Temui Diana Susanti: Musisi Asal Timika, Pembawa Harmoni Perdamaian - Hiburan - www.indonesiana.id
x

Christoper Joseph

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 18 September 2022

Senin, 19 September 2022 06:26 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Temui Diana Susanti: Musisi Asal Timika, Pembawa Harmoni Perdamaian

    Musisi berusia 19 tahun asal Mimika, yang membawa warna baru dan berbeda pada blantika musik.

    Dibaca : 525 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kepiawaiannya dalam menggubah musik, dan juga bakat alaminya dalam memainkan piano dan biola yang disertai dengan visi spiritualnya dalam bermusik telah menggugah jutaan orang di seluruh dunia. Melodi klasik yang kompleks telah membawa kebahagiaan, sukacita, dan renungan kepada semua orang.

    Temui Diana Susanti, seorang musisi asal Timika yang telah memiliki lebih dari 1000 penggunaan audionya di Tiktok. Meski secara kuantitas Diana hanya memilki sedikit pengikut, tapi pengaruh dari musiknya telah dinikmati oleh ribuan orang setiap bulannya.

    Tidak seperti kebanyakan musisi masa kini yang menggunakan vokal sebagai kekuatan utama musiknya, wanita berdarah Jawa ini menggunakan instrumental sebagai kekuatan musiknya. Meski pada awal kariernya di industri musik, dia sempat menyanyikan kembali beberapa lagu dari musisi muslim asal Inggris, Sami Yusuf, tapi atas dukungan dari orang-orang terdekatnya, Diana kembali ke bakat bermusik alaminya sebagai komponis dan pianis, dan mengawali kembali karier musiknya dengan rilisnya album New Life. Menetapkan hati untuk terus memakai Hijab, meski kini dia secara musik telah universal, Diana mengatakan bahwa HIjab telah menjadi bagian dari hidupnya, sebagai seorang Muslimah.

    Pada tahun 2021, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, dia merilis sebuah mini-album yang berjudul Sang Pahlawan Hati, yang berisi dua aransemennya untuk lagu-lagu nasional Indonesia, yakni Syukur (cipta Husein Mutahar) dan Gugur Bunga (cipta Ismail Marzuki), dan album ini telah merebut perhatian masyarakat Indonesia, terlebih Gugur Bunga yang sejak perilisannya telah memberi warna baru pada dunia musik Indonesia.

    Selain melakukan cover, komposisi orisinal Diana seperti Beginning, Shine, dan Samara telah menjadi trendsetter tersendiri di blantika musik Indonesia dan dunia musik klasik. Bahkan di saluran pengaliran musik asal Amerika, Pandora, Diana telah berhasil merebut hati lebih dari 100 ribu penikmat musik.

    Karier Diana semakin menanjak ketika dia merilis Terima Kasihku, Guruku (karya  Sri Widodo) pada awal Mei 2022, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional dan Hari Raya Idul Fitri. Aransemen Diana seketika booming dan mendapat sambutan positif dari para penikmat musik. Dari pendapat beberapa pendengar, Terima Kasihku, Guruku versi Diana Susanti terletak pada melodinya yang syahdu ditambah dengan aransemen alat musik tradisional Papua, yakni Tifa yang menjadi daya tarik dan keunikan dari versi Diana ini. Tak heran, berdasarkan pemantuan penulis per tanggal 10 September 2022, Terima Kasihku, Guruku versi Diana Susanti telah digunakan oleh lebih dari 500 video di media sosial TikTok.

    Bukan Dari Keluarga Musik, Tapi Memiliki Bakat Alami Bermusik

    "Saya memang bukan dari keluarga pemusik, Mas. Tapi Ibu saya dari dulu selalu mengatakan bahwa saya disuatu saat akan menjadi seorang musisi. Beliau menyadari bakat bermusik saya sejak saya SD, ketika melihat saya untuk pertama kali menyentuh Piano dan lihai memaikannya. Dan ketika saya menjadi konduktor musik untuk pertama kalinya yang dimana saya membawakan 'Gugur Bunga', beliau mendukung penuh saya untuk mengasah bakat saya dalam bermusik." Kata Diana saat wawancara dengan penulis. 

    Dari usia dini, Diana memang diketahui memiliki bakat alami dalam bermusik, terutama dalam bermain Piano, menurut penuturan guru SDnya yang tidak mau disebutkan namanya. 

    "Sebenarnya, saya sendiri merasa bahwa Piano menjadi medium terbaik untuk mengungkapkan perasaan hati. Saya sendiri sejak pertama kali memainkan Piano di usia 6 tahun, saat saya SD itu, saya dibawa oleh perasaan hati saya. Kemudian, kecintaan saya pada musik klasik dan nasional dimulai ketika saya ditunjuk untuk pertama kali menjadi konduktor paduan suara Upacara Hari Senin dan membawakan karya dari mendiang Bapak Ismail Marzuki, yakni 'Gugur Bunga', yang kemudian saya membuat aransemen Piano dari 'Gugur Bunga' versi saya sendiri, yang didengarkan oleh Ibu Guru saya dan beliau pun mendukung bakat saya dalam bermusik. Ibu & Ibu Guru saya tersebut saling mendukung dalam mengembangkan dan mengasah bakat bermusik saya, bahkan sampai sekarang." Ucap Diana.

    Kemudian pada tahun 2018, ketika dia kembali ke Timika setelah menamatkan pendidikan SMP di salah satu sekolah di Lamongan, Jawa Timur, Ibunya memperkenalkan Diana dengan salah satu komponis Gereja di Timika untuk belajar. Juga disaat yang hampir bersamaan, dia bersama teman-temannya mendirikan sebuah rumah produksi kecil-kecilan yang dinamakan ANDA Entertainments. Semenjak itu, bakat Diana semakin terasah karena semakin banyak warna yang mempengaruhi gaya bermusiknya.

    Berbagai Warna Gaya Bermusik Diana

    Sejak rilisnya album "New Life" pada pertengahan bulan Mei 2021 yang lalu, yang menjadi titik balik Diana di industri musik, Diana memutuskan untuk memfokuskan dirinya dalam musik instrumental klasik. Meski pada tahun 2020, Diana menjajal karier bermusiknya dengan bernyanyi, tapi Diana mengakui bahwa dia membenci masa-masa itu. Dia merasa dirinya tersesat pada trend yakni tren musik Islami yang sedang laris di masa itu. 

    "Mungkin orang sekarang bertanya, 'Mbak Diana, kenapa sih Because of You dan yang lainnya kini hilang dari peredaran?' Tapi saya punya jawaban yang simple, mas. Yakni: sa merasa itu bukan diri sa. Sa tersesat dan tenggelam dalam industri yang fana dan menyesatkan. Setelah rilisnya 'Alhamdulillah', saya ingin mengakhiri karier bermusik saya. Saya tertekan selama beberapa bulan. Sampai pada awal tahun 2021, ketika salah satu teman saya mengatakan saya harus kembali ke alaminya saya. Dan akhirnya 'New Life' bisa dirilis dan memang seperti menjadi hidup baru saya." Ucap Diana.

    Diana mengatakan bahwa meski dia punya visi tersendiri dalam bermusik, tapi dia tidak bisa memungkiri bahwa ada beberapa style musik beberapa musisi yang mempengaruhinya. "Secara umum Mas, saya punya bahasa musik sendiri yang membedakan saya dari musisi lain. Tapi saya mengakui ada beberapa style musisi yang saya anut. Salah satunya Bapak Ismail Marzuki, karena saya suka dengan gaya bermusik beliau yang menggabungkan realita kehidupan dengan suara hati. Juga mungkin ini sudah menjadi rahasia umum, bahwa saya mengikuti gaya bermusik Sami Yusuf, dan saya mengakui itu benar. Tapi saya juga mengikuti gaya bermusik Hamza Namira, musisi Pop asal Mesir, dimana kritis mengangkat isu-isu kemanusiaan. Juga saya seringkali memadukan berbagai unsur kebudayaan dalam musik saya, yang Mas sendiri bisa dengarkan dan hayati." Ucap wanita 19 tahun tersebut.

    Diana sendiri menyebut musiknya sebagai "Classiceastique", yang bermakna Klasikal Spiritique Timur. Tidak heran, karena dia mengatakan bahwa Sami Yusuf telah banyak memberi warna pada gaya bermusiknya dimana gaya dalam menggunakan suara Ilahiah dalam setiap musiknya.

    'Cinta adalah kekuatan musik saya'

    Hampir sebagian besar produksi musiknya dari Studio musik pribadinya di bilangan Timika, Diana mengatakan bahwa keluarga, guru-guru, dan teman-temannya adalah pilar utama dukungannya. Meski Diana kini memiliki basis audiens di Indonesia, Azerbaijan, dan Amerika, tapi dia tidak ingin ada hubungan idola-penggemar, dan memilih untuk peduli dengan audiensnya secara setara dan tidak membeda-bedakan.

    Diakuinya bahwa dia banyak melihat fenomena Fanatisme dari para penggemar yang dia merasa risih dan prihatin. Dia ingin setara dengan para audiensnya yang telah juga mendukungnya sebagai musisi. Dia berdalih bahwa ini semua didasari akan Cinta Ilahi pada semua makhluk-Nya secara adil tanpa membeda-bedakan. 

    "Saya memiliki prinsip yakni Cinta. Cinta inilah yang terus menghidupi saya, dan menjadi bahasa utama musik saya. Bukan lagi kata-kata (vokal) yang menjadi fokus musik saya. Saya sengaja tidak lagi menyanyi karena saya ingin keindahan musik itu sendiri yang menjadi 'musik' di dalam musik saya. Dengan cara menggunakan musik sebagai medium saya dalam menyampaikan Cinta-Nya, saya merasa lebih tenang dan damai didalam hati." Ucap Diana. 

    "Jadi begini Mas, kenapa saya tidak panik dengan mungkin angka pengikut yang sedikit. Meski saya kini memilki pengikut lebih dari 1000 orang di Resso untuk contoh, tapi saya lebih mengutamakan kualitas musik saya. Saya membuatnya dengan Cinta dan niat yang tulus. Saya bahagia ketika misal ada seseorang yang mengatakan pada saya, 'Terima kasih untuk musiknya, mbak. Saya menyukainya karena membantu saya memahami makna cinta yang sesungguhnya', itulah yang membuat saya lebih bersyukur daripada secara kuantitas saya misal memiliki 100.000 Subscriber lebih, tapi saya tidak bisa membuat audiens memahami cinta. Makanya saya ndak peduli dengan jumlah pengikut. Yang terpenting adalah Kualitas yang baik yang bisa membuat orang memahami Cinta Ilahi yang Maha Suci." Kata wanita berdarah Jawa ini.

    Meskipun begitu, musik dari Diana Susanti telah dikenal di seluruh dunia, dan dia memiliki basis pendengar yang tersebar di seluruh dunia. Tapi yang paling signifikan adalah di Indonesia, Azerbaijan, Turki, India, Belanda, Inggris, Amerika Serikat, Suriname, dan Brasil.

    Diana bersyukur karena musik-musiknya telah dikenal dan telah menggema di hati para penikmat musik, sebagai sarana menyebarkan rasa Cinta & Perdamaian. Diana pun bersyukur telah dilahirkan, dibesarkan, dan hidup di Timika, Papua Tengah, karena telah melukiskan takdir yang baik bagi Diana sendiri dan juga lingkungan sekitarnya.

    Ikuti tulisan menarik Christoper Joseph lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.