Kiamat Telah Tiba (34): Blanc dan Solange - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Meteoroids are billions of years old

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 17 September 2022 07:12 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Kiamat Telah Tiba (34): Blanc dan Solange

    “Kejutan yang menyenangkan,” kata Blanc ketika membuka pintu depan rumah pertanian dan Solange berdiri di luar. Solange maju dan memberinya ciuman. "Aku ingin bicara denganmu sesegera mungkin," katanya. "Di mana Jacques?" "Dia sedang memeriksa domba-domba," jawab Blanc. "Apakah kamu mencarinya?"

    Dibaca : 403 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    20 April

     

    “Kejutan yang menyenangkan,” kata Blanc ketika membuka pintu depan rumah pertanian dan Solange berdiri di luar.

    Solange maju dan memberinya ciuman. "Aku ingin bicara denganmu sesegera mungkin," katanya. "Di mana Jacques?"

    "Dia sedang memeriksa domba-domba," jawab Blanc. "Apakah kamu mencarinya?"

    “Tidak,” jawab Solange, “aku ingin kita berdua saja.”

    Blanc dan Solange menuju dapur rumah pertanian, dan Blanc memanaskan ketel. "Ada kabar apa?" dia bertanya.

    Solange menjelaskan bahwa dia telah memperoleh persetujuan untuk memberi tahu Blanc tentang asteroid dan melanjutkan untuk menjelaskan detailnya seperti yang dia lakukan di Kantor Pusat DGSI pada hari sebelumnya.

    "Aku senang kamu memberitahuku," kata Blanc setelah Solange menyelesaikan penjelasannya dan menjawab pertanyaannya. Dia kemudian duduk diam selama beberapa saat, terguncang oleh implikasi dari apa yang dia dengar.

    Akhirnya Blanc berbicara. “Kalau mereka mencoba merahasiakan ini, mengapa mereka setuju kamu memberi tahuku? Mengapa buru-buru memberi tahuku?”

    "Sesuatu yang dikatakan Kules dalam briefing kemarin," jawab Solange. “Aneh,” lanjutnya, “tetapi selama aku meneliti asteroid, aku memikirkannya sebagai pekerjaan investigasi seperti biasa. Hanya ketika Jules menunjukkan bahwa dunia mungkin akan berakhir dalam lima bulan, dan dia ingin menghabiskan waktu sebanyak mungkin bersama Mireille, barulah aku menyadari arti penting dari semua ini.”

    "Itu pasti membuatmu berpikir tentang prioritasmu," kata Blanc.

    "Tepat," Solange setuju. “Vivienne ingin aku menindaklanjuti petunjuk tentang CASH di negara ini dan mencoba mencari tahu lebih banyak tentang rencana mereka dengan misil nuklir.”

    "Dan itulah yang akan kamu lakukan, kurasa."

    'Tergantung.”

    'Tergantung apa?'

    "Tergantung padamu."

    “Maksudmu?” tanya Blanc.

    "Aku mencintaimu," kata Solange.

    Blanc meraih tangan Solange. "Aku merasakan hal yang sama," jawabnya. "Aku harap kita punya waktu lebih dari lima bulan."

    "Aku juga," kata Solange, "tapi kalau hanya itu yang kita punya, aku ingin bersamamu."

    'Bagaimana dengan tugasmu?”

    "Aku perlu mengunjungi berbagai lokasi untuk menyelidiki CASH," katanya. “Kamu bisa ikut denganku dan membantu tugasku. Banyak hal yang perlu dilakukan dan dapat kamu lakukan tanpa perlu pelatihan khusus.”

    “Tapi bagaimana dengan lahan pertanian ini?” tanya Blanc.

    "Tepat," jawab Solange. “Aku sarankan untuk menutup sementara tempat ini sebentar. Tapi aku mengerti jika kamu tidak mau melakukannya. Kalau itu pilihanmu, aku akan keluar dari DGSI dan menghabiskan minggu-minggu terakhir sebelum Armageddon sebagai seorang gembala.”

    Mereka duduk bergandengan tangan dalam diam selama beberapa menit sementara Blanc mencoba mencerna semua yang dikatakan Solange. "Aku belum mulai menanam ganja untuk panen berikutnya," komentarnya sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya.

    Dia menekan angka. "Allo, Jacques," katanya. “Aku ingin membawa domba ke pasar hari Jumat. Betul, semuanya.”

     

    BERSAMBUNG

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.