Hantu - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Rabu, 31 Agustus 2022 12:43 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Hantu

    Sambil menunggu abang bakso menyiapkan dua mangkuk bakso untuk dua sahabat lama itu, tiba-tiba lantai teras bergetar keras. Saat abang bakso mencoba menjaga gerobak dan perkakasnya, tubuh yang gembul itu terjatuh karena tidak dapat menahan ayunan dari guncangan gempa. Dua buah mangkuk pesanan menyisakan puing-puing halus tajam.

    Dibaca : 558 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Bayangkan jika masa kegelapan itu menjadi suatu nyata baru. Kita semua tidak pernah benar-benar dipersiapkan untuk berhadap-hadapan dengan keheningan sekaligus kekacauan paling asing sebagai realita hidup, khususnya bagi warga perkotaan. Seluruh simpanan seperti bahan-bahan kebutuhan hidup habis total, juga akhirnya, listrik harus padam. Kita hanya dapat mengandalkan warna-warni dalam terang jika surya datang tanpa terhalang awan.

    Namun, sesekali, di setiap sepuluh sampai limabelas menit, kita akan melihat bayang-bayang laser beserta perang drone serupa capung-capung yang terbang dalam jumlah besar mengisi langit di atas wilayah Tenggara, juga adanya hambatan pada jalur langit dengan kemacetan yang selama ini kita alami hanya terjadi di daratan. Lautan berganti warna dengan limbah

    Mungkin peristiwa tabrakan udara yang puingnya menjadi olahan inovasi teknologi tanpa teori, atau mungkin saja, itu akan menjadi tumpukan sampah paling kontemporer untuk abad duapuluh satu.

    “Apa yang akan kau ingat tentang Purba, jika semua lenyap?”

    Buang-buang waktuku saja. Cukup mengkhayalmu, hal itu tidak akan terjadi!”

    “Kau ingat apa yang menimpa Krakatau? Kita beruntung, masih ada catatan tentang kejadian itu. Itu catatan yang ditulis sebagai memoar, jurnal perjalanan seseorang yang berdagang ke negeri ini. Apa seluruh gunung-gunung tercatat demikian selain dalam fiksi dan mitologi?”

    “Pikirkan itu, tetanggamu buang sampahnya di sudut rumahmu lagi. Apa rumahmu bak sampah?”

    * * *

    Toktoktoktok

    Bang!”

    Kau mau juga? Ini bakso yang paling lama jualan di tempatku. Sekarang yang jualan pegawainya dan sudah punya kedai sendiri. Saat aku masih SD, bapaknya yang keliling dengan gerobak ini.”

    “Mau, tanpa taoge ya. Aku masih ingat, kuahnya...., rasanya khas.”

    Ya, kalau kau mau ke kedainya, si bapak yang dagang di sana, ada es buah dan es campur. Terakhir aku ke sana, hmm...., mungkin semingguan yang lalu, ada mie ayam sekarang, rasanya juga enak.”

    Sambil menunggu abang bakso menyiapkan dua mangkuk bakso untuk dua sahabat lama itu, tiba-tiba lantai teras bergetar keras. Saat abang bakso mencoba menjaga gerobak dan perkakasnya, tubuh yang gembul itu terjatuh karena tidak dapat menahan ayunan dari guncangan gempa. Dua buah mangkuk pesanan menyisakan puing-puing halus tajam.

    Brukk! Rumah di ujung jalan perumahan ini ambruk. Rumah kosong yang telah berpuluh-puluh tahun tanpa isi, juga penghuni, rumah kosong yang mereka sebut; hantu di tong sampah pojokan.

    Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.