Hari Aksara Internasional; Percuma Sekolah Tinggi Bila Masih Sebarkan Hoaks - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Hoaks. Karya: S. Hermann dan F. Richter dari Pixabay.com

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Kamis, 8 September 2022 20:42 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Hari Aksara Internasional; Percuma Sekolah Tinggi Bila Masih Sebarkan Hoaks

    Hari Aksara Internasional bukan hanya penting untuk memberantas buta aksara. Bukan pula soal aktivitas membaca dan gerakan literasi. Tapi hari aksara adalah sikap untuk berani menyetop hoaks dan ujaran kebencian atas alasan apapun. Jadi spiritnya adalah keberanian membendung bertebarannya hoaks, ujaran kebencian, dan konten-konten negatif di media sosial. Hoaks itu sesat tapi mampu “dijual” sebagai kebenaran oleh orang-orang yang tidak literat.

    Dibaca : 636 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Tanggal 8 September diperingati sebagai Hari Aksara Internasional. Lalu apa yang mau dilakukan di hari tersebut? Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka mengimbau masyarakat untuk stop sebarkan hoaks alias berita bohong. Karena di era media sosial, terlalu mudah bagi siapapun untuk ikut menyebarkan hoaks. Berita tanpa kebenaran tanpa diketahui sumbernya.

    Hari Aksara Internasional bukan hanya penting untuk memberantas buta aksara. Bukan pula soal aktivitas membaca dan gerakan literasi. Tapi lebih dari itu, hari aksara adalah sikap untuk berani menyetop hoaks dan ujaran kebencian, atas alasan apapun. Karena hoaks dan ujaran kebencian sangat menyesatkan.

    Stop hoaks di hari aksara internasional

    Jadi spirit, Hari Aksara Internasional di bumi Indonesia adalah keberanian untuk membendung bertebarannya hoaks, ujaran kebencian, dan konten-konten negatif di media sosial. Hoaks, sangat gampang terjadi di era digital seperti sekarang. Aksesnya mudah dan cepat. Hoaks itu sesat tapi mampu “dijual” sebagai kebenaran oleh orang-orang yang tidak literat.

    Tidak ada guna pendidikan tinggi, punya jabatan dan status sosial bahkan omongannya religius tapi tetap bersahabat dengan hoaks dan ujaran kebencian. Siapa pun harus hati-hati terhadap informasi yang tidak jelas umbernya, tidak jelas tujuannya.  Manusia literat bersikap untuk memilah dan memilih informasi yang bermanfaat dan positif. Bukan justru menebar hoaks, ujaran kebencian, fitnah, dan konten negatif yang tidak produktif.

    Melek aksara bukan sebatas bisa baca-tulis. Tapi mampu menjadi manusia yang literat. Agar tidak menggembar-gemborkan masalah tanpa memberi solusi. BBM naik harus disikapi dengan literat. Berani punya kendaraan berarti berani membeli bahan bakar. Kaum buta aksara bukan untuk dikasihani tapi bantu agar terbebas dari buta aksara. Anak putus sekolah bukan diomongin tapi bantu agar bisa terus sekolah.

    Maka Hari Aksara Internasional bukan seremoni tapi esensi. Aksi nyata untuk bergerak dan berubah ke tatanan kehidupan yang lebih literat. Mampu meredan hoaks dan ujaran kebencian di mana pun dan kapan pun. Karena sekatinya, “aksara” itu pembeda antara yang bekerja dan yang berbicara.

    Manusia literat, harus dimulai dan diakhiri dari diri sendiri. Jadilah Literat! Salam literasi #HariAksaraInternasional #GerakanLiterasi #Tamanbacaan #TBMLenteraPustaka

    Ikuti tulisan menarik Syarifudin lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.