Tidak Mudah Naik Kelas Jadi Negarawan - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Pemimpin. Karya: Mariana Anatoneag dari Pixabay

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 1 September 2022 12:33 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Tidak Mudah Naik Kelas Jadi Negarawan

    Memang tidak mudah meniti jalan jadi negarawan, sebab mereka harus melepaskan diri dari hasrat kuasa dan pengaruh atas manusia lain. Salah satu hasrat itu adalah ikut menentukan siapa yang harus didukung untuk jadi presiden berikutnya. Langkah menjadi negarawan semakin tidak mudah, sebab para presiden kita memiliki keturunan yang kini tengah meniti karir di bidang politik.

    Dibaca : 1.176 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Andaikan seusai menunaikan tugas yang diamanahkan kepadanya sebagai presiden pada 2024 nanti, Pak Jokowi lengser dari jagat politik praktis, ia akan menjadi contoh sikap kenegarawanan yang baik—politik praktis dalam pengertian menjadi bagian elite partai, relawan politik, atau kelompok kepentingan yang bersifat terbatas. Dari pengalamannya memimpin negeri ini, Pak Jokowi dapat memberi nasihat kepada siapapun yang datang kepadanya, dan apapun latar belakangnya, mengenai soal-soal kebangsaan.

    Setelah keluar dari Istana, Pak Jokowi dapat memberi masukan kepada penggantinya demi kemaslahatan rakyat banyak. Ia tak perlu lagi menjadi milik kelompok tertentu, melainkan memilih untuk menjadi milik semua unsur. Pak Jokowi dapat meninggalkan embel-embel yang dilekatkan padanya sebagai petugas partai dan tidak lagi menjadi pemuka para relawan. Ia bisa memilih untuk jadi petugas dan pemuka rakyat banyak, tanpa pilih-pilih kelompok.

    Begitulah seyogyanya permulaan yang indah dari seorang presiden setelah ia mengakhiri masa jabatannya. Mengabdi sepenuhnya kepada rakyat banyak tanpa dibebani kepentingan partai politik, kepentingan relawan berpolitik, kelompok bisnis, kelompok kepentingan lainnya, maupun kepentingan politik keluarga dan kerabat. Ia juga harus tegas menolak dipilih lagi untuk ketiga kalinya sebagai presiden. Ia mesti menghindari godaan dan rayuan untuk maju lagi dengan mengatasnamakan rakyat banyak dan atas nama demokrasi.

    Tapi memang tidak mudah melepaskan diri dari pesona kekuasaan yang telah menjadikan seseorang pusat perhatian 250 juta rakyat selama 10 tahun. Melekat pada jabatan kepresidenan itu kehormatan, keistimewaan, kemudahan, serta hal lain di samping tanggungjawab yang berat. Pada kekuasaan melekat godaan, yang jika seorang presiden tidak mampu mengatasi godaan itu, ia dapat tergelincir dan terperangkap oleh pesona kekuasaan.

    Godaan itu dapat berupa hasrat untuk berkuasa lebih lama, keinginan untuk terus jadi pusat perhatian jutaan pasang mata, keinginan untuk tetap memiliki pengaruh atas banyak orang dan peristiwa. Semakin lama berkuasa, semakin sulit bagi seseorang untuk melepaskan diri dari perangkap pesona kekuasaan. Karena itu, seseorang yang mampu memerdekakan diri dari pesona kekuasaan itu, ia akan menjadi negarawan. Ya, negarawan berada di atas kekuasaan, bukan terpikat oleh pesona kekuasaan.

    Pak Jokowi dapat menjadi contoh tentang hal itu. Begitu pula dengan dua presiden sebelumnya, sudah selayaknya mengambil jarak dari politik praktis, dengan tidak lagi mendukung kelompok ini atau itu, menjadi pemuka relawan ini atau itu, atau pemutus akhir kebijakan partai. Biarlah urusan seperti ini diserahkan kepada generasi yang lebih baru. Jadilah para mantan presiden teladan yang baik bagi rakyat banyak dengan memilih jadi negarawan yang mengatasi kepentingan kelompok.

    Namun, memang tidak mudah meniti jalan jadi negarawan, sebab mereka harus melepaskan diri dari hasrat kuasa dan pengaruh atas manusia lain dan hasrat ikut menentukan urusan politik praktis, di antaranya ikut menentukan siapa yang harus didukung untuk jadi presiden berikutnya.

    Kegiatan Pak Jokowi dengan banyak kelompok relawan memperlihatkan bahwa Pak Jokowi ingin tetap aktif dalam kegiatan politik praktis melalui jalur relawan. Keadiran Pak Jokowi di acara yang dinamai forum Musyawarah Rakyat [Musra] yang berlangsung di Bandung beberapa hari lalu seakan menyampaikan pesan kepada banyak pihak bahwa ia memiliki banyak pendukung yang siap bekerja untuk dirinya, termasuk dalam menentukan siapa orang yang akan ia dukung untuk maju ke pilpres 2024. Ini juga untuk menunjukkan kepada elite politik lain bahwa ia punya basis massa.

    Langkah menjadi negarawan semakin tidak mudah, sebab mereka memiliki keturunan yang kini tengah meniti karir di bidang politik. Apa boleh buat, kita memiliki seorang presiden yang sebentar lagi berakhir masa jabatannya dan dua orang yang pernah jadi presiden, namun ketiganya memiliki keturunan yang tengah meniti karir politik. Jadi, tidak mudah bagi ketiganya untuk naik jenjang menjadi negarawan sepenuhnya karena masih ada kepentingan politik lain yang harus mereka perjuangkan, dan ini menyangkut masa depan anak-anak mereka. >>

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.