Azyumardi, Simbol Cendekiawan Merdeka - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

(dari kanan) Pakar Hukum Azyumardi Azra, Yusril Ihza Mahendra dan Refly Harun saat mengikuti Rapat Dengar Pendapat Umum bersama Komisi II DPR RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 18 Oktober 2017. TEMPO/Dhemas Reviyanto

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 21 September 2022 12:53 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Azyumardi, Simbol Cendekiawan Merdeka

    Menemukan cendekiawan dan akademisi yang merdeka dalam pikiran dan sikap tidaklah mudah, apa lagi yang sekaliber Prof. Azyumardi Azra. Ketika banyak cendekiawan dan akademisi memilih untuk mengabdi pada kekuasaan, ia tetap tinggal di luar. Tatkala banyak orang pintar yang merasa bangga menyusun argumen-argumen untuk memuluskan jalannya kekuasaan, ia justru menjaga jarak agar tetap leluasa mengritisi kekuasaan.

    Dibaca : 915 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Menemukan cendekiawan dan akademisi yang merdeka dalam pikiran dan sikap tidaklah mudah, apa lagi yang sekaliber Prof. Azyumardi Azra. Ketika banyak cendekiawan dan akademisi memilih untuk mengabdi pada kekuasaan, Prof Azra tetap tinggal di luar. Tatkala banyak orang pintar yang merasa bangga menyusun argumen-argumen untuk memuluskan jalannya kekuasaan, Prof Azra justru menjaga jarak agar tetap leluasa mengritisi kekuasaan.

    Meski begitu, Prof Azra bukanlah pembenci kekuasaan. Kritiknya lebih dimaksudkan untuk mengingatkan para pemegang kekuasaan agar lebih mengedepankan kepentingan rakyat banyak. Ia percaya pada tugasnya sebagai akademisi untuk menyampaikan kebaikan, kebenaran, keadilan, serta kemanusiaan. Sepanjang hayatnya ia tak pernah menukar kepercayaannya itu dengan kekuasaan—yang seringkali hanya sedikit dibagikan kepada cendekiawan.

    Apakah Prof Azra prihatin dengan sejawatnya yang menukar integritas dengan jabatan komisaris, penulis naskah akedemik yang ingin menyenangkan pembuat peraturan, menyiapkan argumen bagi keputusan, dan sejenisnya? Sangat mungkin ia pedih menyaksikan bagaimana para petinggi kampus lebih membela kekuasaan ketimbang rakyat, tapi ia tidak mengungkapkan keprihatinan kepada sejawatnya itu secara terbuka. Walau begitu, kritiknya kepada kekuasaan telah cukup memperlihatkan keberpihakannya kepada rakyat banyak.

    Mengingat kebutuhan bangsa akan cendekiawan yang independen, dengan pikiran yang mencerahkan, serta kritis terhadap kekuasaan, kepergian Prof Azra meninggalkan kekosongan yang harus segera diisi oleh cendekiawan lain. Ia salah seorang dari sedikit akademisi yang tidak ragu menyampaikan pikiran-baiknya walaupun berbeda pandangan dengan pemerintah.

    Prof Azra tidak menyimpan beban utang budi atau terperangkap dalam kenikmatan kuasa seperti yang dirasakan oleh banyak akademisi, yang membuat mereka kehilangan daya kritisnya, kecerdasannya, serta terlena karena sudah duduk dalam lingkaran kekuasaan. Banyak akademisi yang merasa nyaman duduk dalam sangkar emas karena menjadi komisaris perusahaan dan kemudian lupa pada tugas utamanya sebagai cendekiawan: memperjuangkan kebenaran, keadilan, serta kemaslahatan rakyat banyak.

    Telah jadi kelaziman ketika guru besar sampai pada waktunya berbicara tentang masyarakatnya melampaui bidang keilmuan yang jadi kepakarannya. Tapi kelaziman ini telah jadi anomali di tengah zaman ketika kecerdasan jadi alat untuk menumpuk kekayaan dan menopang kekuasaan. Prof Azra berada di antara cendekia yang tergolong anomali di zaman ini, yang lebih memilih menegakkan kebenaran dan kejujuran, memperjuangkan keadilan, dan mengikhtiarkan kemaslahatan bagi rakyat banyak ketimbang memuaskan hasrat pribadi.

    Prof Azra tidak mau mengantri di barisan cendekiawan yang menanti panggilan kekuasaan, yang berharap ada tawaran duduk di sangkar emas namun tak mampu lagi bersiul. Karena itu, kepergiannya meninggalkan kekosongan yang mesti segera ditutup. Di tengah kecenderungan akademisi perguruan tinggi yang mengabdi pada kekuasaan, Azyumardi bagaikan suar yang selayaknya diikuti oleh akademisi yang belum terjerembab dan jatuh dalam perangkap kekuasaan. Jangan sampai suar itu padam, walaupun Prof Azra telah berpulang. >>

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.