Cahaya Buku di Langit Taman Bacaan - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Rabu, 21 September 2022 06:37 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Cahaya Buku di Langit Taman Bacaan

    Ada cahaya buku di langit taman bacaan. Tadinya anak-anak tidak punya akses buku bacaan kini rajin baca seminggu 3 kali. Bukan minat baca tapi soal akses bacaan

    Dibaca : 296 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dulu sebelum ada taman bacaan. Tidak ada anak-anak yang membaca buku. Karena memang tidak ada akses bacaan. Dulu pula, kaum buta huruf sulit terbebas dari belenggu buta aksara. Tidak bisa baca tidak bisa tulis. Dulu, anak-anak kelas prasekolah pun tidak punya tempat untuk belajar calistung. Bahkan anak-anak yatim dan kaum jompo, sama sekali tidak diperhatikan. Gelap dan tidak ada cahaya yang memberi harapan.

    Tapi kini, setelah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka hadir di Desa Sukaluyu Kec. Tamansari Kab. Bogor di Kaki Gunung Salak, gelap pun berubah menjadi terang. Di taman bacaan, ada 130-an anak jadi pembaca aktif seminggu 3 kali. Ada 9 warga belajar berantas buta aksara dan 26 anak-anak kelas prasekolah belajar calistung seminggu 2 kali. Bahkan 14 anak yatim dan 12 kaum jompo pun disantuni setiap bulan. Dan 33 kaum ibu kini terbebas dari praktik rentenir atau utang berbunga tinggi karena bergabung di Koperasi Simpan Pinjam Lentera. Ada cahaya buku di kaki Gunung Salak.

    Sungguh, kegelapan tidak bisa mengusir kegelapan. Hanya cahaya yang bisa melakukannya. Tiada ada pula ya g mampu menghentikan anak-anak putus sekolah selain penyadaran dan aktivitas membaca di taman bacaan. Tidak ada yang mampu memberantas buta aksara bila tidak ada yang mengajarkannya. Maka peran taman bacaan adalah menabur cahaya untuk melawan kegelapan. Seperti tidak ada minta baca tanpa ada akses bacaan yang disediakan.

    Cahaya dan kegelapan, di mana pun adalah pelajaran sekaligus nasihat. Bahwa hidup memiliki dua sisi yang berbeda. Ada yang suka ada yang tidak suka. Ada yang benci ada yang cinta. Begitu pula berjuang di taman bacaan. Selalu ada cahaya, selalu ada gelap.

    Berjuang di taman bacaan harus pantang menyerah. Sekalipun rintangan dan hambatan terus menghadang. Pegiat literasi tidak boleh takut melawan kegelapan. Karena setelah gelap, pasti ada sinar terang di ujungnya. Maka terangilah hari esok dengan seberkas cahaya hari ini. Begitulah taman bacaan bekerja.

    Ketahuilah, tidak ada yang muncul setelah kegelapan selain cahaya. Tidak ada pula muncul setelah kesedihan selain kebahagiaan. Setelah duka pasti ada suka. Maka terus kerjakan perbuatan baik di taman bacaan dengan penuh cinta.

    Cahaya di kaki Gunung Salak. Agar tidak ada lagi orang yang gemar mengutuk kegelapan malam. Hingga lupa, bahwa mentari tidak pernah lalai membawa sinar-nya di pagi hari.

    Ada cahaya buku di kaki Gunung Salak. Jadilah literat!#TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #BacaBukanMaen #KampungLiterasiSukaluyu

     

    Ikuti tulisan menarik Syarifudin lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.







    Oleh: Dien Matina

    3 hari lalu

    Antre

    Dibaca : 215 kali