Berhumorlah di Tempat Kerja - Analisis - www.indonesiana.id
x

Humor at Wodk,. Berhumorlah di Tempat Kerja

atmojo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 12 September 2022 14:18 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Berhumorlah di Tempat Kerja

    Buku Humor at Work ini tak hanya memberikan pengetahuan teoritis tentang humor, tapi juga berbagi pengalaman soal pentingnya humor di tempat kerja.

    Dibaca : 1.433 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kita semua suka humor, itu sudah pasti. Sejak dulu, kita mengenal ludruk, ketoprak, Srimulat – dan sejenisnya – yang bisa membuat kita tertawa dan gembira. Juga aneka lelucon  dalam kehidupan sehari-hari yang membuat kita tersenyum ceria. Film-film lucu yang dibintangi oleh Warkop Prambors, misalnya, sampai beberapa tahun lalu selalu diputar ulang stasiun televisi di masa lebaran. Di Amerika, serial televisi Friends juga beberapa kali dinobatkan sebagai acara paling populer. Belakangan, di Indonesia, kita mengenal stand up comedy yang banyak disiarkan berbagai stasiun televisi.

    Namun, sangat mungkin tidak semua kita mengenal, misalnya, apa bedanya levity, humor, dan komedi? Apa pula itu teori humor? Apa yang umumnya menyebabkan orang tertawa? Nah, untuk itulah kehadiran buku ini penting.

    Tetapi, lebih jauh dari itu, sesuai dengan judulnya, buku ini dimaksudkan agar humor bisa digunakan di mana pun, khususnya tempat kerja. Sebab dengan humor – salah satunya fungsinya sebagai ice breaker--  dapat membuat suasana kerja lebih santai. Denghan begitiu para pekerjanya semakin  kreatif dan produktif.  Humor juga bisa digunakan iuntuk berbagai keperluan lain, misalnya, sosialisasi program atau seminar. Jadi, humor memang penting.

    Buku berjudul Humor At Work dengan subjudul Kerja Gembira, Usaha Berjaya, ini diterbitkan oleh Institut Hunmor Indonesia Kini (IHIK) tahun 2022. Berisi 19 tulisan yang ditulis oleh Danny Septriadi;  Josef Bataona; Maman Suherman; Novrita Widiyastuti; Ulwan Fakhri; Yasser Fikry; plus pengantar dari Seno Gumira Ajidarma. Menurut Seno – salah satu pendiri IHIK bersama Darminto M. Sudarmo, dkk -- penerbitan buku ini adalah bagian dari kesadaran untuk membuat humor berdaya guna.

    Menurut Ardi Yunanto, editor buku ini, humor itu serius. Serius untuk segera diterapkan di dunia kerja yang terlalu serius karena manfaatnya juga serius. Bagi pekerja, humor melenturkan ketegangan, mempererat solidaritas, dan memicu kegembiraan. Bagi dunia kerja, produktivitas justru hanya bisa langgeng jika pekerja bergenmbira, berani berpendapat, dan tidak takut mencoba.

    Lalu Ulwan Fakhri, dalam pendahuluan, dengan bagus menjelaskan perbedaan levity, humor, dan komedi. Levity (keceriaan) adalah cara berpikir atau mindset dalam hidup untuk menghadirkan kebahagiaan kepada diri sendiri dan orang lain. Ketika orientasi kita adalah keceriaan, maka hal-hal kecil yang kitan lakukan bakal lebih berwarna. Sedangkan humor adalah hal-hal yang dilakukan denbgan sadar untuk menyalurkan keceriaan tersebut. Humor itu keterampilan yang sangat mendasar untuk menghadirkan kebahagiaan kepada diri sendiri atau orang lain. Sedanhkan komedi adalah kemampuan berhumor yang dilatih secara terus-menerus sampai menjadi ahli atau profesional. Foermatnya bisa stand up comedy, komik strip, film, atau musik dan tari komedi.

    Ulwan Fakhri juga menyinggung 3 (tiga) teori humor yang paling populer. Tapi karena dia hanya menyinggung sekilas alias terlalu pendek, maka saya coba panjangkan sedikit di sini. Pertama, teori keunggulan (superiority theories). Menurut teori ini, inti dari humor  adalah rasa lebih baik, lebih tinggi atau lebih sempurna pada diri seseorang dalam menghadapi suatu keadaan yang mengandung kekurangan atau kelemahan. Di sini, munculnya reaksi tawa seseorang karena mendadak ia memperoleh perasaan unggul saat menghadapi atau melihat pihak lain yang melakukan kekeliruan atau mengalami hal yang tidak menguntungkan. Banyak orang tertawa, misalnya, melihat badut yang terpeleset kulit pisang, lalu terbentur tiang dan tertimpa tangga. Pendeknya, orang tertawa karena melihat ekspresi, ucapan, atau tindakan aneh lain yang dianggap sebuah ketololan. Perasaan superior berwujud tawa itu muncul atas kemalangan atau kekurangan orang lain.

    Model humor di atas -- sering disebut sebagai slapstick -- kerap dipakai oleh banyak komedian Indonesia dari dulu hingga kini.  Banyak komedian kita menggunakan jurus ini, misalnya dengan sengaja menampilkan diri sebagai orang yang bodoh, teraniaya, menonjolkan kekurangan fisik, agar orang tertawa. Saya tidak tahu, apakah para komedian itu dengan sadar menggunakan jenis ini karena menyadari siapa penontonnya, atau justru hanya sebatas itu kemampuannya. Padahal, humor jenis ini dianggap paling mudah untuk dilakukan.

    Kedua, teori ketidaksesuaian (incongruity theories). Teori ini menjelaskan bahwa tawa timbul karena perubahan yang sekonyong-konyong dari suatu situasi yang sangat diharapkan menjadi suatu hal yang sama sekali tidak diduga atau tidak pada tempatnya. Tawa terjadi karena harapan yang dikacaukan (frustrated expectation), sehingga seseorang dari suatu sikap mental tertentu dilempar ke dalam sikap mental yang sama sekali lain. Jadi tawa merupakan respon terhadap persepsi ketidaksesuaian.

    Ketiga, teori pembebasan (relief theories). Menurut teori ini, inti humor adalah pembebasan atau pelepasan dari kekangan yang terdapat pada diri seseorang. Karena ada berbagai pembatasan dan larangan yang ditentukan oleh masyarakat atau pemerintah, dorongan-dorongan batin alamiah dalam diri manusia mendapat tekanan. Nah, bilamana kekangan itu dapat dilepaskan? Misalnya melalui sindiran jenaka. Maka meledaklah perasaan orang dalam bentuk tertawa. Maka humor berfungsi untuk membantu meredakan ketegangan. Jika kita sering mendengar bahwa humor disebut sebagai “katup pelepas”, kira-kira dari teori inilah ucapan itu berasal. Humor jenis ini yang menurut saya masih perlu dikembangkan di sini.

    Selanjutnya ada tulisan Josef Bataona tentang Kebahagiaan di Tempat Kerja; Lalu Yaesser Fibry menulis soal Kantor Antihoror, Novrita Widiyastuti menulis Rapat Tak Rapat Humor Harus Sempat dan Humor Kantoran Bebas Baperan.

    Pendeknya, ini buku langka dan berguna. Akhirnya, sekadar usul, IHIK menerbitkan buku-buku humor dengan tema-tema khusus, misalnya, soal politik atau hukum. Bukankah banyak kelucuan di kedua bidang tersebut?  Lebih hebat lagi kalau IHIK dapat membuat skenario  film atau sinetron humor yang mencerdaskan. Selamat membaca, selamat berhumor-ria

     

    • Atmojo adalah penulis yang meminati bidang filsafat, hukum, dan seni.

    ###

    Ikuti tulisan menarik atmojo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.


    Oleh: Hadirat Syukurman Gea

    12 jam lalu

    Analisis Sistem Jual-Beli Ijon pada Komoditas Mangga Berdasar Ekonomo Makro

    Dibaca : 83 kali

    Mangga merupakan salah satu komoditas buah yang digemari hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Mangga turut menyumbang perekonomian Indonesia karena menjadi komoditas yang di ekspor. Pada tahun 2015, ekspor mangga sebesar 1.515 jutatonyangsebagianbesarmerupakanjenis Mangga Gedong Gincu dan Mangga Arumanis. Kabupaten Kediri merupakan salahsatudaerahyang menjadikan mangga khususnya Mangga Podang sebagai oleh - oleh khas daerah dikarenakan banyaknya pohon mangga yang tumbuh di sekitar lereng GunungWilis.ManggaPodangkhasKediri banyak ditemukan di daerah sekitar lereng Gunung Wilis yaitu Kecamatan Banyakan, Tarokan, Grogol, Mojo, dan Semen. Semakin berkembang perekonomian suatudaerahmakasemakinberagam pula cara produsen dan konsumen melakukan jual beli.Salah satu sistem jual beli yang dilarang dalam Islam adalah jual beli yang mengandung unsur gharar. Sistem jual beli ijon adalah salah satu sistem jual beli yang mengandung unsur gharar sehingga dilarang oleh Allah SWT. Ijon berkaitan dengan perilaku produsen dan konsumen. Hal ini dapat dikaitkan dengan ekonomi mikro berupa keputusan pengusaha dan konsumen, terbentuknya harga barang atau jasa dan faktor produksi tertentu di pasar, dan alokasi sumber daya ekonomi.Penelitian ini menggunaka nmetode penelitian studi literatur. Jenis data yang digunakan berupa data sekunder dengan metode pengumpulan data berupa pengumpulan sejumlah studi pustaka. Berdasarkan studi literatur terkait sistem jual beli ijon dan ekonomi mikro, diperoleh hasil analisis bahwa sistem jual beli ijon dan ekonomi mikro saling berhubungan. Hal ini dikarenakan ijon berkaitan langsung dengan perilaku produsen dan konsumen dan ekonomi mikro turut mengatur perilaku produsen dan konsumen. Keywords: Ijon, Komoditas Mangga,Ekonomi Mikro