Dari Humba ke Santiago - Hiburan - www.indonesiana.id
x

cover buku Dari Humba ke Santiago

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 10 September 2022 17:52 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Dari Humba ke Santiago

    Kumpulan cerpen bertema kenangan terhadap kota.

    Dibaca : 915 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Dari Humba Ke Santiago

    Penulis: Mashdar Zainal, Wina Bojonegoro, dkk

    Tahun Terbit: 2022 (cetakan kedua)

    Penerbit: PAD Media

    Tebal: xiv + 226

    ISBN: 978-623-5654-00-3

     

    Antologi cerita pendek ini disusun oleh beberapa penulis yang menjadi peserta Kelas Menulis Cerpen Padmedia Angkatan 4. Padmedia adalah kelompok belajar menulis yang digagas oleh Padmedia yang diasuh oleh Wina Bojonegoro alias Endang Winarni. Pada Angkatan 4 ini tantangan yang diberikan oleh para mentor lebih berat. Tema fiksi dibatasi. Tema harus berhubungan dengan kenangan terhadap kota. Itulah sebabnya judul kumpulan cerpen ini juga berhubungan dengan nama-nama kota “Dari Humba ke Santiago.” Humba adalah sebutan lain dari Sumba.

    Masih sama dengan Angkatan-angkatan sebelumnya, peserta belajar menulis ini juga berasal dari latar belakang peserta yang beragam. Ada peserta yang berasal dari aktifis gerakan, ada yang pegawai negeri, ada yang ibu rumah tangga dan ada pula yang memang merintis untuk menjadi penulis sebagai profesi.

    Angkatan keempat ini diasuh oleh para cerpenis yang namanya sudah mengakar di koran-koran dan buku-buku kumpulan cerpen. Mereka-mereka ini adalah Damhuri Muhammad, Kurnia Effendi, Mashdar Zainal, Sunlie Thomas Alexander, Vika Wisnu, Ni Komang Ariani dan Dewi Kharisma Michelia. Tentu Wina Bojonegoro juga ikut terlibat aktif sebagai baby sitter.

    Para penulis cerpen dalam buku ini ada yang sangat berhasil menjadikan kota menjadi tema utama. Namun ada juga yang hanya menyematkan kota tanpa bisa menghubungkan dengan kisahnya. Saya suka cerpen “Gelumat Osaka” karya Agustin Krisna dan “Gadis Akuarium” karya WS. Arianti. Menurut saya kedua cerpen ini sangat berhasil menampilkan kota sebagai tema cerita. Di cerpen “Gelumat Osaka” Agustin Krisna sangat berhasil menampilkan suasana kota yang tak terpisahkan dari kisah kegelisaan seorang perempuan yang berjuang untuk keluarganya di sebuah desa di Indonesia. Suasana kerja, budaya bersenang-senang sambil minum di waktu tertentu dan hubungan antar manusia (pekerja dan mandornya) sangat kuat melekat untuk menampilkan Kota Osaka sebagai tema cerita. Agustin Krisna juga sangat berhasil menghubungkan suasana Kota Osaka dengan pergumulannya sebagai seorang perempuan pekerja yang ingin mengangkan derajat keluarganya.

    WS. Arianti mengisahkan peristiwa yang sungguh terjadi di Surabaya. Kisah penutupan kompleks pelacuran di kota Surabaya itu tergambar dengan sangat rinci. Demo yang dilakukan oleh para penghuni kompleks yang berupaya mempertahankan tempat usahanya,membuat cerpen ini benar-benar berhasil menjadikan Doly sebagai tema cerita.

    Meski bertema kenangan terhadap kota, cerpen-cerpen yang muncul dalam kumpulan ini didominasi dengan tema perempuan. Di semua cerpen, termasuk yang tokohnya adalah laki-laki, berbicara tentang pergumulan perempuan. Sebagian besar cerpen memang secara terang-terangan membahas tentang pergumulan perempuan. Hal ini mungkin disebabkan karena para penulisnya kebanyakan perempuan dan sehari-harinya banyak bergelut dengan isu perempuan. Hanya dua orang lelaki dari 22 penulis yang menyumbang karya fiksinya di buku ini.

    Cerpen yang ditulis oleh penulis lelaki inipun tak lepas dari tema perempuan. “Davos” karya Agus Pribadi memilih tokoh perempuan yang bersekolah di Jerman. Tokoh perempuan ini harus bergumul apakah harus mempertahankan cita masa kecilnya, atau memilih seseorang yang sepertinya diinginkan oleh ayahnya untuk menjadi suaminya. Apakah perempuan harus mengalah dan menekan cintanya demi bakti kepada ayahnya?

    Satu-satunya cerpen yang tidak membahas permasalah perempuan adalah cerpen “Gambir” karya Mashdar Zaenal. Mashdar berkisah tentang seorang lelaki dan stasiun-stasiun kereta. Cerpen ini pun sangat berhasil mengangkat tema tempat (Stasiun Gambir) sebagai pusat dari cerita. 701

    Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.