Monotonic - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Kamis, 22 September 2022 18:22 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Monotonic

    Antara enam puluh delapan hingga tujuh puluh tahun, bumi tidak akan stabil. Di dataran tinggi yang lain, bangunan-bangung tua terselumuti hutan belantara yang dibiarkan hidup tanpa tersentuh mesin kinetika anatomi, yang engan mudah melakukan pembabatan besar-besaran. Berbagai legenda serta mitos-mitos kegelapan menjadi artifisial tugu-tugu rekayasa untuk hutan murni yang masih menjaga mentah hasil bumi. “Matikan mesin, sekarang, IRGC membabi buta di Timut Tengah!”

    Dibaca : 226 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    “Matikan seluruh jaringan net, juga padamnya pusat energi nuklirnya.”

    Tidak mungkin. Itu akan membuat keadaan kacau tak terkendali...

    “Ini harus, saatnya seluruh akses dimatikan. Dan, ini perintah!”

    “Berikan alarm peringatan agar warga mulai memasuki gudang bawah tanah rumah masing-masing, lalu matikan pusat energi untuk waktu duapuluh empat jam. “

    “Dalam beberapa jam, dua buah asteroid besar, Asphalt dan Triaxial, akan saling berhadap-hadapan di gurun Assar; besar kemungkinan benturan energi akan membuat kotoran di angkasa menghantam beberapa lokasi di bumi.”

    Apa yang harus diinformasikan kepada warga dunia untuk pemadaman ini?”

    “Katakan, lempeng bumi bergerak terlalu cepat dan diluar prakiraan sebelumnya.”

    Tapi.....”

    “Kita belum punya mesin yang akurat untuk mendeteksi seluruh fenomena alam, itu realita!”

    Pada tebing dengan ketinggian yang mampu menjangkau kecepatan cahaya di angkasa, codelabs di stasiun Cupola, dengan Node 3, tetap melakukan interaksi informasi kejadian di galaksi kepada tim ESA. Sepertinya, kondisi ini telah mengharuskan seluruh stasiun berpikir ulang untuk menyatu misi dalam bekerja sama sebagai visi pertahanan bumi, atau, seluruh mahluk hidup akan hancur.

    Sampah tembaga di ruang angkasa melebihi kapasitas. Ekonomi dunia takkan mampu menciptakan alat yang membutuhkan dana besar. Selain itu, pemikiran penciptaan taktis dan tepat, untuk rentang masa pemulihan alam semesta paska hantaman tersebut akan membutuhkan waktu hampir dua ratus tahun.

    *

    “Ada kabar dari obserevasi kelautan untuk ketahanan di dalam dasar bumi?”

    Mereka belum memberikan kabar terbaru, tapi sepertinya jaringan mereka telah terhantam benda asing di Selat Makassar.”

    *

    Antara enam puluh delapan hingga tujuh puluh tahun, bumi tidak akan stabil. Di dataran tinggi yang lain, bangunan-bangunan tua terselumuti hutan belantara yang dibiarkan hidup tanpa tersentuh mesin kinetika anatomi, yang enggan dimudahkan dalam melakukan pembabatan secara besar-besaran. Berbagai legenda serta mitos-mitos kegelapan menjadi artifisial tugu-tugu rekayasa untuk hutan murni menjaga mentah hasil bumi.

    Peperangan yang dengan memamerkan seluruh kekuatan persenjataan dari masing-masing batalion antara negara masih terus berlangsung, tidak terhentikan, di sini, badan perdamaian dunia seakan-akan; pensiun.

    *

    Agresi kali ini bukanlah buatan manusia. Tidak akan ada seorang pun yang sanggup membaca apa mereka akan selamat dan tetap hidup. Namun, perang telah terlaksana dan korban berjatuhan tanpa pernah adanya pemulihannya.

    “Matikan mesin, sekarang, IRGC membabi buta di Timut Tengah!”

    Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.