Hanya Orang Cerdas yang Mampu Memakai Tata Krama Dalam Bercanda - Humaniora - www.indonesiana.id
x

by Lesly Juarez(unsplash.com)

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Rabu, 21 September 2022 11:30 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Hanya Orang Cerdas yang Mampu Memakai Tata Krama Dalam Bercanda

    Di semua lingkungan sosial banyak sekali orang yang suka bercanda. Sayangnya banyak orang mengira bercanda identik dengan melecehkan. Mereka melecehkan kondisi fisik, sisoal ekonomi budaya dll. Bagaimana idealnya? Sila baca tuntas.

    Dibaca : 296 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku

    Siapa yang tidak suka bercanda?  Saya yakin tidak banyak orang yang tidak suka guyon atau bercanda.  Semua orang pasti sudah merasakan manfaatnya.  Suasana dalam pertemuan menjadi segar, tidak membosankan.  Hati menjadi cerah, tidak mendung lagi.   Tidak heran semua orang suka guyon paling tidak sebagai  penikmatnya.  Tidak mudah memang menjadi produsen lelucon sehingga tidak banyak orang yang mampu melucu dengan baik.  Banyak lelucon yang gagal. Salah satu sebabnya adalah karena tidak memakai tata krama.

    Bercanda tidak identik dengan melecehkan

     

    Sebagian (besar) orang masih belum menyadari bahwa melucu tidak sama dengan melecehkan.   Banyak sekali orang yang bermaksud melucu tapi dengan cara melecehkan orang lain.  Ada yang melecehkan keadaan fisik.  Ada yang melecehkan keadaan sosial ekonomi orang lain.  Ada yang melecehkan budaya orang lain.  Misalnya logat, dialek, cara bicara dsb.  Masih banyak lagi hal lain yang sering dilecehkan dalam pergaulan sehari hari.

     

    Semuanya itu menunjukkan bahwa banyak orang masih belum paham perbedaan antara melucu dan melecehkan.  Keduanya tidak identik.  Sebenarnya melucu ada tata kramanya.  Melucu tidak boleh melecehkan apapun. Melecehkan adalah perbuatan tercela.

     

    Seseorang pernah mengatakan pada saya dengan memakai amsal yang bagus.  Dia katakan kalau kita melecehkan lukisan seseorang, maka pasti pelukisnya akan tersinggung.   Manusia adalah ciptaan Allah yang paling mulia.  Jadi kalau kita melecehkan ciptaan sama saja kita melecehkan penciptanya.  Itu adalah sebah kesalahan besar.  Maka istighfarlah anda yang pernah melecehkan orang lain.  Sebaiknya jangan diulangi lagi. 

     

    Dalam beberapa kesempatan saya pernah melihat seorang pemandu acara yang bermaksud melucu tapi dengan melecehkan.  Belum lama ini istri saya juga menceritakan hal sama. Dalam sebuah acara reuni bersama teman kuliahnya ada seorang pembawa acara yang melecehkan angkatan senior secara verbal. Dia katakan kalau angkatan senior ikut menari bisa pada jatuh. Akibatnya para senior merasa tidak nyaman.

     

    Melecehkan dalam berbicara dan dalam bercanda harus benar benar dihindari oleh seorang pembawa acara.  Memang akan ada orang yang tertawa tapi lawakan seperti itu adalah lawakan yang tidak beradab.  Jadi harus dihindari. 

    Bercanda beda dengan omong jorok

     

    Selain melecehkan banyak juga yang melucu dengan berkata kata jorok. Ini juga kesalahan.  Lelucon yang beradab juga harus menghindari kata kata dan tindakan yang memiliki konotasi kurang baik. 

     

    Demikian juga jika profesi anda adalah guru, dosen, trainer, pelatih, instruktur, coach , pemandu wisata, tour leader, editor atau apapun.  Hindari candaan yang melecehkan.  Terapkan tata krama dalam bercanda. Jangan berkata dan bertindak kasar.  Hindari juga kata kata yang memiliki konotasi jorok.  Pakailah kata kata yang sopan.  Pakailah kata kata dan tindakan yang tidak melecehkan.

    Candaan sopan

     

    Mari kita terus menerus belajar tata krama dalam bertindak dan berkata.  Termasuk dalam bercanda. Candaan harus tidak melecehkan.

    Candaan yang baik itu menemukan dan mengutarakan situasi tak terduga atau situasi aneh yang tidak lazim dialami masyarakat. Sila googling untuk menemukan contoh humor yang beradab. 

    Memang tidak mudah membuat candaan yang beradab. Dibutuhkan kecedasan untuk membuat humor yang beradab.  Maka hanya orang cerdas yang mampu memakai tata krama dalam bercanda. 

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.





    Oleh: Dien Matina

    2 hari lalu

    Antre

    Dibaca : 168 kali