Negara-negara Serumpun Tapi Tak Akur - Analisis - www.indonesiana.id
x

Pasukan payung Rusia VDV atau Vozdushno-desantnye voyska, pasukan dengan kekuatan satu korps dan beberapa divisi ini merupakan pasukan payung terbesar di dunia. VDV didirikan pada tahun 1930 dengan motto Nobody, but us. Pasukan ini kerap kali diterjunkan dalam pertempuran besar seperti perang Stalingrad, perang Afganistan, Chechnya dan Ukraina. VDV menggunakan baret berwarna biru terang sebagai simbol dari korps pasukan udara. pinterest.com

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Kamis, 22 September 2022 18:30 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Negara-negara Serumpun Tapi Tak Akur

    Negara serumpun, seperti Indonesia-Malaysia atau Rusia-Ukraina memiliki banyak kesamaan budaya. Seharusnya kesamaan itu memudahkan dalam berhubungan. Tapi kenyataannya tidak selalu demikian. Indonesia kerap bersitegang dengan Malaysia. Rusia dan Ukraina bahkan terlibat peperangan. Kenapa semua ini bisa terjadi?

    Dibaca : 631 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku

    Persamaan budaya dan bahasa mestinya memudahkan komunikasi sehingga mengarah ke terciptanya hubungan baik. Tapi ternyata tidak selalu demikian kasusnya.  Ada beberapa bangsa serumpun yang tidak akur bahkan berperang.  Agaknya ada faktor lain yang memengaruhi hubungan antar bangsa dan antar negara jadi baik atau sebaliknya. Mari kita lihat fakta berikut.

    Cina – Taiwan
    Selama berabad abad Cina sangat menderita karena dijajah banyak negara.  Apalagi kekaisaran tidak mampu membebaskan rakyatnya dari penderitaan.  Maka di awal abad 20 muncullah gerakan politik untuk memperjuangkan kemerdekaan.  Gerakan nasionalis di bawah pimpinan Chiang Kai Shek berhasil menggalang kekuatan yang signifikan untuk mengusir penjajah.  Di sisi lain Mao Zedong juga berhasil membangun partai komunis dengan tujuan yang sama.  Mereka melawan pendudukan Jepang secara politik dan militer sekaligus saling bermusuhan.

    Akhirnya gerakan mereka berhasil ketika Jepang kalah dalam PD II.  Tapi kedua kekuatan politik itu tidak akur.  Terjadi perang saudara memperebutkan kekuasaan.  Di tahun 1949 akhirnya perang saudara dimenangi oleh Mao.  Partai nasionalis lantas menyingkir ke pulau Taiwan dan mendirikan negara sendiri, tidak mau tunduk di bawah kekuasaan pemerintah Beijing.  Chiang Kai Shek tetap bercita cita suatu hari akan merebut pemerintahan Beijing.  

    Tindakan itu dianggap makar oleh pemerintah Beijing.  Mereka mengklaim Taiwan adalah wilayah Cina. Taiwan diangap sebagai propinsi yang memberontak.  Sejak itu hubungan kedua pemerintah selalu panas.  Meskipun hubungan antar rakyat tidak ada masalah. Setelah Chiang kai Shek meninggal di 1975 hubungan kedua pemerintah tetap tidak harmonis.  Akhir akhir ini hubungan mereka semangkin panas sehingga masyarakat internasional kuatir akan ada serangan militer ke Taiwan.   
    Sikap Washington berpihak kepada pemerintah Taiwan.     

    Korea Selatan – Korea Utara

    Fenomena yang mirip dengan Cina terjadi di semenanjung Korea.  Sejak tahun 1910 Korea diduduki dan dijajah oleh Jepang.   Mereka melawan dengan gerakan politik dan militer.  Ketika Jepang hancur dalam PD II mereka mendapat kesempatan emas lalu merdeka.  Meskipun demikian mereka terpecah dalam kedua kubu ideologis.  Di bagian utara partai komunis yang didirikan oleh Kim Il Sung berkuasa sampai sekarang. Penguasa sekarang Kim Jong Un adalah cucu dari pendiri Korut Kim Il Sung.  Di tahun 1950 mendadak Korut menyerang Korsel sehingga Seoul jatuh.  Untunglah blok barat turun tangan. Pasukan koalisi di bawah pimpinan Amerika Serikat mampu membebaskan Korsel dari serangan Korut.

    Sampai sekarang Korea masih terbelah. Korut masih tetap negri komunis yang pas pasan dan Korsel negri kapitalis yang makmur. Hubungan keduanya tetap panas dingin. Entah sampai kapan. Dengan kekuatan militer yang memiliki nuklir Korut tetap menjadi ancaman potensial buat Korsel dan Jepang.

    Indonesia - Malaysia

    Meskipun sesama bangsa Melayu hubungan kedua negara tidak selalu mesra.  Perbatasan yang kurang jelas dan warisan budaya yang sama menjadi faktor penyebabnya.  Sengketa pulau Sipadan beberapa tahun lalu untung bisa diselesaikan secara damai. Tapi masih banyak wilayah yang batasnya belum jelas.  Keduanya juga merasa berhak atas warisan budaya yang sama seperti batik, seni tradisi dll.  Meskipun demikian potensi konflik militer sangat kecil.  

    Rusia – Ukraina

    Sebenarnya keduanya adalah sesama bangsa Slav.  Bahasa mereka sangat mirip, hurufnya juga mirip meskipun ada bedanya juga. Mereka bisa saling mengerti paling tidak enampuluh persen. Mereka mewarisi bahasa dan budaya yang hampir sama seperti Indonesia dan Malaysia. Nama nama mereka juga mirip meskipun tidak sama persis.  Nama Vladimir misalnya di Ukraina diucapkan Volodimir.

    Ukraina dulu adalah bagian Uni Soviet yang didominasi Rusia. Sampai sekarang Rusia masih merasa sebagai big brother di seluruh wilayah bekas Uni Soviet.  Itu adalah kawasan pengaruhnya dan buffer states (negara penyangga) nya. Ekspansi NATO yang sejak awal berdirinya memang diniatkan untuk menandingi blok timur tentu dianggap  Rusia sebagai ancaman serius jika akan merekrut Ukraina sebagai anggotanya.  Apalagi biasanya pasukan NATO ditempatkan di negara anggotanya lengkap dengan rudalnya.  Tindakan itu tidak bisa diterima oleh Rusia karena merupakan ancaman terhadap keamanannya. Itulah sebabnya Rusia menyerang duluan.  

    Melihat fenomena di atas kita di semua tingkatan dan semua golongan harus waspada.  Semua pihak sebaiknya memberi sumbangan yang konstruktif kepada komunitas.  Sumbangan ini bisa berbentuk apa saja, tidak selalu uang. Bisa juga karya, pemikiran, kata kata baik dll. Kalau tidak bisa memberi sumbangan yang besar ya kecil saja kepada lingkungan terdekat seperti tetangga, keluarga, teman sekolah, teman se komunitas apapun. Bagaimana kalau tidak bisa memberi sumbangan apapun?  Ya paling idak jangan memberi kata kata atau tindakan yang negatif, yang menyakiti sesama.  Diam lebih baik daripada kata yang menyakiti. Dalam sebuah hadist disebutkan berkatalah yang baik, kalau tidak bisa lebih baik diam.

    Kita harus berpikir jauh ke depan.  Kita harus menghindari tindakan dan ucapan yang bisa mengarah pada perpecahan.  Tentu agar jangan sampai kita saudara serumpun ini menjadi tidak akur di masa depan.  Kita harus mewariskan masyarakat yang persatuannya yang solid. Masyarakat yang semua unsurnya memberi sumbangan positif dan konstruktif.  Kalau ada perbedaan tidak perlu dipertajam tapi dicari titik temunya.  Tentu peran seorang bapak yang baik dan bijaksana sangat diperlukan.

     

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.