Ngobrol dengan Langit di Rumah Kita Sendiri. - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Photography by Tasch 2020 (Digital Photo)

Taufan S. Chandranegara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Juni 2022

Sabtu, 10 September 2022 17:53 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Ngobrol dengan Langit di Rumah Kita Sendiri.

    Sebuah esai dalam kisah obrolan dengan langit. Kadang di kesendirian, muncul, ada saja pertanyan ngawang kian kemari. Salam baik saudaraku.

    Dibaca : 429 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Ngobrol dengan langit di rumah kita sendiri. Boleh dong? Sebuah pertanyaan kadangkadang lahir begitu saja, entah dalam perjalanan, entah dalam bekerja atau tengah sibuk mengejar ilmu buat citacita, mengembangkan inteligensi, bermanfaat edukasi publik. Artikel ini, muncul begitu saja kala menyiram tanaman. Barangkali bisa juga disebut, kadangkadang.

    Adakah teknologi matasatelit kemodernan perlu kembali menguji-demokrasi. Apakah ala kontemporer atau dengan cara klasik. Berpihak pada siapa si dia, demokrasi itu. People power atau capital power. Ya udah, cuma mau nanya gitu aja. Santai aja kale.

    **

    Hegemoni alias monopoli dagang dari zaman kolonial hingga global, katanya, malah makin awet muda, ada resepnya kali ya. Lomba senjata mutakhir, meski DK PBB, katanya, susah payah, berpihak pada resolusi perdamaian, pertikaian politik, perang, di antara negara anggotanya. Berarti demokrasi bikin puyeng tujuh keliling lembaga itu. 

    Apa iya, demokrasi perlu dukungan kapital kuat. Menilik modern politik dagang antar benua melewati kekhawatiran, kecemasan-perang melulu. Sejak PD I-II, niskala persaingan multitekno, ekonomi, bergulir di masanya, di benua atas, juga benua dekat.

    Apa mungkin, ada, siaran berita ulangan neoperang dingin, bagai kala lampau, barangkali loh. Apa mungkin benua bawah kelasdunia, bertahap, terfokus persaingan-perang dagang terbuka multisektor, udah kale ya, ke-era kemudian, kini, bak kisah berlanjut setelah adidaya benua atas bubaran. 

    **

    Jadi inget dongeng hebat, Timun Mas, si kecil, menjebak raksasa-kalah. Agaknya raksasa tak selalu menang, urusan kekuasan koloni, bisa kalah-oleh perlawanan pada hegemoni kolonial. Tak satupun rela jadi negara jajahan. Negeri ini pun, mantap, mengusir kolonial, dulu, kini, apa masih ada. Nanya boleh dong.

    Abstraksi. Musim, mengembangkan embrio politik dagang antar benua kontemporer kemudian. Niskala, acuan keilmuan beragam-paradoksal, datang-pergi, bagai musim badai gurun Gobi, metabolisme kesehatan planet dunia berubahubah. Kadang senyum simpatik, atau, teror telor ceplok matasapi. Bocor-di antara sejumlah, kebocoran, sejak musim lalu ke kini, tak rahasia lagi. Karena ngeles melulu.

    Jadilah senyum si teror telor ceplok matasapi, senyum piala kemenangan manis cantik sekali, sebab memenangkan, dari sejumlah kelemahan lawan-tak selalu akibat kealpaan, meski keterbelakangan teknologi dilarang jadi alasan kalah-menang loh. Di ruang kurun waktu kapan saja ya.

    Kalau tak mampu jadi putri cantik-metamorfosis, mungkin boleh pinjam senyum para dewa. Wajib waspada, meski kalimat waspada hingga menjadi kewaspadaan, inteligensi, tetaplah-kalah, oleh gadis kecil Timun Mas. Lagi, teknologi ketebelakangan tak boleh jadi alasan, atau alibi, kecolongan pun, tabu jadi alasan. Ibarat mesin rusak. Ganti baru saja.

    **

    Kini. Teknologi perang, efektif, hipercepat. Sanggup menghancurkan satu kurun waktu peradaban manusia amat singkat, entah demi apa. Demokratisasi, simpam pinjam marak di media sosial.

    Hal ihwal peradaban bumi, bagai kenangan indah, meski, nyeri juga banyak. demi mencapai kemodernan tak ingin disebut terbelakang, tuntutan zaman atau jadi kalimat  ‘itulah hidup’, atau mungkin pula tak jadi kalimat apaapa.

    Multielektronik sistem mediadigital, ekonomi, perdagangan di mayapada ini, bisa disebut telah mengalami berbagai gerakan pemikiran revolusioner, industri-tekno, makin canggih, matasatelit pun bisa bocor, ember pun bisa bocor. Catatan personal hingga publik dunia, all in one, take away, online, cepat saji, tinggal pilih saja. Harga plus diskonto spesial valentine day.

    **

    Kehidupan kadangkadang aneh tapi nyata. Bagai kisah novel atau prosa liris, secantik-seindah puisi, Kahlil Gibran, atau pula, mungkin, segarang antologi puisi pamflet, Potret Pembangunan Dalam Puisi (1993) W.S. Rendra, pada masanya, sedikit kutipan dari ‘Sajak Sebatang Lisong’, dari antologi itu:

    Menghisap sebatang lisong
    melihat Indonesia Raya,
    mendengar 130 juta rakyat,
    dan di langit
    dua tiga cukong mengangkang,
    berak di atas kepala mereka…

    (Kutipan karya W.S. Rendra, 1993)

    **

    Cerita pendek tokoh rahasia, bermukim sementara di Bandara milik negeri pesaing dari negerinya, bukan rahasia lagi, di zaman digit perdetik kini. Rudal nuklir bisa terbang kapan saja, sukaria si empunya rudal icu (itu). Kisah tokoh rahasia, konon berani mengungkap kebenaran dibalik konsep politik strategis sebuah tempat, katanya sih begitu. Meretaskan rahasia personal-publik, badan formal tertentu di negeri dongengan. 

    Gonjangganjing dunia dibuatnya, stabilitas multibenua terancam, antar negara sahabat, mungkin saja bisa marahan, ogah baikan. Meski, konon, tujuan matasatelit ke-publik lewat tekno canggih, konon, guna mendeteksi sedini kemungkinan gerakan terorisme, isunya sih begitu pula. Entahlah. Akhir kisah, debu sirna terhembus angin.

    Barangkali, ini seandainya loh, ada, pertanyaan di hati salah satu manusia, dari sekian miliar jumlah manusia di jagat ini, semisal, kenapa sih salah satu hobi manusia berantem, jadi bagian perwatakan peranannya, kemana perginya citacita berantem itu. 

    Teknologi perang demi kemaslahatan siapa ya. Buat si anu atau si itu, atau terserah saja. Siapa, pencipta perang. Meskipun salah satu cerita kurun waktu sejarah. Sejak manusia abad purba plus koloni sosialnya, mungkin. Apakah manusia, tak bisa hidup sederhana. Damai aja gitu, sepanjang masa, barangkali bisa. Keren.

    **
    Hancur, peradaban lampau, artefak Bagdad Kota-1001 malam, akibat invasi perang juga loh. Parisnya Jazirah Timur tempo dulu. Bagdad, tempat lahir susastra epik pada abad pertengahan, peradaban masa keemasan dongeng 1001 malam, segala habitat artefaknya-ranah sains kecerdasan bangsa lampau, pelajaran arkeologis di mayapada, sirna digusur rudal. Kenapa ya.

    Pada mulanya tujuan, dari tinjauan demokrasi, konon, sederhana. Guna menumbuhkan kesetaraan anti perbudakan. Demokrasi, sebagai alat hidup utama kesetaraan berfikir bangsa manusia modern, kewajiban bertindak selaras berbudaya setara baik, disegala bentuk kemanusiaan, di muka bumi ini. Naif, diperlukan dalam sebuah pertanyaan.

    Semisal saja, sederhana. Obrolan segala ada di jejaring sosial, email, halhal terkait dengan hidup, terkirim secepat berkedip, dicatat matasatelit. Barangkali itu salah satu contoh bentuk entitas etis demokrasi di ranah tekno. Apakah itu ya.

    Ketika, seluruh data pribadi di dunia melewati teknologi penyimpanan di orbit matasatelit dicatat seumur hidup. Kecuali matasatelitnya dihajar ledakan matahari, barangkali datanya bisa hilang, meski tak bocor loh, barangkali loh. Namanya juga kisah dalam dongeng hikayat 1001 malam. Ngobrol ringan warung kopi. Peace.

    Bayangkan, seumpama, senyum aja nih, direkam matasatelit seumur hidup di zaman selfie, neobudaya modern tekno, kini. Hihihi, girang kale ya foto senyuman termanis, bocor lewat matasatelit.

    Setiap hari sesungguhnya hari baru. Waktu baru. Harihari membangun negeri kasih sayang ini. Bersama, profesi masingmasing. Salam Damai Indonesiaku. I Love You.

    ***
    Jabodetabek Indonesia, September 10, 2022.

    Ikuti tulisan menarik Taufan S. Chandranegara lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.