tutup bagi perokok. Nuri mulai merapikan mejanya, seluruh peralatan yang biasa digunakannya untuk menulis beserta baterai listrik untuk selular dan laptopnya, dan tidak ketinggalan sebungkus rokok yang tersusun rapi di atas meja. Lima menit kemudian, tampak pelayan perempuan datang membawakan segelas panjang dengan hiasan buah di dalam minuman kesukaannya. Sebuah asbak keramik serta buku daftar menu diletakkan di sudut meja. “Ada lagi pesanan lainnya? Kami ada coco choco cluster terbaru”.

    Tidak. Mungkin nanti... Terima kasih

    Nuri menatap meja di hadapannya yang penuh perangkat elektronik. Mencoba merapikan kembali posisinya hingga dirinya merasa nyaman untuk mulai melanjutkan novel yang sedang digarapnya. Seteguk minuman sambil menggigit buah ceri yang mengapit tepian gelasnya, Nuri mulai mengetik babak baru di dalam novelnya.

    Pagi-pagi sekali, Andri tampak cukup tergesa menuju tempatnya bekerja. Pagi ini, dirinya hanya menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya di meja makan area dapur, serta tas berisi perlengkapan snack dan jus selama mereka di sekolah. Andri tidak menyiapkan kopi untuk suaminya. Meja makan keluarga di ruang tengah juga terlihat masih tertata rapi, tidak tersentuh. Hari ini memang membuat Andri mengganti jadual tugasnya, selain kondisi kasus pengidap GERD di tengah pandemi Covid 19 yang semakin meningkat. Hubungan Andri dengan suaminya telah membuatnya mengambil keputusan yang cukup radikal, tidak lagi membuang-buang waktu untuk mengurus Franki. Pernikahan yang telah dijalaninya selama lima belas tahun harus rela dilepaskannya, sebelum kecemburuan suami yang membabi buta memakan psikologi anak-anak mereka. Rasa cemburu yang tidak masuk akal telah mengekang dirinya selama sepuluh tahun pernikahan dan pada saat bersamaan, suaminya tertangkap basah memiliki wanita lain, hubungan yang terjalin selama Andri membesarkan anak kedua mereka dengan mengorbankan pekerjaannya. Kini semuanya terlihat masuk akal, mengapa Franki selalu menyalahkan dirinya tanpa sebab dan tidak jarang memukulinya hingga tabunganya terkuras, tabungan dari hasil bekerja sebelumnya yang selama ini disimpannya untuk kebutuhan mendadak anak-anak mereka”.

    Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.