Penyampaian - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Photo by bruce mars on Unsplash

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 12 September 2022 21:05 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Penyampaian

    Rudi duduk di area keberangkatan dekat gerbang, menunggu jadwal penerbangannya disebut. Laptopnya terbuka di atas lututnya. Jari-jarinya tak bergerak di atas papankunci, dan layar putih kosong menatapnya. Ayo Rud, katanya dalam hati, berusahalah. Kamu hanya punya beberapa jam untuk menyelesaikannya.

    Dibaca : 527 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Rudi duduk di area keberangkatan dekat gerbang, menunggu jadwal penerbangannya disebut. Laptopnya terbuka di atas lututnya. Jari-jarinya tak bergerak di atas papankunci, dan layar putih kosong menatapnya.

    Ayo Rud, katanya dalam hati, berusahalah. Kamu hanya punya waktu beberapa jam untuk menyelesaikannya.

    Dia harus menulis pidato, mungkin pidato terpenting dalam hidupnya. Dijadwalkan untuk dikirimkan malam itu juga, di ujung lain dari penerbangan lintas negara. Akan ada ruang kuliah universitas yang penuh dengan orang, bergantung pada setiap kata-katanya.

    Dia memiliki reputasi untuk presentasi, dan dia tahu harapan akan tinggi. Hanya ada satu masalah ... dia tidak tahu apa yang akan dia katakan.

    Acara ini telah dijadwalkan dua bulan lalu, jadi dia punya banyak kesempatan. Banyak waktu untuk bersiap. Dia telah menunggu inspirasi untuk datang, tetapi ide tak juga terwujud. Dia tahu bahwa penyampaian adalah segalanya, penting bagi dampak pesannya. Dia telah mulai menulis selusin kali, tetapi setiap upaya menjadi hambar dan tidak bernyawa. Telah menghapus semuanya setelah beberapa paragraf, dan sekarang dia kembali ke layar kosong dengan hanya beberapa jam tersisa untuk menyulap nasib.

    Dia merasa seseorang duduk beberapa kursi jauhnya dan dia mendongak. Ada seorang anak laki-laki duduk di sana, tersenyum lebar padanya. Rudi langsung melihat bahwa dia mengidap Down Syndrome. Usianya mungkin tidak lebih dari tiga belas atau empat belas tahun, mengenakan kaus hijau terang dan celana khaki yang digantung dengan suspender warna-warni.

    Dia berbicara begitu Rudi melakukan kontak mata.

    "Apakah itu komputermu?" tanya anak itu. Rudi menatap laptopnya dengan tatapan kosong lalu kembali ke bocah itu.

    "Ehm, ya," katanya, dengan suara yang diperuntukkan bagi anak-anak kecil dan orang terbelakang, "Ya, ini komputer saya."

    Anak laki-laki itu mengangguk. "Ibuku punya komputer," katanya, "Dia di sana."

    Dia menunjuk ke seberang area tempat duduk, dan Rudi melihat seorang wanita acak-acakan dengan tas jinjing di kakinya, tertidur di kursinya. Jelas tidak menyadari bahwa anaknya tak lagi berada di sampingnya.

    "Hai!" anak laki-laki itu berkata, “Kamu ingin mendengar lelucon?”

    Rudi berbalik ke arahnya. Dia benar-benar harus menyelesaikan pidatonya, tetapi anak itu tampak sangat bersemangat.

    "Ya, tentu," katanya, "Ceritakan leluconmu."

    Bocah itu duduk tegak dan meletakkan tangannya di lutut. “Ada dua burung hinggap di kabel listrik,” dia memulai, “Dan kemudian sebuah pesawat besar terbang di atas kepala dan salah satu burung menengok ke atas dan melihatnya, lalu dia berkata kepada burung yang lain, hei, lihat bola lampu raksasa itu!"

    Bocah itu diam dan menatap Rudi dengan penuh harap. Rudi menatapnya untuk waktu yang lama, lalu dia tidak bisa menahan diri ... Rudi tertawa terbahak-bahak. Bocah itu mendongakkan kepalanya ke belakang dan ikut tertawa terbahak-bahak, jelas senang dengan tanggapan Rudi. Sambil menepuk-nepuk pahanya sendiri dengan riang, si bocah berkata, “Selalu bikin orang tertawa!” Dia terkekeh. "Setiap saat!"

    Tiba-tiba dia berhenti tertawa tiba-tiba dan menatap Rudi lagi.

    "Oke, harus pergi," katanya dan berdiri. Tapi sebelum dia berjalan kembali ke ibunya, dia menatap Rudi dan memberinya senyum penuh pengertian. “Lelucon yang cukup lucu, bukan?” tanyanya. Lalu berbalik dan pergi tanpa menunggu jawaban.

    Rudi memperhatikannya duduk di samping ibunya.

    Lucu sekali, pikirnya.

    Dia kembali menatap layar laptopnya, dan tiba-tiba jari-jarinya mulai bergerak.

    Penyampaian adalah segalanya, pikirnya, ketika kata-kata mulai mengalir.

     

    Bandung, 12 September 2022

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.