Yang Hilang di Jiwa - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Jumat, 2 September 2022 11:17 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Yang Hilang di Jiwa

    *Sepanjang jalan menuju swalayan, jalan yang tidak pernah dilewatinya sangat lama. Ia mengenang masa kecil yang kini memiliki batas trotoar bagi pejalan kaki. Ingatannya kembali ke masa-masa di mana dirinya bersama kawan-kawannya sering berlarian untuk tiba lebih dahulu ke taman Teko dengan tujuan; siapa yang berhasil datang pertama kali akan diijinkan untuk naik ke teko lebih dulu. Tanpa disadarinya, Tara tersenyum. --Buzzzzz.....

    Dibaca : 597 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    II

     

    Musim pancaroba sudah lewat, dan musim penghujan dengan bah memasuki kota-kota yang tercatat mengalami penurunan elevasi daratan. Beberapa daerah sesungguhnya telah mempersiapkan dirinya dengan memberikan penyuluhan kepada warga setempat walapun hasilnya masih belum maksimal. Dan, apa yang kini melanda di kawasan pesisir selatan tidak dapat dihindari. Rumah-rumah hancur terapung air laut yang memasuki daratan tanpa kabar.

    Masih belum dapat dipastikan jumlah korban yang selamat dan yang tidak terselamatkan. Derasnya hujan yang dimbangi dengan angin kencang, ditambah kondisi laut yang pasang cukup menyulitkan mereka yang berdatangan untuk membantu warga setempat.

    Aku sedang di luar kota dan sulit signal”

    Belum sempat membalas pesan singkat yang dikirimkan oleh Atman, Tara langsung teringat dengan Lara. Seketika pikirannya semakin berantakan setelah apa yang dilakukannya kepada Lara beberapa waktu lalu. Tara akhirnya mencoba menelpon Lara, namun yang menjawab hanyalah pesan suara. Ia coba menenangkan dirinya dengan mengganti saluran televisi ke pilihan film terbaru. Hatinya tetap tidak nyaman.

    Ini sudah ke lima kalinya, Tara menelpon Lara, dan yang tedengar hanya pesan suara.

    Hari ini Tara memilih untuk tetap di rumah meskipun sedang libur dari pekerjaannya. Akhirnya, ia mematikan televisi dan beranjak menuju dapur. Mungkin membuat kue atau memasak sesuatu yang menyenangkan dapat mengalihkan pikirannya yang diselimuti kekuatiran akan keberadaan Lara.

    Saat membuka kulkasnya, bahan-bahan yang diinginkannya tidak ada. Tara kembali duduk di ruang keluarga di mana televisi sedang memutar film drama Irlandia yang tidak menarik minatnya untuk terfokus mengikuti ceritanya. Sejak kerja, dirinya memang lebih sering makan di luar atau memesan makanan secara online. Tara memilih untuk berjalan-jalan ke swalayan terdekat daripada memesan barang-barang yang dibutuhkannya. Dirinya berjalan menuju kamar mandi untuk bersiap-siap.

    Sepanjang jalan menuju swalayan, jalan yang tidak pernah dilewatinya sangat lama. Ia mengenang masa kecil yang kini memiliki batas trotoar bagi pejalan kaki. Ingatannya kembali ke masa-masa di mana dirinya bersama kawan-kawannya sering berlarian untuk tiba lebih dahulu ke taman Teko dengan tujuan; siapa yang berhasil datang pertama kali akan diijinkan untuk naik ke teko lebih dulu. Tanpa disadarinya, Tara tersenyum.

    Buzzzzz.....

    Seorang pengguna jalan raya yang sedang berjalan cukup stabil dengan mengendarai motor terhenti setelah melihat seseorang terpelanting. Ia berusaha memundurkan motornya dengan hati-hati dan memarkirkan motornya tidak jauh dari Tara kini tergeletak. Kengerian pun merasuki pengendara itu. Tanpa berpikir panjang, ia pun langsung memanggil ambulans.

    Sambil mencari bantuan warga terdekat untuk membawa tubuh Tara kembali ke trotoar, tiba-tiba, terdengar suara telpon masuk dari kantong celana Tara. Tanpa berpikir panjang lagi, Jono merogoh kantong celana Tara dan mengangkat telponnya.

    Ada apa? Kau menelponku sampai lima kali tanpa sepatah kata

    Maaf pak, apa anda keluarga korban?”

    Anda siapa?”

    Saya menemukannya tergeletak, tertabrak kereta. Saya tidak tahu kejadiannya, pak.”

    Dan kedua suara di dalam percakapan telpon itu mendadak sepi. Lara tidak tahu harus mengatakan apa kepada orang yang kini menjawab telponnya.

    Klikkk

    Telpon mati.

     

     

    (Bersambung)

     

    Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.