Peran Green Sukuk dalam Sustainable Financing - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Pemanasan Global. Karya Apollis Apollis dari Pixabay.com

Adhi Wicaksono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 September 2022

Selasa, 13 September 2022 06:40 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Peran Green Sukuk dalam Sustainable Financing

    Indonesia melalui NDC berkomitmen mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% pada 2030. Ini merupakan tindak lanjut dari Paris Agreement. Di dalam Presidensi G-20 Indonesia, isu pengembangan pembiayaan berkelanjutan menjadi salah satu agenda utama dan fokus perhatian negara-negara anggota G-20. Inovasi Pemerintah Indonesia adalah dengan menerbitan Green Sukuk Global dan Green Sukuk Ritel. Green Sukuk Global telah membiayai proyek pada lima sektor hijau di 34 provinsi.

    Dibaca : 690 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pemanasan global dan perubahan iklim sudah sejak lama menjadi isu internasional dan menarik perhatian banyak negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Dalam forum negara-negara anggota G-20, isu ini diangkat dalam Sustainable Finance Working Group (SFWG) yang merupakan satu kelompok kerja tersendiri di jalur keuangan (Finance Track) G-20 di masa Presidensi Italia tahun 2021. Kelompok kerja ini dibentuk dengan tujuan mendukung pembiayaan berkelanjutan yang selaras dengan tujuan Agenda 2030 dan Paris Agreement.

    Menyadari akan besarnya dampak dari perubahan iklim, Indonesia melalui Nationally Determined Contribution (NDC) sebagai tindak lanjut terhadap Paris Agreement, membuat komitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29% pada tahun 2030 dengan kondisi business as usual atau hingga sebesar 41% jika memperoleh dukungan internasional. Indonesia juga menekankan pentingnya adaptasi dan peningkatan ketahanan di semua sektor pembangunan.

    Melanjutkan komitmen tersebut, di dalam Presidensi G-20 Indonesia, isu pengembangan pembiayaan berkelanjutan menjadi salah satu agenda utama dan fokus perhatian dari negara-negara anggota G-20. Hal ini menunjukkan komitmen negara-negara G-20 untuk meningkatkan perhatian dan komitmen pada isu pemanasan global dan perubahan iklim. Untuk itu diperlukan inovasi baru, terutama dari sisi pembiayaan, guna melaksanakan proyek-proyek hijau dan mencari sumber pembiayaan baru yang potensial.

    Inovasi Pemerintah Indonesia dalam hal ini adalah penerbitan Green Sukuk Global di pasar keuangan internasional yang telah dimulai pada tahun 2018 dan Green Sukuk Ritel dalam bentuk Sukuk Tabungan (ST) di pasar keuangan domestik yang telah dimulai sejak tahun 2019. Sejak debut penerbitan Green Sukuk pada tahun 2018, Pemerintah Indonesia setiap tahun secara konsisten menerbitkan Green Sukuk Global dan Green Sukuk Ritel dengan mempertimbangkan ketersediaan underlying asset.

    Penerbitan Green Sukuk Global pada tahun 2018 sampai dengan tahun 2021 secara khusus telah membiayai proyek pada lima sektor hijau yaitu energi terbarukan, efisiensi energi, transportasi berkelanjutan, pengelolaan limbah, dan ketahanan terhadap perubahan iklim, di 34 provinsi di Indonesia. Penerbitan tersebut diproyeksikan berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon hingga 10,3 juta ton.

    Pada tahun 2022, Pemerintah Indonesia kembali menerbitkan Green Sukuk Global dan menjadi Green Sukuk terbesar yang pernah diterbitkan secara global dengan nilai penerbitan sebesar USD 1,5 miliar dengan tenor 10 tahun (jatuh tempo pada tahun 2032). Penerbitan ini juga merupakan yang pertama diterbitkan setelah Pemerintah mengeluarkan SDGs Government Securities Framework pada bulan Agustus 2021. Penerbitan Green Sukuk Global ini ditujukan untuk membiayai berbagai proyek hijau seperti Energy Efficiency, Resilience to Climate Change for Highly Vulnerable Areas and Sectors/ Disaster Risk Reduction, dan Sustainable Transport.

    Inovasi di pasar domestik diwujudkan melalui penerbitan Green Sukuk Ritel dengan instrumen Sukuk Tabungan (ST) tenor 2 (dua) tahun yang mencatatkan sejarah sebagai Green Sukuk Ritel pertama di dunia. Penerbitan seluruh Green Sukuk Ritel ini dilakukan secara online dan menarik partisipasi investor milenial sebagai generasi mayoritas dalam setiap penerbitannya. Dengan jangkauan penjualan di seluruh wilayah Indonesia, investor Green Sukuk Ritel menarik minat berbagai jenis profesi utamanya wiraswasta, pegawai swasta, dan ibu rumah tangga. Capaian ini menjadi indikasi adanya awareness dan dukungan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan dan mengatasi dampak perubahan iklim. Hingga tahun 2022 Indonesia merupakan penerbit green sukuk terbesar di dunia, dengan total penerbitan USD 5 miliar di pasar internasional dan Rp 11,88 triliun di pasar domestik. 

    Tabel Sukuk

    Milestone Penerbitan Green Sukuk Oleh Pemerintah Indonesia

    Seluruh penerbitan Green Sukuk ini membuktikan dedikasi dan komitmen jangka panjang Pemerintah untuk pembiayaan hijau yang berkelanjutan dalam mitigasi dampak perubahan iklim. Komitmen Pemerintah tersebut mendapat apresiasi dari dunia internasional, diantaranya adalah Climate Bonds Awards yang merupakan ajang penghargaan dan pengakuan internasional terkemuka atas kepemimpinan, praktik terbaik, inovasi dalam keuangan hijau dan berkelanjutan. Penghargaan ini mencakup obligasi hijau, pinjaman, sukuk, dan perkembangan pasar yang signifikan dalam investasi berbasis iklim. Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Kementerian Keuangan mendapat penghargaan dari Climate Bonds Awards selama 2 tahun berturut-turut sebagai sebagai Green Sukuk terbesar di Dunia tahun 2020 dan 2021.

    Dengan Climate Bonds Awards ini, maka penerbitan Green Sukuk oleh Pemerintah Indonesia sudah mendapatkan 15 penghargaan internasional sejak pertama kali diterbitkan tahun 2018. Penghargaan tersebut juga merupakan pengakuan atas komitmen Pemerintah Indonesia dalam mendorong kemajuan green finance dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, keanekaragaman hayati dan konservasi sumber daya alam, pembiayaan proyek dan aset di bidang energi, bangunan, transportasi, limbah dan penggunaan lahan.

    Keberhasilan penerbitan Green Sukuk oleh Pemerintah Indonesia juga tidak terlepas dari peningkatan kesadaran serta keinginan para investor untuk mengintegrasikan asesmen ESG (Environment, Social, and Governance) dalam keputusan investasi mereka. Meningkatnya kesadaran publik mengenai darurat perubahan iklim, menjadi ajakan bagi para investor yang berminat menginvestasikan dananya demi perbaikan lingkungan. Penerbitan Green Sukuk Indonesia menjadi contoh peran Pemerintah sebagai pelopor dalam memobilisasi sumber keuangan dari sektor swasta untuk mengakselerasi pembangunan hijau dan berkelanjutan. Hal ini memungkinkan berbagai pemangku kepentingan untuk berkolaborasi dalam mengatasi perubahan iklim serta bekerja sama demi bumi yang lebih baik dan berkelanjutan untuk generasi mendatang.





    Ikuti tulisan menarik Adhi Wicaksono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.