Baliho Biru “ngegas ngeles babak satu” - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Rabu, 14 September 2022 06:48 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Baliho Biru “ngegas ngeles babak satu”

    Roknyah mendapati notifikasi yang terpinggirkan sebagai sekilas info, yang tertulis: Menurut data statistik penelitian dari suku dinas (sudin) keputusasaan terbaru, beberapa jenis korban sekaligus penanganannya bagi korban perang dunia, korban bencana alam serta korban virus pandemi, hanya korban janji palsu saja yang sulit terevakuasi. Para korban telah menerima bantuan dan rehabilitasi di setiap pos sudin patahasa yang tersebar di seluruh daerah.

    Dibaca : 870 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kau sendiri yang memintaku untuk menunggumu!”

    Klok!

    Hubungan telpon terputus tanpa Panukis berkesempatan untuk menjelaskan gagalnya rencana yang telah mereka siapkan sejak tahun lalu. Roknyah duduk lemas di tepi dipan kamarnya. Dirinya tidak tahu harus bagaimana memulai harinya pada Minggu pagi ini. Seketika dadanya terasa begitu sesak, namun, di antara perasaan yang penuh dengan kemarahan, kekecewaan, kesedihan, kini hanya terisi oleh taburan benih-benih yang kosong.

    Panukis sedikit tersentak dengan telpon yang diputus tandas oleh Roknyah barusan, walaupun dia tahu, kekasihnya akan selalu kembali dan memaafkan dirinya. Namun pada hari Minggu kedua di bulan September ini, dirinya tidak boleh larut dengan keadaan sebab perusahaan tempatnya bekerja sedang mengalami masa genting. Sebuah perusahaan yang cukup besar dan kuat telah membuat satu perjanjian yang akan membuat perusahaan di mana Panukis bekerja harus gulung tikar.

    Perusahaan Anak Tuyul telah membeli pulau untuk membangun hutan percabaian.....

    Memang terkadang, perencanaan hanya akan melangkahkan perjalanan hidup yang terbayangkan dengan lancar harus menemukan rapatnya kemacetan yang tidak dapat diduga, entah karena sebab menumpuknya kendaraan yang telah menggantikan abang memikul gorengan, dan beberapa gedung mengalami kemiringan ambruk, atau seekor semut kebingungan saat menyebrang zebra-cross.

    Tetapi percakapan seringkali terjatuh, seperti hujan yang mendadak turun pada musim kemarau dan mengakibatkan serangan tercekik stok bahan pangan yang disimpan hingga membusuk. Sedangkan, kepala kunci gudang perpanganan yang telah memasuki usia tujuhpuluh tahun seringkali melupakan pembagian kepada para warga yang tidak pernah sekalipun mendapatkan bantuan pemerintah, sebab pendaftaran hanya berlaku bagi mereka yang memiliki digital media elektronik, yang menjadi suatu bagian dari kolektif sosialita menengah ke atas.

    Kringgg... Kringgg... Kringgggg.....

    Panukis meneletakkan selularnya. Dirinya memutuskan untuk membuka berita-berita tentang aksi demonstrasi yang sedang berlangsung dalam semingguan ini tentang perjelantahan. Bagaimanapun, rentetan informasi terkini sangat diminatinya, dan tidak dipungkuri, sanggup membawa kegelisahan melupakan urusan rencana hidup untuk menjadikan Roknyah sebagai sahabat sehidup semati.

    Beragam informasi kesehatan sehat hati dan patah hati hanya menjadi papan baliho yang membiru.

    Sedangkan di rumah yang cukup jauh dengan pembatas samudra toska, di sebuah rumah mungil, di tengah perkebunan berry dengan laboraturium kupu-kupu liar, Roknyah masih terduduk setia di tepi dipan sambil menatap selularnya yang baru saja menjerit dan diabaikannya. Rumah dengan desain kayu pinus yang dipenuhi rambatan menjadi rumah istirahat saat perkotaan menyeretnya ke dalam dunia tanpa batas.

    Perlahan, Roknyah mengarahkan pandanganya ke jendela yang masih tertutup rapat. Dirinya mulai bergerak, berjalan menuju jendela dan membukanya. Wangi rerumputan basah serta cahaya surya di hadapannya membuat semangatnya berubah arah. Kakinya berayun menuju dapur untuk membuat minuman hangat. “Aku tindak ingin hariku berantakan untuk ribuan daftar janji palsu”.

    Ciiitttttttttt... Abu terlepas dari mulut ceret yang mengabu.

    *

    Di sebuah ceret mungil berwarna ungu, menjerit di atas perapian yang tersusun teracak oleh batuan bata merah, Roknyah menyeduhkan air panas ke dalam cangkir bergambar ayam jago. Dan, sehabis menaburkan garamnya ke dalam kopi panas, Roknyah pun menyeruput asinnya pagi ini. Sambil menyalakan laptopnya, dia mendapati notifikasi yang terpinggirkan sebagai sekilas info, yang tertulis:

    "Menurut data statistik penelitian dari suku dinas (sudin) keputusasaan terbaru, beberapa jenis korban sekaligus penanganannya bagi korban perang dunia, korban bencana alam serta korban virus pandemi, hanya korban janji palsu saja yang sulit terevakuasi. Para korban telah menerima bantuan dan rehabilitasi di setiap pos sudin patahasa yang tersebar di seluruh daerah."

     

    (Bersambung)

    Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.