Keris Kiai Tunggal Lanang - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Em Fardhan

Penulis Indosiana
Bergabung Sejak: 9 November 2021

Rabu, 31 Agustus 2022 12:40 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Keris Kiai Tunggal Lanang

    Sebuah cerpen.

    Dibaca : 279 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

           Berarak awan memayungi sekitaran desa Linuwih. Sebuah desa dengan pesona alam yang estetis.

    Sore itu, menjelang senja, terlihat wanita muda tertatih-tatih sembari mengucurkan air mata terlihat berada di pinggiran jalan desa Linuwih.

    Warjo, petani yang baru pulang dari sawahnya pun tak bisa mengacuhkan ketika berpapasan dengan wanita yang memang terlihat butuh bantuan itu.

    "Tolong aku, Pakde. Ada orang jahat yang hendak menodaiku," rintihnya sembari memelas ketika melihat Warjo.

    Warjo adalah orang desa, yang mana simpati dan empati begitu peka.

    Dengan sigap Warjo membawa gadis itu bersamanya. Awalnya ia ragu dan bingung akan dibawa ke mana wanita itu. Kalau ke rumahnya ia takut, Rijah, istrinya akan salah paham. Bisa-bisa ia dikatai bahwa wanita itu simpanannya.

    Akhirnya di tengah jalan ia mendapat ide untuk membawa wanita itu ke Pak Darsun, kepala desa Linuwih.

    Begitu tiba di depan rumah joglo berukir indah, Warjo mengetuk pintu dan tak lupa mengucap uluk salam. Sedangkan perempuan malang nan memelas itu masih terlihat ketakutan di sampingnya.

    "Kula nuwun, Pak Darsun …. "

    Beberapa kali ketukan dan uluk salam dari Warjo akhirnya empunya rumah keluar juga.

    Sedikit menyipit mata Pak Darsun memandang tamunya. Tentu bukan kepada Warjo, tetapi jelas kepada wanita yang berada di samping Warjo.

    "Ada wanita yang sedang kesusahan, Pak. Saya bingung akan membawa ke mana," kata Warjo lugas.

    Selepas melirik wanita itu untuk ke dua kalinya, Pak Darsun berbicara, "Bawa masuk dulu, Jo. Ngobrol di dalam. Sebentar lagi memasuki senja, tidak baik berada di luar.

    Warjo pun menurut. Sedangkan wanita itu pun terlihat ikut juga ketika dipersilahkan masuk.

    Sesampai di dalam, Warjo menjelaskan kejadiannya. Bahwa ia melihat wanita itu ketika pulang ngarit dari sawah. Terlihat mengenaskan berada di pinggiran desa Linuwih. Terlihat ketakutan dan butuh pertolongan.

    Pak Darsun tampak manggut-manggut. Entah sedang mencerna omongan Warjo yang kalau ngomong suka terburu-buru itu atau tengah bermain dengan pikirannya yang mungkin punya maksud lain.

    "Baiklah, Jo. Kamu pulang saja. Ini sudah malam. Kambing-kambingmu pasti sudah pada kelaparan. Istrimu juga pasti sudah menunggumu di rumah. Tentang perempuan ini, biarlah jadi urusanku," jelas Pak Kepala Desa dengan penuh wibawa.

    Warjo pun akhirnya pulang.

     

    ***

           Waktu berjalan begitu cepat. Hari silih berganti, waktu merangkak maju. Tak terasa sudah tiga bulan wanita itu berada di desa Linuwih.

    Kepala desa ternyata memutuskan untuk menampung perempuan yang belakangan diketahui bernama Sunarsih itu di rumahnya. Sebab menurut pengakuan Sunarsih sendiri bahwa ia sudah tak punya tempat tinggal dan keluarga. Ia pun mengaku hendak dinistai oleh ayah tirinya dan berniat tidak akan kembali lagi ke kampungnya.

    Awalnya, Ibu Warsem, istri Pak Darsun menolak keras, tentu karena cemburu, tapi karena kewibawaan Pak Darsun akhirnya dengan terpaksa keluarganya pun menerima. Dengan alasan kemanusiaan maka Pak Darsun harus menampungnya, sebab sebagai kepala desa ia harus menjadi contoh bagi orang-orang di sekitarnya, begitu dalihnya.

    Perempuan yang tiga bulan lalu yang terlihat tidak terurus itu kini sudah jauh berbeda penampilannya. Bahkan Warjo, yang pertama kali menemukan Sunarsih kini pun jadi pangling. Sunarsih makin hari makin mempesona dan memanjakan mata para lelaki. Kini hampir setiap pojok kampung jika para lelaki desa Linuwih ngumpul, tak terlewatkan obrolan mereka tentang Narsih.

    "Wah, Pak Lurah ketiban durian runtuh itu. Dapet calon bini ke dua," kata Ngatimo sembari membanting kartunya.

    Teman main kartu Ngatimo, Sudimo, menyahuti, "Aku yakin. Bahwa Pak Darsun itu menampung wanita itu di rumahnya yang katanya demi kemanusiaan itu hanyalah alasan saja, paling-paling nanti ujung-ujungnya dikawinin juga!"

    "Sudah, sudah. Mbok biarin to, ya," Mamo, lelaki kurus tinggi itu ikut menyahut, "mau kawin lagi, kek, mau enggak, itu, ‘kan, urusan Pak Darsun. Toh ia orang terpandang dan berkuasa di sini. Sebentar lagi malah mau nyalon DPR katanya. Kita ini bukan lawannya,"

    "Wis, wis. Lebih baik kita lanjutin mainnya," timpal Gondo.

    Begitulah. Jelas para lelaki di desa Linuwih pada iri melihat kedekatan Pak Darsun dengan Narsih yang potensi untuk mendapatkan jauh lebih besar.

     

    Hinga suatu malam, apa yang menjadi prasangka banyak orang pun terjadi. 

     

    "Bagaimana kalau Narsih aku kawini saja, Bu. Biar tidak jadi omongan orang-orang, " kata Pak Darsun kepada istrinya ketika hendak beranjak tidur.

     

    Seharusnya omongan itu bagaikan petir di siang bolong bagi istrinya, tetapi ternyata tidak, sebab ia sebenarnya diam-diam sudah menduga akan begitu akhirnya. Sebab, setiap hari ia melihat gelagat dan perlakuan suaminya kepada Narsih amat istimewa. Bahkan ketika anak-anaknya sendiri ikut ngomong hal buruk tentang Narsih, Pak Darsun akan tampil menjadi orang pertama yang akan membelanya.

     

    Setelah menghela napas kasar, Ibu Warsem menjawab keinginan suaminya, "Aku menolak pun kau pasti akan tetap mengawininya. Sekarang terserah kau saja."

     

    Bagai mendapat angin segar, bak pepatah pucuk di cinta ulam pun tiba, Pak Darsun kegirangan.

     

    "Kau memang istri yang baik. Tenang saja, Bu. Kau akan tetap jadi yang pertama," rayunya sembari mengelus pundak istrinya. Namun, istrinya menolak halus dengan cara menampiknya. Jelas ia sangat marah, tapi hanya bisa ia pendam.

     

    ***

           

           Akhirnya pesta pernikahan pun digelar. Para lelaki yang selama ini mengagumi Narsih diam-diam pun mesti gigit jari. Lelaki-lelaki patah hati itu tampaknya mesti legowo menerima kekalahan telak mereka. Yang mana memang tak punya daya untuk memenangkan hati Narsih. Bagusnya mereka cukup tahu diri dengan tidak berbuat macam-macam, segenap patah hati hanya mereka simpan sendiri dalam hati.

     

    ***

     

           Sudah satu bulan kini Narsih menjadi istri Pak Darsun, yakni orang nomor satu di desa Linuwih. 

     

    Pada suatu sore yang teduh di serambi rumah Pak Darsun, terlihat Sunarsih dan Pak Darsun tengah bercengkrama mesra. Maklum pengantin baru.

     

    "Kang, ini kopinya," ujar Narsih sembari meletakkan secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap gurihnya.

     

    Narsih pun memasang senyum termanis yang ia punya. Senyum itulah yang selalu berhasil menundukkan hati Pak Darsun.

     

    Pak Darsun merasa menjadi muda lagi. Gairah hidup yang sebelumnya monoton dan hambar, sejak kedatangan Narsih kini tampak bangkit kembali.

     

    "Makasih, sayangku. Sini duduk," ujarnya sembari menepuk pelan kursi rotan di sampingnya pertanda mempersilahkan.

     

    "Kang ...," ujar Narsih pelan sembari bergelayutan manja di leher Pak Darsun.

     

    Terpaksa Pak Darsun menyingkirkan koran ditangannya demi meladeni hujaman kecup Narsih yang bertubi-tubi menimpanya.

     

    "Apa, Sayangku Narsih, " ujarnya setelah puas menghujani balik kecup dari Narsih.

     

    "Kang Darsun sayang, nggak, sama Narsih?" tukasnya dengan suara dilembutkan semaksimal mungkin.

     

    "Lho, ya, jelas to, ya. Begitu, kok, pake ditanya. Sayang banget pasti, Dik," jawab Pak Darsun penuh keyakinan.

     

    "Kalau Narsih minta sesuatu diturutin, nggak?" kata Narsih lagi.

     

    "Hmmm, minta apa, to? Motor? Mobil? Rumah? Tenang, Akang beliin."

     

    Ternyata Narsih menggelengkan kepalanya.

     

    "Lalu minta apa, Dik?" kejar Pak Darsun penasaran.

     

    "Anu, tapi diturutin, nggak?" rengek Narsih.

     

    Melihat wajah Narsih sedemian lucu, menjadikan Pak Darsun jadi tambah gemas. Ia semakin tak sabar mendengar apa permintaan gadis pujaan hatinya itu.

     

    "Pasti, apapun Akang turutin. Sudah, minta apa?"

     

    "Tapi jangan marah, ya, Kang?"

     

    "Marah kenapa? Kamu, kan, sudah jadi istriku. Jadi bebas minta apa saja. Apa minta diriku?" lontar Pak Darsun genit sembari mencoel dagu Narsih yang belah itu.

     

    Narsih memukul pelan. Pak Darsun makin kelimpungan.

     

    "Narsih hanya penasaran. Kok Akang bisa sekaya ini dan begitu ditakuti oleh warga-warga." Terlihat Narsih tampak ragu-ragu mengatakannya.

     

    Pak Darsun malah ketawa.

     

    "Oalah itu, to, Dik? Kirain minta apa? Kalau itu, sih, rahasia ...."

     

    "Tuh, kan, nggak dijawab, " sungut Narsih sembari pasang wajah bete.

     

    Bagi orang dimabuk cinta seperti Pak Darsun, melihat kekasih hatinya begitu rupa jelas tidak tega. Jangankan terluka, kecewa sedikit saja ia tak mau.

     

    "Baik-baik. Akang kasih tahu rahasianya, tapi janji, ya, jangan bilang ke siapapun. Selama ini, hanya istriku yang tahu, bahkan anak-anakku saja tidak ada yang tahu. Karena kamu sudah jadi istriku, baiklah aku kasih tahu, Dik."

     

    Narsih pasang wajah manja lagi. Kini makin menjadi-jadi gelayutannya.

     

    Pak Darsun melanjutkan, "Semua ini karena Akang punya jimat sakti. Di tanah Jawa ini hanya satu yakni yang Akang punya ini."

     

    Narsih mengerutkan kening, "Jimat, Kang?"

     

    "Iya jimat."

     

    "Jimat apa?"

     

    Pak Darsun menerawang ke udara sehingga membuat pelukan Narsih sedikit kendur.

     

    "Namanya keris Kiai Tunggal Lanang, barangsiapa yang memiliki keris ini hidupnya akan berjaya seumur hidupnya dan perkataannya akan dituruti oleh siapapun" kata Pak Darsun mantap.

     

    Narsih tampak manggut-manggut, entah kagum atau bingung.

     

    "Sekarang keris itu di mana, Kang?" tanya Narsih.

     

    "Di lemari khusus di kamarku. Namun, meski kau istriku, jangan pernah sentuh keris itu, sebab dia hanya boleh disentuh oleh tangan lelaki. Tidak boleh disentuh oleh perempuan, sekalipun oleh istri atau anakku, itu pantangannya," jelas Pak Darsun penuh penekanan.

     

    Narsih tampak manggut-manggut.

     

    "Kang ...,"panggil Narsih lagi.

     

    "Iya, Dik. Apa lagi?"

     

    "Aku, kok merasa bahwa Mbakyu Warsem dan anak-anakmu nggak suka sama aku, ya. Berkali-kali aku, ya?"

     

    “Sudahlah, Dik, nggak usah berpikir macam-macam, mungkin untuk sementara ini mereka belum bisa menerima kehadiranmu, tapi Akang yakin lambat laun pasti akan menerimamu dengan baik, kok. Jadi, kamu tenang saja, ya,” kata Pak Darsun sembari mengelus pipi Narsih yang lembut itu.

     

    Narsih pun nurut, entah kenapa setiap omongan yang keluar dari Pak Darsun tak pernah bisa ia bantah. Mungkin benar, Pak Darsun memiliki wibawa yang luar biasa berkat keris sakti itu.

     

    ***

     

            Dalam kedaan masih setengah sadar, lamat-lamat Pak Darsun mendengar suara gaduh di luar rumah. Makin lama makin keras, seperti suara kerumunan orang-orang. Matanya masih sangat berat, ia melirik jam di dinding, masih cukup larut, lalu suara apa itu? Batinnya.

     

    Ia melirik ke arah samping ranjang yang mana Narsih yang kebagian menemaninya malam ini tidak ada lagi. Celingukan ia, mencoba mencari keberadaan Narsih sedangkan telinganya makin jelas mendengar suara di luar makin jelas terdengar.

     

    “Darsun! Keluar kau pembunuh!” Terdengar suara bentakan dari luar.

     

    “Keluar kau biadab!” sahut yang lain.

     

    “Bakar saja rumahnya kalau tidak mau keluar,” kata yang lain lagi.

     

    “Ya, bakar saja, bakar!”

     

    Suara-suara penuh amarah itu makin jelas terdengar. Pak Darsun membatin ada sesuatu yang tidak beres, ia pun segera keluar untuk memastikan apa yang terjadi. Sejenak ia lupakan tentang Narsih.

     

    Begitu keluar kamarnya dan hendak sampai di ruang tamu, betapa terkejutnya ia ketika melihat Warsem dan kedua anaknya telah terkapar dengan bersimbah darah segar.

     

    Sontak ia menghambur ke arah sosok-sosok tak bernyawa itu. Di goyang-goyangkan jasad itu, tetapi tak ada respon apa-apa.

     

    “Bu, Nak, astaga, kalian kenapa?’’ hanya itu yang bisa keluar dari tenggorokannya.

     

    Suara-suara di luar makin menjadi, bahkan kini salah satu teriakan mengancam untuk mendobrak pintu.

     

    Dan benar saja, ketika Pak Darsun tengah meratapi jasad istri dan anak-anaknya itu, pintu utama didobrak dengan keras.

     

    Brak!

     

    Pintu utama telah terbuka lebar menyusul beberapa warga merangsek masuk.

     

    “Biadab, kau Darsun. Keluarga sendiri pun kau bunuh!” teriak Wagiman, salah satu warga di desa Linuwih yang terkenal brangasan.

     

    Pak Darsun yang tengah kedapatan memegangi jasad istri dan anak-anaknya itu pun tak bisa mengelak, ia tampaknya masih bingung sebenarnya apa yang terjadi.

     

    “Tunggu! Ini salah paham, bukan aku yang membunuh, ini kesalahan,” belanya.

     

    Entah kenapa omongannya yang biasanya selalu dituruti orang-orang kini tak lagi di dengarkan.

     

    Berkali-kali ia menjelaskan, tetapi tampaknya warga sudah tak percaya lagi. Pak Darsun di seret keluar dan siap untuk di amuk masa.

     

    “Bakar saja pembunuh itu!”

     

    “Cincang sampai ke tulang!”

     

    “Pukuli sampai mampus!’’

     

    Begitu bunyi teriakan-teriakan mereka.

     

    Kini Pak Darsun sudah tak berdaya lagi. Tubuhnya diseret-seret oleh warga dengan kondisi di ikat.

     

    “Tenang .. tenang .. semua. Saya sudah punya rencana yang bagus untuk menghukum Kepala Desa terkutuk ini. Kita gantung saja di lapangan desa dengan disaksikan semua warga. Gimana!” seru Wagiman kepada para warga. Tampaknya ia yang menjadi pimpinan.

     

    “Setujuuu!” ujar para warga kompak.

     

    Kemudian diseretlah Pak Darsun menuju tiang gantungan di lapangan desa.

     

    ketika berada di tiang gantungan, dengan kondisi yang sudah tak berdaya, dua orang tampak mendekati Pak Darsun.

     

    Kagetlah Pak Darsun begitu melihat dua sosok itu. Yang satu ia kenali sebagai istri yang baru ia nikahi beberapa bulan yang lalu, sedangkan satunya adalah ….

     

    “Sasongko!” kata Pak Darsun lemah. Dari tatapan matanya, tampaknya Pak Darsun cukup mengenal sosok yang ia sebut sebagai Sasongko itu.

     

    “Masih cukup awas juga matamu, Darsun. Setelah 25 tahun kita tak bersua, kini kita bertatap muka lagi,” ujar Sasongko dengan sorot mata tajam sembari menyeringai.

     

    Pak Darsun sejenak terdiam, angannya kembali terbang ke puluhan tahun silam. Yang mana saat itu, ia merampas Warsem, kekasih Sasongko, juga tahta sebagai kepala desa Linuwih. Dengan berbagai cara ia menyingkirkan Sasongko. Ia pun merampas pusaka keris Kiai Tunggal Lanang dari tangan Sasongko dengan cara membayar orang-orang pilihan. Kemudian ia buat skenario licik untuk memfitnah Sasongko yang akhirnya membuat Sasongko dipenjara dalam waktu yang lama.

     

    Mata Pak Darsun kini berpindah ke arah Narsih, tampak Narsih memegang sebuah senjata dengan berbalut kain mori. Pak Darsun hapal betul bahwa itu adalah keris Kiai Tunggal Lanang miliknya.

     

    “Biadab kalian!” tukas Pak Darsun di sisa tenaganya.

     

    Narsih dan Sasongko tampak acuh, tak sedikitpun terpancing umpatan dari Pak Darsun.

     

    Sasongko terlihat menatap Narsih, “Anakku. Tugasmu sudah selesai membalaskan dendam bapakmu ini, mari kita pergi dari desa ini dan hidup sebagai orang biasa. Membuka lembaran baru. Keris ini sudah tidak bertuah sebab sudah tersentuh oleh perempuan dan biarkan itu terjadi sehingga tak ada pertumpahan darah lagi.’’

     

    End.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Em Fardhan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.