Berdamai dengan Diri Sendiri Itu Perlu - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Pinterest

Dien Matina

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Agustus 2022

Rabu, 21 September 2022 18:24 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Berdamai dengan Diri Sendiri Itu Perlu


    Dibaca : 510 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Faktanya, banyak yang kerepotan meng-handle diri sendiri. Entah karena harapan dan ekspektasi yang terlalu tinggi atau sebaliknya pesimis parah. Entah karena sehari-hari lebih banyak dihabiskan untuk membuka media sosial, melihat kehidupan 'wah' yang ditampilkan, lalu muncul aneka perasaan yang ujung-ujungnya menjadi racun dan berpotensi membunuh hati dan logika. Iri, cemas yang berlebihan, rasa percaya diri yang turun drastis atau halu yang terlalu. 

    Nah, kalau di film Living With Yourself (2019), Miles (Paul Rudd) merasa hidupnya stagnan. Semangat dan performanya melorot tajam. Termasuk dalam pekerjaannya maupun hubungannya dengan sang istri, Kate (Aisling Bea). Semangatnya yang tinggi dan kepiawaiannya ber-story telling makin memudar tanpa diketahui apa sebabnya.

    Melihat keadaan Miles, teman kantornya, Dan (Desmin Borges) merekomendasikan untuk mendatangi spa eksklusif di luar kota seharga 50 ribu USD, agar supaya jiwa raganya segar seperti terlahir kembali. Tertarik, Miles berangkat dengan membawa sebagian tabungannya, tentunya tanpa sepengetahuan Kate istrinya.

    Di luar dugaan, spa itu mengkloning Miles dan mengubur Miles asli. Ndilalah nggak seperti korban lainnya, Miles asli tidak mati dan bisa pulang ke rumah. Di situlah masalah muncul, Miles bertemu Miles. Sudah bisa ditebak, makin repot dan insecure Miles asli menjalani hidupnya, ditambah Miles kloningan ternyata lebih hebat dalam banyak hal, style lebih rapi dan segar, ide-ide pekerjaan sampai proyek berjalan lancar, hubungan dengan istri juga lebih baik. Dan sebagai penonton yang tidak hanya menonton, saya menangkap beberapa hal yang terlihat sederhana tapi sebenarnya justru penting dilakukan agar hidup benar-benar bahagia tanpa perlu berpura-pura. 

     

    Komunikasi.

    Berdasar pengalaman dan pengamatan, komunikasi yang macet akan menghasilkan antrian masalah. Tidak baik memang semuanya dipendam sendiri. Boleh dibicarakan dengan orang-orang terdekat yang bisa dipercaya. Setidaknya beban tak melulu ada di pundak sendiri padahal bisa dibagi, syukur-syukur ada solusi. Seperti Miles yang tidak tahu kenapa performanya melorot tajam, kerjaan kacau dan hubungan dengan Kate tidak harmonis. Bukan hanya masalah ranjang tapi tentang kehamilan dan anak yang diidamkan Kate yang tak kunjung terwujud. Ya gimana wong Miles ribet sendiri, disuruh datang ke klinik program kehamilan selalu nggah nggih ora kepanggih, iya doang tapi tidak segera dikerjakan. 

    Bercermin itu baik.

    Belajar dari yang sudah-sudah. Sing wes yo wes tapi petik juga pelajarannya agar supaya tidak melakukan kesalahan yang sama. Menerima diri sebagaimana adanya dan menggali potensi yang mungkin terabaikan selama ini. Penting juga mengingat keadaan sekitar yang sadar atau tidak berpengaruh besar pada apa yang dijalani. Melakukan sesuatu dengan pamrih akan berbeda hasilnya dengan mengerjakan dengan niat hati supaya diri sendiri dan keadaan jauh lebih baik dari sebelumnya. 

    Sambatlah seperlunya.

    Jangan seperti orang yang paling teraniaya sedunia. Terus-menerus sambat sana sini tidak otomatis membuat bantuan datang menyerbu. Apalagi sambatnya sampai diposting di medsos, biar apa deh. Pamer kepandaian oke pamer masalah no. Lagian semua orang punya masalahnya masing-masing kan? Lebih baik pikirkan jalan lain yang bisa ditempuh untuk memperbaiki semuanya. Dan kebetulan saat menulis ini, teman-teman saya heboh melihat postingan seorang teman yang seminggu ini sambat tentang keluarganya, bahkan sempat memaki orang tuanya. Yang ada pada ghibah berjemaah dan menarik kesimpulan, bahwa yang berpendidikan tinggi belum tentu attitude-nya juara. 

    Katanya akar penderitaan adalah konflik dengan diri sendiri.

    Jadi bagaimana mau ayem tentrem kalau pertentangan di dalam diri tidak beres-beres, pun ketika dikelilingi privilege seperti duit ada, pintar dan update teknologi. Hidup mewah tapi hati melulu resah kan sedih ya. Meskipun memang membuat hidup seimbang tidak mudah, tapi tidak boleh mudah menyerah. Harus strong menghadapi keinginan yang sering menyamar sebagai kebutuhan. 

    Ambisi itu tak boleh menyakiti.

    Seperti Miles asli dan Miles kloningan yang bukan hanya berusaha saling menerima tapi juga berusaha mengeliminasi satu sama lain. Makin mbulet ketika masalah dobel diri ini juga dibarengi dengan masalah lainnya seputar kesetiaan, kesuburan, anak dan karier. 

    Kecewa boleh tapi bodoh jangan.

    Kenapa? Ya emang enak udah kecewa terus melakukan hal bodoh terus kecewa lagi. Mau kecewa berapa kali? Kata mbah putri saya, "Urip pisan kudu wangun," hidup sekali harus bisa memantaskan diri, tidak asal hantam kromo. Lagian biasa kan mengalami kecewa wong kita masih manusia bukan panda.

    Ngomong-ngomong saya juga kecewa. Kecewa sama ending Living With Yourself  ini yang menggantung banget seperti kebanyakan film Amerika. Tapi memilih memang tidak mudah sih, apalagi duo Miles punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kalau saya sih pilih yang kloningan aja, terlihat lebih uwu, smart dan segerrr, ehee..

     

    Begitulah. 

    Mari berdamai dengan diri sendiri, menerima rasa tidak asyiknya. Bukan berpura-pura tak merasa atau terus-menerus menghindarinya. Iya, semua butuh waktu, pelan-pelan saja. Ada proses di mana pikiran dan perasaan bersatu untuk melakukan sebuah tindakan terbaik. Namanya juga hidup, kalau dengan diri sendiri saja nggak berdamai, bagaimana dengan yang lain kan? 

    Ikuti tulisan menarik Dien Matina lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.