Kekasih-kekasih Cik Hera - Analisis - www.indonesiana.id
x

cover buku Kekasih-kekasih Cik Hera

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 7 September 2022 05:47 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Kekasih-kekasih Cik Hera

    Novel “Kekasih-kekasih Cik Hera” ini mempunyai tiga wajah. Wajah pertama adalah wajah parenting. Novel ini menggambarkan keluarga yang berantakan bisa sangat berbahaya bagi pertumbuhan anak-anak. Wajah kedua adalah wajah nilai-nilai agama (Katholik) yang menggambarkan kasih, pengampunan, anti aborsi dan pentingnya keluarga. Sedangkan wajah ketiga adalah nilai-nilai tradisi tionghoa yang perlu dipertanyakan relevansinya di masa kini.

    Dibaca : 1.234 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Kekasih-kekasih Cik Hera

    Penulis: Kho Pong

    Tahun Terbit: 2016

    Penerbit: Lintang Aksara

    Tebal: x + 310

    ISBN: 978-602-1508-60-2

     

    Novel “Kekasih-kekasih Cik Hera” ini mempunyai tiga wajah. Wajah pertama adalah wajah parenting. Novel ini menggambarkan keluarga yang berantakan bisa sangat berbahaya bagi pertumbuhan anak-anak. Wajah kedua adalah wajah nilai-nilai agama (Katholik) yang menggambarkan kasih, pengampunan, anti aborsi dan pentingnya keluarga. Sedangkan wajah ketiga adalah nilai-nilai tradisi tionghoa yang perlu dipertanyakan relevansinya di masa kini.

    Banyak orang menganggap bahwa orang tionghoa selalu bahagia kalau kepenuhan materi. Anggapan itu bisa jadi benar, tetapi tidak sepeuhnya benar. Novel karya Kho Pong yang dijuduli “Kekasih-kekasih Cik Hera” ini menggambarkan ruwetnya keluarga tionghoa, meski tidak kekurangan secara materi. Keluarga menjadi berantakan karena pengkhianatan cinta dalam keluarga. Dendam yang membara akibat dikhianati membuat anak-anak menjadi semakin runyam jadinya. Bagaimanapun keluarga tionghoa adalah sama dengan keluarga-keluarga etnis lain yang mempunyai dinamika yang kompleks.

    Cukup banyak novel dengan latar belakang tionghoa yang ditulis. Namun sangat jarang yang membahas persoalan-persoalan keluarga. Kebanyakan novel berlatar tionghoa ditulis untuk menunjukkan penderitaan orang-orang tionghoa - khususnya perempuan, akibat dari kerusuhan 1998. Banyak juga yang ditulis untuk menggambarkan pergumulan orang-orang tionghoa sebagai bagian dari warga sah Indonesia. Cukup banyak yang membahas tionghoa dan Islam. Namun novel yang menggambarkan kehidupan keluarga tionghoa dengan segara dinamikanya sangatlah sedikit.

    Kho Pong menggambarkan keretakan keluarga yang diikuti dengan perasaan dendam bisa merusak kehidupan anak-anak. Hera Sulistianingrum perempuan tionghoa asal Batu Malang yang beranak dua dikhianati oleh Rudy Santoso, suaminya. Rudy Santoso minggat untuk hidup bersama dengan perempuan pilihan ibunya. Alih-alih memikirkan kehidupan dua anak perempuannya, Hera malah mengumbar kemarahannya untuk membalas pengkhianatan Rudy. Tiadanya perhatian yang cukup kepada kedua anaknya ini berakibat pada Tasya (Anastasya) anak pertamanya menjadi liar dan mempunyai orientasi seks yang menyimpang.

    Kho Pong menggambarkan kehidupan keluarga yang berantakan ini dengan kisah yang cukup seronok. Di cover buku, Kho Pong sudah memeringatkan bahwa novel ini “khusus 17 tahun ke atas.”

    Hera yang marah, membalas pengkhianatan suaminya dengan cara berselingkuh dengan Dharsono teman SMA-nya. Tak puas hanya berselingkuh  dengan Dharsono, Hera pergi ke California untuk berselingkuh dengan Steven, pemuda yang pernah menaksirnya saat remaja. Hera sama sekali tidak memperhatikan kehidupan Tasya yang membutuhkan perhatian penuh saat tumbuh menjadi remaja. Tasya menjadi gadis yang liar dan biseksual.

    Keliaran Tasya berakibat kepada kehamilan di luar nikah. Tasya yang berupaya untuk menggugurkan kandungannya bisa dicegah oleh Dharsono kekasih Hera, Romo Francesco Lugano dan Mbak Sri pembantu di masa Tasya kecil dulu. Ketiga orang dewasa ini meyakinkan Tasya untuk mempertahankan kandungannya. Tasya diungsikan ke desa Mbak Sri untuk melahirkan. Bayi perempuan yang dilahirkan oleh Tasya dipelihara oleh keluarga Mbak Sri.

    Kho Pong jelas membawa nilai-nilai Katholik dalam novel ini. Meski berkisah dengan bumbu yang cukup panas, namun dia memasukkan nilai-nilai Katholik secara mendalam. Nilai-nilai itu adalah tentang kasih, pengampunan, larangan menggugurkan kandungan dan ikatan keluarga.

    Meski awalnya perjumpaan Dharsono dengan Hera adalah melalui kisah perselingkuhan, namun Dharsono jelas dipakai oleh Kho Pong untuk menggambarkan tentang kasih seseorang kepada sesama. Dharsono yang tak memiliki anak sebenarnya ingin mengadopsi Jessica anak perempuan kedua Hera. Sayang sekali Jessica dibawa oleh Hera ke California. Gagal mengadopsi Jessica, Dharsono mencurahkan perhatian kepada Tasya. Dharsonolah yang mengurus Tasya yang liar selama mamanya berada di California.

    Dharsono berhasil menyelamatkan kandungan Tasya sampai sang bayi dilahirkan. Dharsono juga yang berupaya untuk membawa Rudy yang terkena strook untuk kembali bertemu dengan keluarganya. Di sinilah nilai Katholik tentang kasih itu dijabarkan dengan sangat baik oleh Kho Pong.

    Tentang pengampunan, Kho Pong menggambarkan tokoh-tokoh dalam novel ini sebagai orang-orang yang tidak sempurna. Semua tokohnya mempunyai cacat kehidupan. Rudy mengkhianati kehidupan pernikahannya. Hera marah karena merasa dikhianati dan kemudian mengabaikan pertumbuhan anak-anaknya demi membalas dendam. Dharsono berselingkuh. Namun meski hidup tokoh-tokohnya mempunyai dosa-dosa, tetapi mereka-mereka ini tetap dipakai untuk karya Allah. Semua tokohnya mendapatkan pengampunan untuk bisa membawa kebahagian pada akhirnya.

    Agama Katholik jelas sangat menentang pengguguran kandungan. Dalam novel ini Kho Pong menggambarkan upaya Dharsono, Mbak Sri dan tentu saja Romo untuk menyelamatkan bayi dalam kandungan Tasya. Khotbah pendek Romo tentang sucinya bayi dalam kandungan jelaslah menggambarkan bagaimana nilai Katholik sangat dominan dalam novel ini.

    Sedangkan pentingnya keluarga dikemas dengan kembali berkumpulnya keluarga Rudy dan Hera bersama anak-anak dan cucunya. Sehancur apapun sebuah keluarga, tetap masih bisa dipersatukan kembali menjadi keluarga yang saling mengasihi dan saling mengampuni.

    Selain dari nilai-nilai Katholik, novel ini juga membahas benturan nilai-nilai tradisional tionghoa dengan nilai-nilai kekinian. Kho Pong menyajikan benturan nilai antara Rudy dengan orangtanya. Orangtua Rudy yang tinggal di Makassar masih sangat percaya kepada perhitungan shio. Rudy dan Hera mempunyai shio yang tak bisa disatukan dalam pernikahan. Mereka menentang perjodohan keduanya. Itulah sebabnya Rudy dan Hera kawin lari. Namun setelah mereka mempunyai anak, Rudy justru menuruti apa yang menjadi keinginan mamanya, yaitu menikahi perempuan lain yang bisa memberikan anak lelaki. (Rudy dan Hera memang mempunyai satu anak lelaki, tetapi anak tersebut meninggal karena sakit.)

    Di bagian akhir cerita, Rudy lebih memilih untuk rekonsiliasi dengan keluarganya daripada memenuhi permintaan mamanya. 700

     

    Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.