Diam - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Jumat, 2 September 2022 06:36 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Diam

    September dan jelang musim hujan, peristiwa guguran kisah-kisah tentang silam menuju tenggelam di antara hujan untuk kehendak bertutur bagaimana membasuh yang lampau. Cahaya surya perlahan menghilang, dan masih tetap merunduk di sisi langit barat. Semacam musim narasi melankoli bagi perangkai kisah-kisah mitologi. Dan, di kembang Asteria untuk awal September, suatu pengulangan memaknai satu-satunya gigil kebijaksanaan, ada berbagai cuplikan yang emosional, yang seakan dikembalikan ke dalam asingnya rasa kesedihan atas berbagai kematian, tergenggam sebagai hal-hal yang tidak lagi ngeri selain duka tentang yakin, bahwa; satu-satunya pengabdian cinta bagi yang peka dan abadi telah hilang arti.

    Dibaca : 590 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    kepada Baraka

     

    September dan jelang musim hujan, peristiwa guguran kisah-kisah tentang silam menuju tenggelam di antara hujan untuk kehendak bertutur bagaimana membasuh yang lampau. Cahaya surya perlahan menghilang, dan masih tetap merunduk di sisi langit barat. Semacam musim narasi melankoli bagi perangkai kisah-kisah mitologi. Dan, di kembang Asteria untuk awal September, suatu pengulangan memaknai satu-satunya gigil kebijaksanaan, ada berbagai cuplikan yang emosional, yang seakan dikembalikan ke dalam asingnya rasa kesedihan atas berbagai kematian, tergenggam sebagai hal-hal yang tidak lagi ngeri selain duka tentang yakin, bahwa; satu-satunya pengabdian cinta bagi yang peka dan abadi telah hilang arti.

    Rutin adzan mempersilahkan malam kembali menyelimuti langit Jakarta terkesan biasa. Tidak lagi mampu menyentuh siapapun yang mendengar gema toak selain menempatkannya sebagai suatu hal yang bersifat kewajiban. Aktifitas wajib layaknya bekerja untuk tetap bertahan hidup, aktifitas pada efek menangkap adzan sebagai wajib sebab hadiah masuk surga. Ini tidak hanya perilaku wajib bagi siapapun, agama apapun, dan dalam strata sosial sekalipun. Kehidupan menjadi wajib dan bukan lagi tentang suatu proses latihan. Suatu kondisi peradabaan yang mati, manusia sewujud zombie.

    Peristiwa September semacam suatu wajib ingatan kepada yang gugur mati hingga hilang menjadi barter menyusun ulang kehidupan saat musim panas datang. Wajib menjadi harus manusia dalam peradaban robot sebagai pantulan murkanya kebaikan lain atas kematian kemanusiaan. Entah mengapa, yang terlintas kini hanya imaji seekor burung elang, Elang Jawa/Javan hawk-eagle/Nisaetus bartelsi/Garuda dalam suatu Śyena. Mungkin, dan peristiwa tetap menempatkan saya menjadi bagian dari anak-anak yang mengagumi kemegahan sebuah manuskrip tua, Bharatayudha/Baratayudha/Bharata/Mahabharata serima syair untuk segenap amuk oleh rahasia Śyena tentang peristiwa lahir-hidup-mati.

    Lagi-lagi, mitos-mitos epik atas jalan hidup; menyulam hati untuk setia di ruang antara dan diam.

    Malam ini, tepat duapuluh empat jam, paska menuliskan catatan untuk seorang pelukis ekspresionis muda dengan bentuk pilihan seni eksperimental, saya pun kembali mendengarkan salah satu musik Radiohead yang dahulu sering saya putar, dan rangkaiannya yang menahun, mengisi hari-hari di masa lalu sebelum beranjak mendengarkan musik-musik lainnya. Go Slowly seakan menjadi ruang antara yang selalu mampu membuat nyaman. Tidak ada satupun kegelisahan yang tidak menuntut hentakan untuk tenggelam pada nuansa diam.

    Semua berjalan biasa-biasa saja, bahkan terlalu sederhana untuk merasakan hidup dalam semangat hidup yang mati, lalu, menilai prosesnya sebagai kepastian. Berdamai pada suatu kematian dengan menjalaninya bersama Asteria, mungkin melankoli bagi September terangkai dalam untaian; alon-alon waton kelakon tegese. Tapi, membunuh/pembunuhan suatu karakter yang disampaikan detail epik Mahabharata bukanlah satu-satunya cara meraih hidup yang nyaman.

    Hanya itu yang saya lihat dalam imut Elang Jawa dengan jambulnya serupa mohawk punk dan diam menatap cakrawala dengan bola matanya yang tajam sekaligus penuh pedih. Namun, saya manusia, yang tidak memiliki mata yang dimiliki oleh sang elang, yang merangkai sensasi lain, yang hati runtuh bagai guguran daun-daun kering, berujar; “bola mata yang begitu indah”.

     

    - Jakarta, 01 September 2022 -

    Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.