7 Hari Menulis Surat Cinta - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Pinterest

Dien Matina

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Agustus 2022

Kamis, 22 September 2022 12:05 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • 7 Hari Menulis Surat Cinta


    Dibaca : 245 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    ~Pertama. 

    Hey, kamu..

    Salah satu cara memperlambat waktu di jaman yang segalanya dituntut serba cepat ini adalah menulis surat. Dan aku ingin menuliskannya untukmu, sembari menikmati detik demi detik yang kadang menyebalkan. 

    Mengapa? Sebab aku tak bisa melihatmu barang sebentar. Mengajakmu berbincang-bincang atau sekedar mengucap, "Selamat sore, sudah bahagia?"  

    Pagi ini seperti biasa kumulai hari dengan secangkir kopi hitam dan sedikit gula, sambil memandang jalanan dari jendela lantai atas tempat kerjaku. Seperti mengingatkanku tentang perjalanan ketika menemukan senyumanmu pertama kalinya. Sedikit ganjil kurasa, tapi sungguh aku menyukainya. Setelah tahun-tahun berlalu aku masih tetap menyukai senyummu. Berharap kau benar-benar bahagia, meski aku tak pernah ada bersamamu. Jika perasaan ini terlalu berlebihan, maafkan.  

    Baiklah, kuselesaikan saja surat ini. Semoga esok waktu masih memberiku kesempatan, menulis untukmu. Kelak, entah kapan, masih bolehkah aku melihatmu, sekali lagi? 

    Aku, kangen..

     

    ~Kedua. 

    Dear kamu..

    Sudah lewat tengah malam, aku masih saja sibuk meladeni lalu-lalangnya pikiran. Entahlah, aku pun tak tahu jawabannya. Tetapi mungkin karena kamu ada di sana.  

    Aku memang tak seromantis Pak Karno dengan surat-surat cintanya kepada Ibu Fatmawati atau Johnny Cash kepada June Carter, hanya saja aku tak mengerti bagaimana cara terbaik mengajakmu makan malam selepas pulang kerja. Ah mungkin aku terlalu berlebihan, baiklah sekedar ngopi saja kalau begitu. Bolehkan?  

    Maka kutulis surat ini untukmu, meski aku tahu harapanku tipis untuk menerima jawaban ya darimu. Aku paham, namun tetap saja aku ingin mengatakannya, apapun jawaban yang kuterima. Aku keras kepala ya?  

    Disela-sela menulis ini, aku sempatkan memandang wajahmu di sebuah foto yang begitu kusuka. Bukan karena jaket hijau yang kau kenakan, bukan. Aku tak punya alasan apapun, hanya suka, itu saja. Seperti perasaan-perasaanku padamu yang semakin hari semakin membelitku. Pada pucat kulit dan tirus pipimu, aku rindu. Lantas lupa menjadi hal yang sulit kulakukan. Semoga ini tak membuatmu keberatan.  

    Angin yang menggoyangkan tirai mengingatkanku pada jendela kamar yang masih terbuka. Cukup dingin. Sembari menutupnya kulihat jam di dinding menunjukkan pukul 02.55. Astaga, sudah pagi tapi mata masih seterang Sirius. Mungkin ini karena terlalu banyak memandangi fotomu. Mungkin. 

    Baiklah, sampai di sini dulu ya, esok kutulis lagi surat untukmu, semoga ini juga tak membuatmu keberatan. Selamat malam, selamat tidur, kamuku. 

    Aku, kepadamu...

     

    ~Ketiga. 

    Apa kabar? Ketiga kalinya untukmu, laki-laki pemilik senyum yang ingin kulihat lagi dan lagi. Hari ini tak ada hujan. Matahari seperti meleleh di jalanan. Terik sekali. 

    Beberapa jam sebelum menulis surat ini aku menggambar simbol Hakuna Matata di lengan kananku. Seperti yang kau tau, aku suka dengan simbol-simbol, semacam filosofi yang selalu ingin kupahami. 

    Hakuna Matata, sebuah ungkapan Swahili yang berarti, there are no worries. Bentuknya mirip kunci G yang menganalogikan untuk lebih menerima ketika hidup membawa kita pada fase terbawah. Ini mengajariku cara lain bersyukur atas apapun yang terjadi, tak terlalu mengkhawatirkan hal-hal yang belum tentu akan terjadi, dan mempercayakan hidup padaNya Sang Maha Segala. Hingga tak perlu aku mengutuk cemas atau memaki kesedihan yang sering datang mengganggu. 

    Tahukah jika kamu telah mengajariku cara menikmati suka dan hal-hal yang menyertainya. Katamu, "Ini berkat, Ing, bukan untuk dipertanyakan mengapa. Cukup nikmati saja, tanpa beban." Kau juga pernah berkata, "Ketika kebahagiaan sulit ditemui, maka saat sedang bahagia, nikmatilah. Jangan tunggu ia pergi dan penyesalan datang." 

    Ya ya, kurasa benar adanya. 

    Terima kasih ya untuk percakapan-percakapan kita, juga senyummu, yang menyemangati hari-hariku. Maka biarkan aku tetap menyukainya dan merindukannya, selalu. 

    Aku, yang tak lagi khawatir dengan perasaan-perasaan yang kumiliki, kepadamu. 

     

    ~Keempat 

    Selamat malam.

    Tak mengapa ketika kamu belum sempat membaca ini. Selain memang tak terlalu penting, kurasa urusan-urusanmu sudah menguras tenaga dan pikiranmu. Hingga kumaklumi ketika tulisan ini mungkin akan terlewatkan dari pandanganmu. Jadi yasudahlah terserah mau dibaca sekarang, besok, lusa, atau entah kapan. Tapi please, bacalah!  

    Hmm.. sampai pada paragraf ini sesungguhnya aku bingung, tak tahu apa yang ingin aku tuliskan lagi. Kuhela napas sembari mengingat-ingat mimpi semalam. Dimana ada kamu yang entah bagaimana semakin membuatku tak bisa lupa.

    Seperti pada surat-suratku sebelumnya, maafkan aku yang telah lancang jatuh hati padamu. Jika belakangan kau menghilang mungkin sengaja menghindariku, juga untuk mematikan perasaanku. Tak mengapa, toh perasaan tak bisa dipaksakan. Meski aku kangen percakapan-percakapan malam menuju kantuk. Tentang tempat gym asik, tempat wedangan baru, musik, film atau drama radio. Begitulah kita waktu itu teman berbagi cerita, saling menyapa tanpa bersua.  

    Aku yang berkali-kali memimpikanmu.

     

    ~Kelima 

    Hey, apa kabar? Masih sibuk mengurai kerumitan? Atau sudah menemukan rumah ternyaman? 

    Setelah menghadiahi kata-kata, kini aku sibuk mereka-reka apa yang hendak kuberikan di hari ulang tahunmu nanti. Tentu saja jika kau meminta hati akan kuberi, namun sepertinya tidak. Tidak akan. Tetapi sudah sejauh apa hatimu, Erast?  

    Setelah apa yang terlewati aku merasa insecure dengan perasaan sendiri. Mempertaruhkan perasaan pada sekat-sekat harap lalu membayarnya dengan kekalahan yang berkali-kali. Bukan akan berpindah ke lain hati, justru lebih parah dari itu, aku semakin jatuh sayang padamu. Aku tak akan kemana-mana, Erast. Duduk diam menunggu, meski tak tahu apa yang aku tunggu.  

    Apakah nyaman itu masih menjadi satu-satunya alasan saat berbincang-bincang denganku? Semoga kelak kamu mengatakan perasaanmu, biar aku tahu. Itu saja. Terima kasih. 

     

    ~Keenam 

    Penanda apakah itu, kamuku? 

    Ketika melihatmu detak jantungku tak beraturan, perutku penuh kupu-kupu, dan kepalaku sibuk luar biasa. Terlalu jelas perasaanku. Saat menatapmu, riuh seluruhku.  

    Segala waktu adalah rindu. Kau mencurinya diam-diam, dalam-dalam pada duapuluh empat jam putaran hari. Tak lelah singgah dengan segala ekspresi. Bahkan ketika kau ceritakan tentang luka-luka itu, masih jelas dalam ingatan garis-garis lelah wajahmu.  

    Penanda apakah itu, kamuku?

    Pertanyaan sederhana. Sesederhana percakapan-percakapan saat pagi datang dan kita saling menyapa. Sesederhana seduhan kopi di suatu malam ketika aku menuliskanmu, seperti sekarang ini. Sambil berharap pesanmu kembali datang, "Ing, sudah bahagia?"

     

    ~Ketujuh 

    Kamu sedang apa? 

    Ini surat ketujuh yang kutulis, semoga kau punya waktu membacanya. Setelahnya mungkin aku akan tetap menulis tapi tanpa mengirimkannya padamu. Biar saja surat-surat berikutnya menjadi penghuni laci lemari kayu kamarku.  

    Terkadang aku lupa beberapa hal tak bisa dipaksakan. Tetapi Tuhan selalu punya rencana baik. Butuh waktu memang untuk paham bahwa hidup adalah pilihan dan keputusan. Aku memilih untuk tetap menyukaimu dalam batas tertentu. Sebab jika terlalu dalam aku takut ego akan lebih banyak bicara. Aku tak ingin hari-hariku terbuang percuma hanya untuk meladeninya. Drama-drama picisan bisa membuatku sesenggukan. Tidak. Aku akan belajar menerima, apapun itu, termasuk perasaan-perasaanku padamu. 

    Kita pernah sedekat angin dan udara, semoga kamu tak lupa. Segaris takdir dipertemukan untuk sebuah pelajaran, saling menguatkan. Bukankah begitu? 

    23.41 sekarang. Kantuk sudah datang sedari tadi, ia rela menunggu kubukakan pintu. Di tangannya tergenggam sebuah pesan dari seseorang yang belakangan bersamaku dalam mimpi. Dia mirip kamu, mungkin itu kamu. Dia bilang, "Ing, tidurlah, aku menunggumu."  

    Baiklah kusudahi tulisan ini. Terima kasih sudah membacanya. Terberkatilah segala. Dipenuhi suka dijauhi luka. 

    Aku, selalu kepadamu..

    Ikuti tulisan menarik Dien Matina lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.