Kacang Tidak Meninggalkan Tangkainya - Humaniora - www.indonesiana.id
x

image: shutterstock

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Selasa, 20 September 2022 07:19 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Kacang Tidak Meninggalkan Tangkainya

    Karakter anak-anak dibentuk oleh orang tuanya. Pembentukan itu bisa saja secara sengaja atau tidak sengaja. Kata kata dan tindakan orang tua adalah contoh bagi mereka. Bagaimana paparannya? Sila baca tuntas.

    Dibaca : 454 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kacang Tidak Meninggalkan Tangkainya

     

    Bambang Udoyono, penulis buku

     

     

    Kemarin saya menemukan sebuah peri bahasa Prancis yang menarik perhatian saya. Au fruit on connaît l'arbre.   Peri bahasa tersebut kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia arti harafiahnya berikut ini.  Dari buah kita tahu pohonnya.   Ada tafsiran bahwa dalam bahasa Inggris maksudnya The apple does not fall far from the tree.  (Apel tidak jauh jatuhnya dari pohonnya).  Kemudian si penulis artikel menjelaskan lagi bahwa "Children observe daily and — in their behaviour — often follow the example of their parents."  (Anak anak mengamati setiap hari dan perilaku mereka mencontoh orangtuanya)

     

    Bahasa Jawa juga memiliki sebuah peri bahasa yang artinya mirip.  Kacang ora ninggal lanjaranLanjaran adalah tangkai kacang.  Artinya kacang tidak meninggalkan tangkainya. Maksudnya karakter anak tidak jauh dari karakter orang tuanya. Karena karakter anak dibentuk oleh orang tuanya. 

    Karakter dibentuk orang tua

     

    Pembentukan karakter ini bisa disengaja bisa juga tidak.  Anak kecil meniru tindakan dan ucapan orang tuanya.  Kosa katanya diperoleh pertama kali dari orang tuanya.  Kalau orang tuanya berbicara dalam bahasa Jawa ya anak anaknya akan berbahasa Jawa.  Kalau orang tuanya berbahasa sopan dan halus  maka anak anaknya juga akan berbahasa sopan da halus.  Jika bahasa orang tuanya kasar maka anak anaknya sulit diharapkan berbahasa halus dan sopan.  Kebiasaan lain seperti ibadah, merokok dll juga akan ditiru anak anaknya.

     

    Tidak mudah memang menjadi orang tua karena hampir semua tindakan dan ucapannya akan dicontoh oleh anak anaknya.  Tapi jangan kuatir karena kehidupan manusia dinamis.  Setiap saat kita memperbaiki diri. Meskipun sudah lumayan lama tinggal di dunia, kita masih bisa terus menerus memperbaiki diri. 

    Memberi contoh baik

     

    Selain orang tua maka pendidik, guru, trainer, coach atau apapaun namanya memiliki peran serupa.  Bahasa Indonesia memiliki per bahasa bagus juga tentang ini.  Guru kencing berdiri murid kencing berlari.  Maksudnya perilaku pendidik akan ditiru oleh muridnya.  Mungkin bagi sebagian orang tidak mudah.  Saya pernah mengamati ada seorang trainer parenting  dalam sebuah acara training malah memberi contoh berkata kata kasar.  Mungkin maksudnya melucu untuk membuat suasana segar.    Memang ada beberapa ibu ibu yang tertawa.  Meskipun demikian hal itu menunjukkan bahwa dia masih harus belajar lagi soal melucu yang beradab dan juga belajar dari peri bahasa di atas.

     

    Di jaman saya sekolah dulu juga masih ada guru yang memaki muridnya dan bahkan memukul muridnya.  Memang guru juga manusia yang bisa saja marah.  Meskipun demikian kalau sudah berani menjadi guru ya harus berani mengambil konsekwensinya juga bahwa dia harus mampu memberi contoh baik dalam berkata dan bertindak.

    Contoh adalah kunci

     

    Mungkin ada lagi peri bahasa serupa dari berbagai bangsa.  Intinya mereka mengingatkan kepada kita para orang tua dan pendidik, trainer, coach  dsb bahwa kita dituntut memberi contoh baik dalam berkata dan bertindak.  Mari saling mengingatkan agar kita mampu melaksanakan tugas mulia mendidik anak dan murid kita.    

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.






    Oleh: Dien Matina

    3 hari lalu

    Antre

    Dibaca : 198 kali