Seni dan Memori Kelas Pekerja - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

\x22City Building\x201d from \x201cAmerica Today\x201d (1930-31), Thomas Hart Benton\x2019s magisterial 10-panel mural cycle at the Metropolitan Museum of Art.

Dimas Tri Pamungkas

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 11 September 2022

Jumat, 16 September 2022 13:17 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Seni dan Memori Kelas Pekerja

    Seni adalah salah satu bentuk artefak yang akurat. Ketika seseorang melihat karya seni yang dibuat seniman berdasarkan memori kolektif warga, maka memori tersebut akan terpanggil dan terkait kembali pada realitasnya yang sekarang. Intuisi karya seni yang bisu dan keheningan memori kolektif di dalamnya, membuat kebisuanya semakin fasih.

    Dibaca : 565 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Seni adalah salah satu bentuk artefak yang akurat. Ketika seseorang melihat karya seni yang dibuat oleh seniman berdasarkan memori kolektif orang yang melihatnya, maka memori kolektif dalam diri seseorang tersebut akan terpanggil dan terkait kembali dengan realitasnya yang sekarang dengan sebagian emosinya yang tertinggal. Dan hal yang menarik adalah intuitif karya seni itu sendiri, karya seni yang bisu dan keheningan memori kolektif di dalamnya, membuat kebisuanya semakin fasih.

    Sesaat dalam penyelesaian, setelah pandemi global melanda seluruh umat manusia, yang terjadi sekarang adalah kiasan-kiasan yang diarahkan dalam urusan ekonomi-politik dan berbagai pembiasan dalam identitas, serta atribut yang terkait dengan pekerjaanya. Salah satunya adalah identitas kelas pekerja. Dalam keseharian Anda, terutama di kota-kota besar, Anda akan sulit untuk membedakan mana orang yang menganggur, mana orang yang sedang dalam perjalanan menuju tempat kerja dan mana orang yang sedang dalam perjalanan menuju sebuah restoran. Pandemi sepertinya benar-benar telah meleburkan strata sosial, dan kita tidak lagi menyadari bahwa kita hidup sehari-hari secara berpasangan, antara pemilik modal dan buruh, majikan dan karyawan, produsen dan konsumen.

    Pembiasan identitas dan peleburan strata sosial yang terjadi memang merupakan peristiwa 'kesetaraan' dalam realitas sosial. Namun jika kita mampuh berfikir kritis, kita tidak mengambil suatu kesimpulan tentang kejadian yang dialami oleh suatu identitas semata, karena identitas sebagai penilaian sangat rawan terjadinya peristiwa penggeseran, konflik dan kejadian. Tetapi dapat melalui personalitas, dalam memori individu, memori multi-arah yang terkait dengan penangkapan peristiwa sehari-hari, dan hal ini pasti akan mudah dicapai melalui karya seni sebagai perwujudan yang kongkrit, karena karya seni merupakan media yang akurat sebagai perekam, serta memberikan ketegasan pada isu dan gagasan melalui simbol-simbol sebagai objek yang mudah di serap oleh indrawi.

    Keheningan Memori Kolektif

    Memori adalah pemikiran tentang momen masa lalu yang menurut emosi, yang tidak sepenuhnya ditentukan saat menjalani masa lalu tersebut. Memori seseorang sering terjadi ketika seseorang bertemu dengan orang lain, berada dalam suatu kondisi tertentu, pertemuan dengan objek-objek tertentu, dalam bentuk kenangan, yang kemudian menimbulkan reaksi emosi dalam bentuk kecemasan, kebahagiaan bahkan trauma. Karena individu dalam realitas sosial tidak berdiri sendiri, individu hidup dalam kelompok sosial dan juga terlibat dalam berbagai interaksi dengan entitas lain. Maka memori individu sebenarnya adalah keheningan memori kolektif, yang memproyeksikan hasil kesunyian sepanjang perjalanan hidup mereka. Tidak hanya itu, kenangan bersama bisa menjadi penentu bagaimana kehidupan yang sedang dan akan berlangsung, karena memori tersebut ada dari generasi ke generasi lainnya. Seperti kenangan antar kelas pekerja dalam sebuah pabrik industri, setelah adanya pemecatan massal beberapa hari kemudian atau kenangan yang terurai kembali tentang perdamaian keluarga di tanah kelahiran, sebelum adanya program transmigrasi oleh pemerintah.

    Namun memori kolektif memliki kelemahan, memori kolektif rentan terhadap adanya manipulasi politik. Oleh karena itu memori kolektif memiliki batasan untuk mengingat masa lalu, dan terputus-putus. Meskipun sering kali kita berasumsi bahwa memori kolektif itu lengkap dan akan ada selamanya dalam ingatan.

    Manipulasi memori kolektif oleh politik seringkali terkesan dipaksakan, melalui pengkategorisasian identitas sosial yang dibangun dari kontruksi simbolik yang paling mendasar di masyarakat, yaitu ‘bahasa'. Bahasa dalam istilah seperti halnya buruh pabrik dan karyawan kantor serta istilah posisi yang di sematkan dalam lapisan struktur pekerja; pemodal, owner, cleaning service, office boy dan seterusnya, alih-alih adalah pengkategorisasian karena kulifikasi keahlian profesi, namun yang sebenarnya terjadi merupakan bentuk manipulasi politik terhadap memori kolektif untuk melanggengkan kekuasaan.

    Memori kolektif tentang perlakuan buruk majikan terhadap buruh seharusnya tidak berhenti hanya di gerbang pabrik industri, tetapi berlangsung juga diluar pabrik. Karena dalam realitas sosial, istilah majikan dan buruh sudah tidak lagi berlaku, yang berlaku adalah bagaimana memori kolektif yang terjalin antara majikan dan buruh dalam hubungan dan interaksi sosialnya. Jika istilah majikan dan buruh masih berlaku di luar pabrik tanpa melibatkan kebenaran memori kolektif, maka manipulasi politik akan berlaku untuk menekan buruh dengan penundukkan diri melalui kontrol identitas sosial.

    Dalam menjaga ketahanan kebenaran memori kolektif, hal yang terpenting adalah penguasaan atas artefak, dokumen dan arsip sebagai bukti masa lalu yang memang teralienasi oleh sejarah.

    Seni adalah salah satu bentuk artefak yang akurat. Ketika seseorang melihat karya seni yang dibuat oleh seniman berdasarkan memori kolektif orang yang melihatnya, maka memori kolektif dalam diri seseorang tersebut akan terpanggil dan terkait kembali dengan realitasnya yang sekarang dengan sebagian emosinya yang tertinggal. Dan hal yang menarik adalah intuitif karya seni itu sendiri, karya seni yang bisu dan keheningan memori kolektif di dalamnya, membuat kebisuanya semakin fasih.

    Karya Seni Adalah Artefak

    Konsep utama karya seni adalah 'bentuk'. Bentuk merupakan proses transformasi dari apa yang diberikan dan menjadi sesuatu yang lain, imaterial, tidak bisa teridentifikasi, termasuk fungsi dan posisi dalam iramanya. Bentuk karya seni dalam serapan memori kolektif memiliki penyesuaian objek, sebab bentuk tidak lagi menjadi konsep tunggal, bentuk akan termediasi oleh berbagai aspek lain, salah satunya konstruksi subjektif seniman, agar memiliki potensi kritis.

    Memori kolektif yang terkandung dalam objek, dengan subjektifikasi seniman, berdialektis menjadi semacam tempat perlindungan bagi memori kolektif dari sesuatu yang asing, berbagai memori, refleksitas dan kesadaran yang masih berlaku di dunia kontemporer hari ini. Dan menjadi tempat tinggal untuk terus menjaga lanskap utopis agar dunia atau peristiwa yang berlalu tidak begitu saja hilang, namun tetap ada dalam satu perwujudan yang sama seperti dunia atau peristiwa dimana momen kolektif itu pertama kali dilahirkan.

    Letak karya seni disini sebagai artefak menjadi sangat penting, karena hanya di artefak inilah tempat kembali mengingat, sekaligus tempat penyangkalan dan represi ingatan dalam kehidupan yang lebih ideal. Kehidupan yang dalam memori kolektif sepenuhnya berbeda dari dominisasi kehidupan hari ini, karena kehidupan dalam memori kolektif menolak adanya dominasi. Namun karena ketiadaan wujud, anamnesis akan kebebasan dan estetika dalam seni mencari kekebebasan dalam ketidakbebasan dari peristiwa yang berlalu, sehingga membuat memori kolektif dari metafisik di transposisikan dalam imajinasi.

    Kebebasan dan estetika seni mengupayakan mediasi terhadap ketidakbebasan dalam memori kolektif, tidak dalam dominasi dan sepenuhnya menghindar dari hateronomi. Tetapi upaya ini dicoba dengan menegoisasikan pemenjaraan subjek empiris dalam penjara esetetika, dengan menjadi korban dari Intelektualitas dalam wujudnya yang kongkrit. Pengorbanan disini, ada dalam bentuk paradikmatik untuk sesuatu yang agung.

    Memori kolektif buruh pabrik, dan berbagai kelas pekerja lain, merupakan bentuk subjek yang terkengkang dalam ikatan hukum dan peraturan yang sesuai dengan undang-undang ketenagakerjaan, membuat garis pembatas yang tidak mengadakan bagian universalitas dalam kehidupan sosial dengan harapan ada material yang sesuai dengan mereka.

    Ketiadaan universalitas menjadi ekspresi ketidakmungkinan sosialitas non-heteronom di bawah konteks sosialisasi yang buta. Pengengkangan ini adalah kebebasan yang menawarkan keindahan dan pencapaian puncak estetika yang disajikan pada bentuk tiruan artefak karya seni, melalui getaran. Getaran di subjek semacam perasaaan di dalam tentang pengengkanganya, penderitaanya, dan kematianya. Apa saja getaran dalam pengorbanan yang telah dilakukan.

     

     

     

     

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Dimas Tri Pamungkas lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.