Somewhere Only We Know - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Dok pribadi

Dien Matina

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Agustus 2022

Kamis, 22 September 2022 15:18 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Somewhere Only We Know


    Dibaca : 254 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    "Somewhere only we know," katanya. Setelah senja tadi aku meminta ia memberikan sebuah kalimat kunci. Kurasa seperti aku, ia juga menyukai merah dan hitam. Dua warna yang ajaib. Dan aku menduga, dia akan sepakat bahwa dua warna itu mampu menampung kecemasan-kecemasan, angan ingin, suka dan segala bentuk luka. 

    Kukira masing-masing tangan telah menggenggam sebuah warna, semacam kekuatan atau mungkin keberanian untuk membuat hidup lebih terang. Lebih dari sekedar nyala, bernyawa dan bicara, "Inilah aku." 

    Entah mengapa merah dan hitam selalu membuatku merasa berada di suatu tempat yang tak mengenal kata bosan. Di sana hanya ada aku yang bebas bercakap-cakap dengan si sepi. Tentu kami akan membicarakan apa saja. Dari cat kuku, sepatu, rindu, buku-buku, surat-surat yang tak pernah terkirimkan, sajak-sajak yang menunggu dituliskan, sampai petrichor hujan yang membuatku tenggelam dalam kenangan. 

    "Somewhere only we know," katanya. Dan aku tersenyum sekali lagi untuk sebuah perasaan yang sejujurnya tak bisa kupahami. Tak mengerti bagaimana, tiba-tiba aku seperti berada di sebuah ruang sewarna merah dan hitam, meja kayu, dua bangku, wangi aroma kopi dan beberapa potong kue cokelat. Ah, aku tersenyum lagi. Sekali lagi untuk perasaan yang tak bisa kujelaskan. 

    Sejenak kucecap kopi. Hangat, sedikit pahit, tapi manis percakapan mengalirkan Rabu malam ini. Hey, ingatkah kau, kita pernah melewati Rabu malam di sebuah pantai setelah bertahun-tahun saling mengenal. Cukup cerah waktu itu. Ribuan bintang, aroma laut yang menyengat dan tiupan angin yang membuatku harus merapatkan sweater rajut yang kupakai. Kau tahu, aku kedinginan sebenarnya. 

    "Somewhere only we know," katanya. Sebuah tempat yang tak pernah kusembunyikan dari siapapun dari apapun. Tersimpan diam-diam, dalam-dalam, dan mungkin akan sedikit lebih lama dari sekadar selamanya. 

    Malam menunjukkan angka 00.10 saat aku menyelesaikan tulisan ini. Sudah larut, dan aku masih berada di seruang merah hitam bersama si sepi. 

     

    Somewhere only we know, katanya. 

    110516

    Ikuti tulisan menarik Dien Matina lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.