Cerita Setan (5) - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Imege Digital Grafis Koleksi Tasch 2022

Taufan S. Chandranegara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Juni 2022

Kamis, 22 September 2022 18:23 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Cerita Setan (5)

    Cerita Setan (5) Seri Lelembut Keramat. Cerita imaji tentang pohon keramat di tengah kemodernan. Salam baik saudaraku.

    Dibaca : 241 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Seri (5): Lelembut Keramat.

    Diduga. Pohon sawo kembar keramat itu, pusat para lelembut berpolitik saling kasakkusuk. Mengabulkan permintaan makhluk astral berbagai jenis, secara individu maupun kelompok, pemuja lelembut penghuni pohon itu. 

    Tampaknya, makhluk dunia lain macam itupun, perlu idola tempat meminta, mengadukan nasibnya sesuai citacita kefanaan, demi kelanggengan kemenangan, di arena persaingan kalangan, dari kelas ekonomi sederhana hingga miliuner.

    Lingkar pohon sawo kembar keramat, berdiameter masingmasing kurang lebih antara tiga sampai empat pelukan orang dewasa. Konon lebih mistik dari kemistikan apapun. Menjulang di antara bangunan supermodern. Tak satupun berani kutakkatik lahan itu. Bisa kena tulah turuntemurun. Wih! 

    Pohon sawo kembar keramat berdaun lebat, akarnya, saling melilit, menyembul ke atas dari permukaan tanah, beradu komposisi serupa sculpture contemporery art. Bersulur pohon purba, warna coklat hitam kemerahan menguning. Konon, makin menguning makin top, makin mistis, makin keramat, makin horor.

    Para makhluk astral, pemuja pohon keramat, berkunjung ke tempat itu, umumnya, minta pesugihan ingin cepat kaya, populer top of the pop, sekelas seleb dunia berikut berbagai hal,  dari kelas sederhana hingga pelik. Ada pula permintaan spesifik kelas ekstra v.v.i.p, makhluk khusus, biaya khusus pula. Bahaya.

    Permintaan makhluk tertentu, pemuja pohon sawo kembar itu, beragam ruparupa keinginan, antara lain, cepat dapat jodoh tercantik dikelasnya, jadi artis top. Ingin punya pabrik robot, usaha inovatif, bisnis super jualbeli petir. Ingin jadi tokoh penting, populer, bisa molos dari jeratan hukum, termasuk hukum alam, mudah mencuri jarak jauh, cepat naik pangkat. 

    Bagi makhluk pendatang baru, ingin membuka usaha ekspor impor angin lesus, juragan minyak awan all in one, aneka restoran cepatsaji, kebal peluru santet, jadi penguasa lahan supranatural, lulus jadi tuyul antarjurusan, jadi preman elite antarplanet. Punya jimat penakluk lawan, jadi jago tembak peluru santet, tak mempan rudal siluman, jadi makhluk kadal kece penghisap riba, serta lain sebagainya.

    Para makhluk tertentu lainnya lagi, juga pemuja pohon sawo kembar itu, senantiasa memberi kado kepada para lelembut penghuni pohon itu, prinsipnya, ingin hidup enak tanpa kerja keras, tak berkeringat, kemanapun pergi penyejuk udara melekat di kepala mereka.

    Keanehan lainnya, antara lain, jalanjalan naik pesawat ulangalik dari planet ke planet, membeli kapal induk kelas iblis, membeli peralatan perang tercanggih, hingga ingin punya mesin pembuat donat apel. Edun.

    **

    “Citacitamu mantap kali. Ya toh," kenes, makhluk blonde hair ke makhluk colorful hair. 

    “So pasti toh," colorful hair cengarcengir.

    “Tentu toh," kenes si blonde hair. 

    “Toh and toh. Kita tetap dijuluki makhluk. Meski harus menjadi katak sekalipun, toh,” si colorful hair, sembari monyong, lidahnya keluar masuk bibir lebarnya. 

    “Sekalipun tetap di dalam tempurung, toh,” si blonde hair, lebih kenes.  Keduanya saling berjabat tangan, berpelukan kiss and kiss kirikiri, kanankanan, mereka hidup di dunia kemodernan alien. Selesai bertukar cenderamata, keduanya mengucapkan salam saling sukses dibidang usaha masingmasing.

    “You, sudah menambahkan kado saku buat para lelembut, toh,” si blonde hair mengingatkan. 

    “Oh! Maaf, eke'k nyaris lupa dueh, and toh bisa cicilkan,” si colorful hair akting kagetan. Para lelembut di pohon sawo kembar itu cekikikan melihat ulah dua makhluk pemujanya, bisikbisik.

    “Belum kaya and top sekali, sudah mau purapura lupa, and dia toh,” lelembut lain menimpali.

    “Kelihatannya memang dia mencoba melawan ingat.”

    “Eehem! Kita rubah jadi ulat berbuludomba, iiif! Sok lupa ya toh,” suara lelembut berpostur pendek bulat agak lonjong kepala miring trapesium.

    “Kalau macammacam, kita kutuk dia jadi cacing lumpur saja,” lelembut berbadan kekar bermuka badak bertaring macan, mungkin dia itu raja lelembut, sembari garukgaruk telinga, menimpali. 

    “Kelihatannya si blonde hair itu lebih banyak permintaannya dibanding si colorful hair,” lelembut berlidah panjang berbuntut ular, berwajah kera, menyela. 

    “Iya. Aku perhatikan juga si blonde hair itu, tapi, dia setorannya lumayan, tak minta kembalian, hanya dia, minta jadi makhluk hollow gitu deh, saat bertugas mencuri di kantor bosnya, repot deh, bayar sedikit banyak permintaan.”

    **

    Para lelembut di negeri pohon sawo kembar kompak selalu, meningkatkan orientasi keuntungan sebanyak mungkin. Kekuasaan para lelembut itu, epidemi merebak hingga ke planetplanet lainnya. Semakin banyak manipulasi semakin bergelar banyak, dianugrahi gelar istimewa luar biasa. Serunya cerita dunia keastralan huruhara. 

    Bahkan, konon, para lelembut masih menyandera rudalrudal canggih milik negeri edun, karena kurang bayar di lintasan teritorial makhluk lelembut, dianggap melanggar norma aturan hukum makhluk lelembut, plus lagi, negeri edun itu, masih utang peti gratifikasi. 

    Dipercaya oleh makhluk tertentu, pemuja para lelembut itu, jika lelembut ngambek, bisa menyulap udara, menjadi gelombang api dahsyat seperti kembang api, bahkan bisa mengejar para pemuja seumur hidup, jika melanggar aturan, ketentuan, berlaku di dunia para lelembut tersebut.

    Terutama kalau nunggak iuran bulanan lebih dari satu kali, para lelembut 'kan marah. Terutama lagi, jika lupa meyertakan lisong kelas kakap untuk kado para lelembut itu. Nah tuh.

    Konon, pernah terjadi, hal kutukan itu. Beritanya menembus ke tingkat headline news kelas dunia versi canggih, akibat, seekor makhluk pemangku berpangkat tinggi dari negeri Tengkorak, lupa menyertakan lisong dimaksud, konon pula, kepala si pemangku berpangkat tinggi itu, mendadak berubah menjadi kecoa bercula tiga. 

    Diberitakan oleh media lelembut-pro, bahwa pemangku berpangkat tinggi itu bisa sembuh, asalkan pemangku berpangkat tinggi itu menyertakan bunga ganda dari tunggakan iuran bulanan, berupa bebek blasteran dari negeri tak berangin namun bersalju kebiruan, waduh, sulit kan. 

    Headline news itu, menjadi buah bibir publik di negeri lelembut sawo kembar hingga ke negeri seberang versiberagam, konon lagi, para lelembut percaya begitu saja, jadilah bencana gosip, meluas, hingga ke negeri para alien bertopeng hitam. Wuih!

    Bahkan, konon, sampai mengganggu stabilitas global alien lain, celakanya lagi, para lelembut itu acuh tak acuh saja, pada penderitaan alien lainnya, sekaligus alien dunia manapun. "Bodo'k amat," katanya. Sehingga, akhirnya, segala sektor mendadak diserang hama ulat berbulu panas, kemarau panjang, hingga mata air menjadi jelaga beku, hitam pekat.

    Tapi, bagi makhluk, tak percaya akan hal dunia ke.lelembut.an, nyatanya tak terjadi kutukan apapun, lucunya lagi, hanya terjadi bagi makhluk sangat percaya pada taktik, triktrik, menyoal kelelembutan saja. 

    Namun, konon akhirnya bencana gosip itu sirna, akibat diserbu bencana dingin global mengguncang negeri pohon sawo kembar. Itu konon loh. Namun, namanya juga dunia lelembut, tetap saja so'k ngejago, alias sombong-isme.

    Konon pula. Bentukbentuk isuisu, kerekayasaan, di negeri pohon sawo kembar itu, merupakan pengejawatahan menu seharihari, sarapan pagi, makan siang, makan sore. Kaum lelembut hobi bersaing lifestyle, dari baju wah, sepatu wih, jam tangan tralala, harga triliun, berakting seolaholah aktor pemeran penting, berjubah agung, padahal serigala berbulu beruang, berlomba. Makin hedonis tambah hebat, perkasa, gagahgagahan. 

    **

    “Kita lihat apakah si colorful hair, akan menambah kekurangan kado itu, plus bonus lisong impor.” Lelembut berbadan buaya, menimpali. 

    “Kalau si colorful hair,  itu berani pergi dari sini, tanpa bonus. Hm, aku jadikan dia lalat tak bermata.” Para lelembut memperhatikan gerakgerik si colorful hair, sertamerta pula mengeluarkan tambahan bonus, plus dua lisong impor kelas kakap. 

    “Wah! Boleh juga saham palsunya hihihi!” Suara si lelembut bak ringkikkuda di terkam singa. 

    “Jangan iseng. Biar saja, siapa tahu ditambah lagi, plusplus kuadrat,” suara lelembut berambut api, berlidah belatung, menggeliatgeliat selalu, di permukaan moncongnya. 

    “Sekadar meramal kekuatan finansialnya saja,” mata nanarnya menunggu gratifikasi. 

    **

    Mendadak berdentuman, berderakderak bak robot gigantik. Para lelembut itu kaget. Mereka kocarkacir, tungganglanggang, jungkirbalik, berlompatan, kecebur sungai tak jauh dari pohon sawo kembar itu, akibat saling dorong, terjadi saling injak, tergencet saling menggencet, sumpahserapah, hujat-menghujat. Uwow!

    Suara alatalat berat semakin banyak menderuderu. Terdengar suara teriakan manusia. Perintah, menebang pohon sawo kembar keramat itu. Tak ayal pula dong, kaum lelembut kabur ketakutan. Mesinmesin traktor raksasa, menjepit, mencabuti, memotong pohon hunian mereka.

    “Bongkar! Tumbangkan! Sampai akarakarnya! Sumbangkan ke pedagang kayu bakar. Pekerjaan wajib selesai secepatnya. Bongkar!”

    ***

    Jabodetabek Indonesia, September 22, 2022.

    Ikuti tulisan menarik Taufan S. Chandranegara lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.